29. Keputusan terbodoh

1.6K 134 16
                                        

Anya tersentak ketika pintu terbuka dengan kasar. Disana, cowok yang menjadi beban pikirannya berdiri dengan nafas ngos-ngosan. Danu, cowok itu langsung berlari ke ranjang Anya, matanya mengisyaratkan betapa khawatirnya dia.

"Kenapa bisa masuk rumah sakit?" Tanya Danu langsung, bahkan nafas nya masih ngos-ngosan.

"Nafas dulu Danu." Peringat Anya.

"Aku nggak peduli. Yang penting sekarang itu kamu, kanapa bisa sampe masuk rumah sakit?" Tanya Danu mengulang pertanyaan yang awal.

Reno yang tadinya duduk di sofa dekat ranjang Anya memilih keluar. Ia cukup tau diri untuk memberikan ruang agar dua pasangan itu lebih leluasa berbicara. Sedangkan Farid, memang sudah pergi dari tadi, karena mengurus absen Anya dan Reno di kampus.

Anya tersenyum tipis, "Cuma kecapean. Makanya sampe pingsan."

"Beneran? Gaada masalah lain?"

Anya mengangguk, "Tanya Reno aja kalo nggak percaya. Tadi dia yang dengerin ucapan dokter."

Danu menghela nafas lega, ia menarik kursi yang ada di dekat ranjang Anya lalu mendudukinya. "Maaf baru datang, hp nya aku silent. Setelah kelas baru cek hp, terus lihat chat dari Reno aku langsung ngebut kesini."

"Lain kali jangan ngebut. Kalo ada apa-apa dijalan gimana?"

"Jangan khawatirin aku. Khawatirin diri kamu sendiri, jangan sampe masuk rumah sakit lagi." Dengus Danu. Sedikit kesal karena Anya malah mengkhawatirkan dirinya. Padahal keadaannya sendiri sedang sakit.

"Siapa sih yang mau masuk rumah sakit terus?" Kekeh Anya.

Danu mendengus, tangannya mengusap pipi Anya. "Maaf juga karena aku gaada waktu kamu butuh. Harusnya tadi aku sama kamu, jadi bisa nolongin pas kamu pingsan."

"Gapapa. Lagian gaada yang tau, apa aja yang bakal terjadi selanjutnya."

Kedua manusia itu sama-sama terdiam. Danu yang masih memperhatikan Anya dengan khawatir. Sedangkan Anya, pikirannya kalut tidak tau ingin berbuat apa. Rasanya ia ingin marah, minimal melontarkan satu kata kasar kepada Danu. Tapi tidak bisa.

"Danu.." Panggil Anya setelah lana terdiam.

"Kenapa? Ada yang sakit?" Danu menempelkan tangannya di dahi Anya, lalu mengusapnya lembut.

Anya menggeleng, "Boleh minta sesuatu?"

Danu mengangguk, "Minta aja, pasti aku turutin."

Anya terdiam sebentar, tapi matanya terus menatap tepat di mata Danu. "Kiss me..."

"Hm?" Gumam Danu. Sedikit tidak yakin dengan apa yang baru didengar.

"Kiss me, Danu..." Pinta Anya sekali lagi.

Awalnya Danu bingung ingin bereaksi seperti apa. Bukan, ia bukannya tidak mau mencium Anya, ia malah senang dengan permintaan gadisnya ini. Ia hanya bingung, kenapa Anya tiba-tiba meminta itu?

Masih dengan rasa bingungnya, ia mulai berdiri. Membungkukan badan agar wajahnya dapat mendekat kearah Anya. Danu menunduk sampai akhirnya bibir keduanya bertemu. Danu tidak menggerakannya, bibir mereka hanya menempel saja.

Tiba-tiba Danu sedikit tersentak ketika Anya mengalungkan tangannya dileher Danu. Seolah menarik cowok itu agar lebih dekat dengannya. Anya yang memulai ini semua. Ia yang mengawali untuk menggerakkan bibirnya, sampai akhirnya Danu mengikuti. Sekarang Danu sudah melupakan rasa bingungnya, ia mengarahkan tangannya agar memegang kepala Anya, untuk memperdalam ciumannya. Ia sudah terbuai, ia terus melumat bibir Anya.

Love is not over [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang