Marahnya setiap orang berbeda. Apalagi cewek, banyak hal yang dilakukan untuk mengungkapkan kemarahan. Seperti mencaci orang sampai puas, ngomel sendiri, bahkan ada yang lebih suka diam.
Anya contohnya, gadis itu terus saja diam. Tidak berbicara sama sekali, membuat Danu gusar sendiri.
Terkutuklah hari senin ini, karena jadwal kuliah. Kalau bisa ditukar, Danu ingin menukar hari ini menjadi hari minggu. Agar ia bisa berduaan dengan Anya, membicarakan semua masalah sampai tuntas.
Setelah perdebatan kemarin pagi di meja makan, Anya terus saja diam. Enggan berbicara, menatap Danu saja malas. Sedangkan Danu, cowok itu sudah berusaha mengajak ngobrol, menjahili Anya seperti biasa, dan hal-hal lain yang bisa memancing gadis itu agar mau membuka suara. Tapi hasilnya tetap nihil.
Jika ada yang berpikir, orang diam ketika marah itu lebih baik. Mereka salah. Justru diamnya orang marah lebih menakutkan.
"Nanti ada tugas yang harus diselesaiin. Tinggal aja gapapa, gue bisa naik taksi." Ucap Anya untuk pertama kalinya setelah lama terdiam.
"Gue tungguin, entar telfon aja kalau udah selesai."
"Terserah." Balas Anya. Cewek itu langsung membuka pintu mobil lalu keluar meninggalkan Danu yang menghela nafas pasrah. Danu segera keluar agar bisa mengikuti Anya. Cowok itu mensejajarkan posisinya tepat di sebelah Anya.
"Buru-buru amat. Morning kiss dulu gak bisa apa?" Cetus Danu.
Anya tidak menggubris, ia tetap berjalan tanpa memperdulikan keberadaan Danu.
"Yang, elah masih marah aja. Kan udah minta maaf." Rengek Danu.
"Berisik. Masih pagi, belum pernah lihat singa ngamuk?" Balas Anya ketus. Ia lelah sendiri mendengar ocehan Danu.
Bukannya berhenti mengoceh, Danu justru terkekeh geli. "Mau dong lihat singa ngamuk." Ucapnya. Wajah cowok itu menoleh kesamping agar bisa menatap kekasihnya.
"Apasih lihat-lihat! Gue cakar juga tuh muka!" Kesal Anya. Tangannya terangkat, seperti ingi mencakar wajah Danu.
"Jangan ah. Entar muka gue gak ganteng lagi, kasian lo nya masa dapet cowok jelek."
"Dasarnya jelek. Gak usah ngaku-ngaku ganteng."
Danu terkekeh lagi. Ia senang dengan ekspresi kesal Anya, dan ia juga senang karena Anya sudah mau meladeni ucapannya. Satu hal yang Danu yakini, gadis itu pasti lupa jika seharusnya ia mengabaikan cowok yang baru kemarin membuat kesalahan, bukan malah meladeni gurauannya.
Danu memegang kedua tangan Anya, "Ini tangan nggak boleh digunain buat hal nggak bener. Tangan Mama dari calon anak-anaknya Danu nggak boleh sampai kotor, harus bersih biar tetep cantik." Ucap Danu lembut, dengan senyuman yang membuat cewek mana saja sesak nafas.
Jujur, Anya ingin berteriak kegirangan. Hatinya menghangat sekaligus bahagia mendengar ucapan Danu, bahkan ia yakin jika kini pipinya sedang merona malu. Lemah memang, padahal udah sering digombalin sama buaya ini tapi tetap saja selalu blushing.
"Cieee blushing. Gemesss, pengen cepet halalin." Kekeh Danu sambil mencubit kedua pipi Anya.
Sementara Anya yang diperlakukan seperti itu, hanya mengerucutkan bibir kesal. Tidak tau ingin membalas apa, mau marah juga percuma karena hal itu tidak akan bisa menyembunyikan pipinya yang merona.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love is not over [Completed]
Novela JuvenilRevanya Billa Giralda Danuarta Alfabian Maxston Ketika cinta yang dibangun sekian lama harus runtuh karena rasa bosan yang menghampiri salah satu pasangan. Ketika rasa bosan yang mampu merubah pemikiran orang. Ketika rasa bosan yang mendominasi hati...
![Love is not over [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/178379185-64-k251495.jpg)