23. Stop saying sorry

1.2K 125 20
                                        

Danu membuka pintu kamar dan mendapati seorang gadis yang tertidur pulas, dengan selimut yang menggulung tubuhnya.

Danu berjalan mendekat, masih dengan tubuh sempoyongan. Dia duduk di sebelah gadis itu, tersenyum kecil ketika melihat wajah tenang gadisnya. Tapi, ada yang Danu sadari. Wajah itu tidak sepenuhnya tenang. Ada banyak guratan kecil di dahinya, seperti sedang berpikir keras. Gadisnya tidak tidur dengan nyenyak, seperti mimpi buruk atau ada hal yang memang membuat tidurnya tidak tenang.

Apa kerena dirinya?

Tangan Danu bergerak mengusap kepala gadisnya agar lebih tenang, lalu menyingkirkan rambut-rambut kecil yang menutupi wajah cantiknya. Dia menidurkan tubuhnya tepat disamping Anya, ikut masuk ke dalam selimut lalu memeluk tubuh itu dengan sayang. Danu memejamkan mata, menikmati kehangatan tubuh Anya, dia sangat suka dengan bau tubuh Anya.

Pelukan Danu semakin erat, membuat tubuh yang sedang dipeluknya menggeliat.

Anya mengerjabkan mata ketika merasakan beban berat di perutnya. Ia meraba benda apa yang menimpa perutnya. Anya langsung menoleh kebelakang ketika tau ternyata ada tangan yang memeluknya.

"Danu?" Panggil Anya. Anya menepuk pipi Danu agar cowok itu membuka matanya.

"Hm?" Gumam Danu.

Anya merenggangkan pelukannya, lalu membalikkan badan agar berhadapan dengan Danu.

"Buka matanya." Ucap Anya, masih dengan menepuk pipi Danu.

Anya mengernyit ketika mencium bau aneh di dekatnya. Ia langsung mendekatkan wajah ke tubuh Danu, mengendus bau badan cowok itu.

Anya mendudukan badannya ketika tau bau apa ini. Ia bukan anak polos yang tidak mengerti dengan bau ini, meskipun tidak pernah merasakan tapi dia pernah mencium bau seperti ini.

"Danu, bangun." Ucapan tegas bernada dingin itu langsung mampu membuat Danu mengerjabkan mata.

Cowok itu berusaha meraih kesadaran, pusing di kepalanya kembali datang, ketika ia merubah posisi menjadi duduk.

"Lo minum?" Tanya Anya langsung. "Sejak kapan?" Tanyanya lagi. Terlalu lama jika harus menunggu jawaban Danu. Tanpa di tanya pun, sudah jelas jika Danu sedang berurusan dengan alkohol. Yang sangat penting untuk dipertanyakan adalah, sejak kapan cowok itu mulai menyentuh barang yang pernah dilarang Anya?

Anya jengah, ketika Danu hanya diam. Wajah bingung cowok itu membuat Anya ingin memberikan satu tamparan. Tangannya sudah gatal ingin melakukan itu. Anya sangat benci Danu yang seperti ini. Anya tidak pernah mengenal Danu yang sekarang.

Danu memang berandal, suka buat onar. Otaknya masih suka melakukan hal-hal tidak bermanfaat, asalkan menyenangkan. Tapi, Anya pikir Danu bisa membedakan mana yang baik untuk cowok itu dan mana yang tidak. Anya pikir Danu akan menuruti larangannya. Anya tidak peduli jika Danu hobi menjahili orang, tidak taat aturan atau semacamnya, karena itu masih batas wajar. Anya hanya tidak suka, kalo Danu melakukan hal yang dapat merusak tubuhnya.

Anya membuang nafas kasar. Bersyukurlah karena emosi di kepalanya masih bisa ditahan. Ia mengambil air putih yang selalu disiapkan di nakas, lalu menyerahkan kepada Danu. "Minum." Suruhnya.

Danu menurut, "Makasih." Ucap Danu pelan setelah menghabiskan satu gelas air.

Kesadaran Danu sepertinya mulai kembali. Otaknya sudah bisa menangkap bagimana suasana sekarang. Meskipun matanya terlihat merah, khas orang mabuk, tapi ia bisa melihat wajah Anya yang hm entahlah. Banyak ekspresi yang Danu tangkap, sedih, marah, dan kecewa?

"Anya.." pangil Danu pelan ketika Anya hanya diam memandangnya.

"Sejak kapan?" Tanya Anya, mengulang pertanyaan sebelumnya.

Love is not over [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang