-PART 27 (revisi)-

77.5K 3.2K 84
                                        

Semua mata kini tertuju pada meja Nayara. Ya, tentu saja karena Devan Alvaro Raditya juga berada disana.  Nayara tentu menyadari itu semua. Ia menghela napasnya mencoba meredam emosinya.

"Ngapain lo masih disini?" tanya Nayara dengan nada dingin tanpa menoleh ke arah Devan.

"Pengen aja. " balas Devan santai.

"Pergi!" titah Nayara datar.

"Gak."

"Jangan buat gue emosi, pergi!" ucap Nayara sambil menatap Devan tajam.

"Nggak mau. Kantin kan tempat umum, bukan punya lo."

"Devan. Alvaro. Raditya. Gue. Bilang. Pergi." ucap Nayara dengan penekanan di setiap katanya.

"Ara kenapa sih? Marah-marah terus." ucap Devan.

"Lo tanya kenapa? Ya jelas lo ganggu gue lah." ucap Nayara sengit.

"Kan Deva nggak ngapa-ngapain Ara."

"Bisa gk sih lo berhenti ngomong kayak gitu? Jijik!" ucap Nayara kesal.

"Ara, kok gitu sih?"

"Stop it! Don't call me Ara, my name is Nayara not Ara." ucap Nayara tegas.

"Nama lo emang Nayara tapi untuk gue lo itu Ara. Aranya Deva ya kan? Kalo ada Deva pasti ada Ara juga." ucap Devan.

Nayara kembali menghela napasnya jengah mendengar ucapan Devan. Sungguh Devan begitu menyebalkan baginya. Setelah pulang dari asrama sepertinya Devan menjadi gila.

"Pergi!" ucap Nayara lagi.

"Ara,"

"Gue bilang, jangan panggil gue Ara. Lo bisa ngerti bahasa gue nggak sih? Gue bilang, gue ini Nayara bukan Ara." ucap Nayara emosi.

"Nay,"  panggil Keysha berusaha menghentikan pertengkaran.

Nayara mengangkat tangan kirinya memberikan tanda agar Keysha diam. Nayara menatap tajam Devan penuh emosi, kebenciannya pada Devan belumlah padam. Rasa kecewa dan amarahnya membuat rasa cintanya tertutupi.

"Siapa yang lo panggil Ara? Gue? Cih! Nggak sudi gue. Ara? Siapa dia? Dia cuman cewek lemah yang nggak bisa lakuin apapun, itu Ara. Dan gue bukan Ara. Gue bukan cewek lemah kayak dia. Alvaro, inget baik-baik ya. Gue bukan Ara, gue Nayara. Jangan panggil gue dengan nama Ara, karena gue benci nama itu." lanjut Nayara penuh emosi dan penekanan.

"Gue cuma-"

"Cuma apa hah? Lo mau ganggu hidup gue lagi? Iya? Lo nggak puas ya udah hancurin hidup gue? Kurang? Hah? Mau lo apa lagi sih? Balas dendam gara-ga dimasukin ke asrama?" potong Nayara.

"Nggak. Bu-bukan gitu."

"Mending lo pergi sekarang, gue muak banget sama lo. pergi!" ucap Nayara datar.

Devan menghela napasnya, ia sadar ia telah sangat melukai Nayara hingga kini ia merasa kehilangan Nayara. Penyesalan memang selalu datang di akhir dan inilah yang harus ia tanggung.

"Oke, gue pergi." ucap Devan mengalah.

Nayara memejamkan matanya untuk menetralkan emosinya. Sungguh, ia sebenarnya tidak ingin bertindak seperti itu, ia hanya tidak ingin melihat Devan. Hatinya belum siap untuk ini. Kesalahan yang Devan lakukan itu bukan kesalahan kecil yang mudah untuk dilupakan.

*****

Devan pergi meninggalkan kantin dan memilih untuk pergi ke rooftop. Jujur saja, ia merindukan suasana rooftop sekolahnya ini. Suasana rooftop adalah yang paling menenangkan untuknya.

BABY KIARA (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang