Cowok itu sama sekali tidak bergerak. Matanya terpejam dengan tangan yang menutupi wajahnya. Bukan tidur, justru pikirannya bercabang memikirkan banyak hal.
Bayang-bayang kenangan bersama gadis yang ia sayang terus berkelebat di otaknya. Semua ingatan datang tanpa bisa dicegah. Seolah itu semua sudah direncanakan agar rasa bersalah semakin menghantuinya.
Dan memang, semua itu berhasil. Rasa bersalah dan penyesalan sangat terasa. Jika bisa, ia ingin berteriak, menghancurkan segala sesuatu yang ada disekitarnya, sebagai bentuk pelampiasan emosi atas kebodohannya.
Danu memang bodoh, ia sendiri tidak mengelak itu semua. Kenapa bisa ia sejahat ini pada gadis yang ia sayang? Dan lebih bodohnya lagi, kenapa ia baru sadar sekarang? Setelah gadis itu sekarat baru Danu menyadari semuanya kesalahannya.
Apa ada yang bisa membantu untuk menebas kepala Danu? Jika ada, Danu ingin meminta bantuannya, lalu meminta untuk mencucikan otak bejatnya sampai bersih, hingga kebodohan dan kelakuan bejat tidak ada lagi di otaknya.
"Nggak mau masuk?"
Danu menoleh, ia tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya.
Sejak Anya tidak sadarkan diri, Rano langsung membawanya ke rumah sakit. Ia juga menghubungi keluarga Anya dan tidak lupa Danu. Meskipun marah dengan cowok itu tapi Reno sadar jika Danu juga berhak mengetahui kondisi Anya yang sekarang.
Anya overdosis karena terlalu banyak mengonsumsi obat penenangnya, hal itu yang menyebabkan ia tidak sadarkan diri.
Kata dokter, tingkat kesadaran Anya cukup rendah namun tidak sampai di titik paling rendah hingga menyebabkan koma. Jadi, semua orang hanya bisa berharap agar Anya segera sadar. Mungkin bisa beberapa hari, tapi setidaknya Anya tidak sampai koma. Hal itu cukup melegakan bagi kedua orangtua Anya.
Dari kemarin Anya ada di rumah sakit, Danu belum menemuinya sama sekali. Cowok itu memang langsung datang ketika diberi kabar Reno. Napasnya pun sampai tersenggal-senggal sangking cepatnya ia membawa mobil dan berlari menuju tempat rawat Anya. Semua orang yang ada disana sangat tau sebagaimana khawatirnya cowok itu, pandangannya linglung, bahkan jika diperhatikan lebih dekat matanya berkaca-kaca.
Tapi anehnya cowok itu hanya berdiam diri, tidak mengatakan apapun. Saat dokter sudah keluar pun ia masih diam. Saat Anya sudah boleh dijenguk, ia juga tetap diam. Tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Tidak ada yang memaksa Danu masuk, karena pikiran orang-orang disitu hanya tertuju pada Anya. Seharian penuh Danu hanya duduk di kursi depan kamar rawat Anya, terhitung sampai pagi ini cowok itu juga masih tetap diam.
"Kenapa? Nggak pengen lihat kondisi Anya?"
"Keadannya gimana?"
Wanita itu menghelas napas pelan, "Belum sadar."
"Maaf, Mi. Ini semua salah Danu."
Bukannya marah, Nagita-Mami Anya malah membalasnya dengan senyuman tipis, "Gak ada yang perlu disalahin. Semuanya udah kejadian."
"Danu yang udah buat Anya sampai nekat gini. Kalau Danu gak jahat, Anya gak mungkin sampai overdosis obat." Terang Danu lirih.
Nagita mengusap bahu Danu, ia tidak tau apa masalah kedua pasangan itu. Tapi dari penjelasan singkat Danu, Nagita bisa menyimpulkan jika keadaan mereka tidak baik-baik saja. Dari awal, ia juga sudah memikirkan itu. Tidak mungkin anaknya tiba-tiba nekat jika tidak sedang ada masalah.
Tapi Nagita juga tidak bisa marah sepihak, ia tidak mungkin langsung menyalahkan Danu tanpa tau masalah yang sebenarnya. Danu sudah ia anggap anak, oleh karena itu ia mempercayakan Anya pada Danu.
"Anya sudah lama mengonsumsi obat itu."
Danu menoleh kearah Nagita, menunggu kelanjutan dari wanita yang sudah seperti orangtuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love is not over [Completed]
Fiksi RemajaRevanya Billa Giralda Danuarta Alfabian Maxston Ketika cinta yang dibangun sekian lama harus runtuh karena rasa bosan yang menghampiri salah satu pasangan. Ketika rasa bosan yang mampu merubah pemikiran orang. Ketika rasa bosan yang mendominasi hati...
![Love is not over [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/178379185-64-k251495.jpg)