21. Membela siapa?

1.1K 125 8
                                        

Anya masuk ke dalam lagi, ia langsung menajamkan mata untuk mencari Danu.

Anya tersenyum senang ketika menemukan Danu. Danu sedang duduk berkumpul bersama panitia lain, dan yang pasti banyak kating disana. Tanpa ragu dia langsung menghampiri Danu.

Tunggu, Anya baru sadar. Ternyata banyak perempuan disini.

Oh ada Lisa juga.

"Danu," panggil Anya dengan menepuk bahu Danu.

Danu menoleh, wajah yang tadinya tersenyum kini berubah datar.

Masih marah toh, pikir Anya.

"Ikut gue bentar." Pinta Anya.

"Ngapain?" Tanya Danu ketus.

"Ikut dulu makanya."

"Ngomong sini aja."

Anya mendengus, "Ikut bentar doang kenapa sih?" Kesal Anya.

Semua mata panitia yang duduk bersama Danu langsung mengarah kepada Anya. Mereka menatap Anya dengan pandangan berbeda-beda.

"Ikutin aja lah, Dan. Daripada cewek lo mewek disini." Ucap salah satu orang disitu.

Anya menatap orang itu sinis, tidak suka dengan ucapannya.

"Ngomong disini, cepetan. Gue mager. Males jalan." Ucap Danu.

"Punya kaki itu buat jalan. Bukan males-malesan." Ketus Anya.

"Nyanyi doang bagus. Kalau gini cerewetnya amit-amit." Ejek salah satu cewek. Suara itu pelan tapi Anya masih mampu mendengar jelas. Telinganya masih berfungsi dengan baik.

"Mulut buat ngomong. Cerewet gak masalah. Daripada bisik-bisik. Mulutnya gaada nyali buat ngomong apa gimana?" Balas Anya mencibir.

Jika cewek disana menatap Anya tidak suka, berbeda dengan para cowok. Mereka menatap Anya kagum, suka dengan gayanya yang ceplas-ceplos.

Danu menatap Anya tidak suka, "Ngomong aja. Gausah cari ribut."

"Dan, jangan gitu sama Anya." Peringat Lisa.

Anya mengernyitkan dahi. Menatap Danu tidak percaya. Jadi, Danu tidak membelanya? Miris juga.

"Ngomong tuh sama kaki!" Ketus Anya langsung meninggalkan Danu.

Anya berjalan dengan kesal, dia langsung keluar gedung. Pusing yang tadinya hilang sekarang muncul lagi. Ditambah keringat yang sangat banyak. Anya memilih duduk terlebih dahulu, untungnya disana ada kursi.

Dia tidak mampu melanjutkan jalannya. Jantungnya berdetak cepat membuat tangan dan kakinya sedikit bergetar. Bukan kram, ini lebih dari itu. Anya menghembuskan nafas pelan, berusaha menormalkan detak jantungnya.

Dia kembali mengambil botol kecil di tasnya, mengeluarkan pil kecil lalu meminumnya. Terpaksa. Seharusnya cukup sekali dia minum itu di taman tadi. Dia tidak mau bergantung pada obat ini lagi. Tapi ternyata, dia masih butuh obatnya.

Anya menekan dadanya, berharap jantungnya segera berdetak dengan normal. Dia tidak suka keadaannya yang seperti ini. Dia benci. Sungguh.

Revanya : Gue pulang.

Akhirnya Anya bisa mengetik itu lalu mengirimnya pada Danu.

Sementara Danu, langsung membuka HP nya ketika benda tipis itu bergetar. Ia menatap pesan itu kesal. Tanpa pamit dia langsung pergi, tidak peduli dengan teriakan teman-temannya yang bingung kenapa dia langsung pergi.

Love is not over [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang