Part 42

3.4K 205 7
                                        

Hari ini shani dan gracia sedang menyiapkan segala sesuatu nya untuk pernikahan mereka yang akan dilaksanakan tinggal beberapa hari lagi.

"Sayang, gaun pengantin kamu udah pas atau belum?" Tanya shani pada gracia yang sedang berdiri di depan cermin bersama gaun putih yang sedang gracia pakai

"Udah kok kak, cantik kan aku?"

Shani tersenyum

"Kamu tuh selalu cantik, gak pernah jelek" Puji shani yang membuat gracia tersipu malu mendengar nya.

"Yaudah, kalo gitu aku ke mama dulu ya kak"

Shani mengangguk, setelah itu shani menghampiri viny yang berdiam diri di depan jendela butik sejak tadi.

"Kak viny" Panggil Shani

"Y-ya shan, ada apa?"

"Sini duduk" Ajak Shani sambil menarik viny ke sofa

Kedua nya kini duduk bersama, Shani bisa melihat dengan jelas kalau kakak angkat nya itu masih terlihat sedih atas kepergian Mario yang dipecat sekaligus diusir oleh sang papi seminggu yang lalu.

"Kalo liat Kak viny kaya gini terus, apa aku batalin aja ya pernikahan aku sama gracia" Kata shani, yang membuat viny kaget mendengarnya

"Heh, jangan ngaco deh kamu. Aku sedih itu urusan aku, jangan bawa-bawa pernikahan kalian!" Omel viny

"Ya habis nya kak viny sedih terus, aku kan jadi gak enak sama kakak. Masa aku nya senang-senang di atas penderitaan kakak aku sendiri" Ucap shani sedih

Viny membawa shani ke dalam pelukannya, mengusap lembut punggung shani.

"Aku gpp shan, kamu gak usah terlalu mikirin aku. Pikirin kebahagiaan kamu sama gracia. Maaf ya, aku udah buat kamu sedih kaya gini. Aku.... Huekkk" Tiba-tiba shani merasa mual

"Kak, kamu gpp?"

"G-gapapa shan, ak-- hueekkk" Lagi-lagi viny kembali mual

Shani segera memanggil Shania, tapi viny melarangnya.

"Jangan, plis jangan panggil mama" Mohon viny

"Emang kenapa kak? Biar mama tau" Kata shani, tapi viny terus melarangnya

"Gak usah, aku mau ke kamar mandi aja. Kaya nya aku masuk angin deh"

Viny lantas langsung pergi ke toilet yang ada di butik itu.

"Shan, viny mana?" Tanya shania

"Kak viny lagi di toilet ma"

"Oh gitu, yaudah mama susul dia dulu ya"

Shani mengangguk

Setelah kepergian Shania yang menyusul viny ke toilet. Shani menghampiri gracia yang masih sibuk dengan gaun pengantin mereka.

"Cia"

"Ya kak"

"Sebelum kita berangkat ke Jerman, besok kita ke makam mami ku dulu ya. Aku kangen dia" Kata Shani

"Anak-anak diajak atau gak?" Tanya gracia dan Shani menggelengkan kepala

"Mereka kan sekolah sayang, jadi besok kita berdua aja ya"

"Yaudah deh kalo emang kaya gitu"

Setelah itu tidak ada obrolan lagi, Shani kembali diam sambil memperhatikan gracia.

Sementara Shania yang menyusul viny ke toilet tampak khawatir melihat anak angkatnya itu mual-mual.

"Sayang, kita ke dokter aja ya" Saran Shania pada viny. Dan viny pun menuruti ajakan ibu angkat nya itu.

*

"Bagaimana dok, apakah anak saya baik-baik saja?" Tanya Shania yang saat ini sudah berada di rumah sakit setelah pulang dari butik bersama viny saja. Sedangkan Shani dan gracia pergi menjemput anak-anak di sekolah.

"Selamat, anak ibu sedang hamil" Ucap dokter yang diketahui bernama Arnold pada Shania

"H-hamil?"

"Iya, anak ibu baik-baik saja dan bahkan dia sedang hamil sekarang"

Shania yang mendengar viny hamil tentu saja sangat kaget. Begitu pun dengan viny sendiri yang mengetahui diri nya saat ini sedang hamil.

Melihat viny yang keluar begitu saja dari ruang dokter Arnold. Shania segera menyusulnya setelah berpamitan pada dokter Arnold.

Sesampainya di luar, shania melihat viny sedang duduk dan tertunduk.

"Sayang" Panggil shania sambil membelai rambut pendek viny

"Ma, maafin viny" Tangis nya pecah di pelukan shania

"Apa itu anak nya Mario, vin?" Tanya Shania dan viny mengangguk

"Kalau gitu kita harus cari Mario, dia harus tanggung jawab sama anak mama yang satu ini" Kata Shania

"Tapi ma, gimana sama papi? Papi pasti marah banget sama aku. Apalagi kalau sampai papi tau aku hamil anak Mario" Ucap viny yang membuat Shania bingung sendiri harus menjawab apa

"Soal itu nanti kita pikirkan lagi. Lebih baik sekarang kita pulang dulu ya"

Viny mengangguk, lalu kedua nya kini sudah meninggalkan rumah sakit.

Setibanya Shania dan viny di rumah, Shania menyuruh viny untuk istirahat. Tapi sebelum viny pergi ke kamar nya, ia berpesan kepada Shania untuk merahasiakan kehamilannya sampai acara pernikahan shani dan gracia berjalan lancar.

Setelah itu Shania sendiri pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.

Sementara shani dan gracia kini sudah dalam perjalanan pulang ke rumah setelah menjemput anak-anak mereka.

Tapi, sepanjang jalan pulang. Christy dan Mutia tidak henti-henti nya membuat keributan di dalam mobil.

"Pokoknya, nanti kalo mami ku sama mama kamu udah nikah. Kita tinggalnya di rumah aku aja, titik!"

"Enggak bisa gitu dong muthe, kita tinggalnya tetep di rumah Bubi. Iya kan ma?" Tanya Christy pada gracia untuk meminta persetujuan

Gracia yang ditanya seperti itu malah melirik ke arah shani yang sedang fokus menyetir.

"Enak aja! Gak bisa, pokoknya di rumah mami aku!"

"Yaudah, kalo gitu mama aku sama mami kamu gak usah jadi nikah aja deh!" Kesal Christy yang membuat shani langsung ngerem mendadak

"Christy!"

"Maaf ma"

Christy tertunduk takut ketika mendengar suara gracia yang memanggil namanya dengan nada meninggi, dan itu benar-benar membuat Christy takut.

Tak lama terdengar suara tangisan dari Christy, membuat Mutia merasa bersalah.

"Kripsi jangan nangis" Kata Mutia sambil mengelap air mata Christy dengan jari-jari nya

"Yaudah deh, nanti kita tinggalnya di rumah Bubi kamu aja"

"Yang bener?"

Mutia mengangguk lucu

"Tapi kamu janji jangan nangis lagi" Kata Mutia

"Iya, aku janji gak akan nangis lagi. Makasih ya muthe" Christy memeluk Mutia

"Hemm, sama-sama" Balas Mutia sambil tersenyum di balik pelukan Christy

Mutia janji sama papi, Mutia akan bahagiakan mami seperti yang papi minta ke Mutia dan kak eli. Meskipun Mutia harus mengalah. Batin si gadis yang terkenal dengan kecentilannya itu

⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩⏩

Btw, foto di atas gimana gaes?? Wkwk

Please, come back to me! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang