Setelah membuka helmnya, Zafarel tersenyum kepadaku. Dia Menyuruhku duduk di jok belakanganya dengan matanya itu.
Tetapi aku tidak menuruti permintaannya. Aku masih berdiri dan masih mencari keberadaan pak Harto.
"Ra.. ayok naik!"
"Lo duluan aja. Gue dijemput kok."
Aku menggelengkan kepalaku dan menyuruhnya untuk pergi.
Tetapi bukannya menuruti perkataanku, dia malah masih diam ditempat tanpa mau pergi.
"Lo kenapa sih Ara? Gue ada salah apa sama lo?" Zafarel menatapku dengan pandangan seriusnya.
"Enggak kok."
"Ya udah kalau gitu ayo naik! Biar gue antar."
Aku menghela nafas panjang. Tidak bisa lagi menolak ajakannya itu. Lebih tepatnya alasanku sudah habis untuk menolak ajakannya itu.
Aku pun berjalan dan naik ke jok belakangnya. Memegang sedikit ujung jaket yang dia gunakan.
"Gitu dong. Kalau lo nurut kan jadi gak ribet gini."
"Udah langsung jalan!!"
Aku menepuk pundaknya sedikit keras untuk menyuruhnya jalan.
Dengan kekehan kecil, dia menjalankan motornya dan pergi meninggalkan lingkungan sekolah.
---
Zafarel tersenyum ketika aku sudah turun dari motor tetapi masih memasang wajah kesalku.
"Lo ada maksud apa sampai mau ngantar gue pulang gini?"
Sekali lagi, Zafarel tertawa mendengar perkataan ku.
"Lo tau aja kalau gue ada maksud."
"Ya iyalah! Jaman sekarang mana ada yang namanya gratisan."
"Gue cuman mau minta tolong untuk jaga Intan."
Aku mengernyitkan keningku. Tidak mengerti maksud 'jaga' yang dimaksud oleh Zafarel.
"Maksud Lo apa? Gue harus jaga Intan Lo itu 24 jam gitu?"
Zafarel kembali tertawa mendengar perkataan ku.
"Bukan gitu maksudnya.. Lo kan tau Intan murid baru. Pastinya dia masih belum banyak teman-teman.. jadi gue minta bantuan Lo untuk jadi temannya dan jaga Intan. Enggak salah kan?"
Aku menatap sinis kepada Zafarel. Mana mungkin aku bisa akrab dengan musuhku.
"Mana mungkin gue berteman sama musuh sendiri."
"Maksud Lo musuh?"
Dapat kulihat Zafarel mengerutkan dahinya. Dia sedikit bingung dengan kata 'musuh' yang ku ucap.
"Ya musuh.. Lo suka kan sama dia? Karena itu dia musuh gue."
"Gue gak ngerti maksud Lo."
Aku menghela napas panjang melihat kebodohan Zafarel.
"Gue itu suka sama Lo! Ya gak mungkin lah gue jaga orang yang Lo sukai. Itu sama aja buat hati gue sakit."
Zafarel masih mencerna semua perkataanku. Aku tersenyum melihat muka berpikirnya itu. Aku tidak tau kenapa bisa menyukai seseorang sepertinya. Sangat lemot.
"Udah lah.. makasih udah nganter gue pulang. Hati-hati dijalan Zaf.."
Aku tersenyum manis kepadanya dan langsung masuk ke dalam rumah.
Tidak lama kemudian, aku mendengar suara deru motor yang pergi menjauh dari perkarangan rumahku.
---
Aku berjalan gontai menuju lapangan.
Aku kembali datang terlalu cepat hari ini. Karena takut berada di kelas, lebih baik aku menunggu disini. Aku duduk dan kembali mengeluarkan alat menggambarku. Aku tidak perduli lagi dengan sekelilingku. Hanya menikmati angin dan mengerjakan gambaran ku kali ini.
Aku juga tidak tau menggambar apa. Hanya coretan yang tidak tau akan menjadi apa nantinya.
"Gambar apa kali ini?"
Aku sedikit tersentak mendengar pertanyaan yang tidak tau dari siapa.
Dengan perlahan aku menoleh dan mendapati Zafarel menuju ke arahku.
"Bukan apa-apa."
Aku kembali melanjutkan gambaran ku. Padahal aku berharap untuk tidak bertemu dengannya hari ini. Tetapi pagi hariku diawali dengan kedatangannya.
"Gambar gue dong Ra!"
"Malas."
"Cepetan dong.. gue lagi mau digambar nih. Jarang-jarang gue mau tanpa disuruh."
Aku menghentikan gambarku dan melihat kearahnya. Dia sangat mengangguku. Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.
"Lo mau ganggu gue ya? Gue lagi malas ladenin Lo."
"Lo kenapa sih Ra? Karena masalah semalam?"
Aku langsung membesarkan bola mataku. Dia pasti akan mengungkit ketika aku mengatakan perasaanku padanya secara tidak langsung.
Tanpa sadar aku mulai deg-degan. Aku sangat malu jika mendengarnya langsung darinya. Semalam aku sangat bodoh. Aku tidak bisa memendam kekesalanku kepadanya.
"Ma.. maksud Lo?"
"Ya.. masalah semalam."
"Gak usah diingat. Gak penting juga."
"Oke.. gue enggak akan minta tolong untuk jagain Intan, gue janji. Jadi Lo jangan kesel gini dong."
Aku kembali melebarkan mataku. Kupikir dia ingin membahas tentang perkataanku kepadanya. Ternyata dia membahas tentang hal lain.
Aku akhirnya bisa bernapas lega.
"Gue juga enggak mau jagain dia kok."
"Ya udah jangan ngacangin gue gini dong!"
Dia mengacak rambutku dengan gemas. Bahkan ada kekehan yang aku dengar keluar dari mulutnya.
Aku langsung menghempaskan tangannya. Tetapi tanpa sadar aku menyungkirkan senyuman. Aku juga tidak tau kenapa. Tetapi kali ini aku merasa, aku berhasil membuatnya semakin dekat denganku.
---
Hai-hai.. gimana part hari ini gesss??
Jangan lupa kasih bintang, komentar dan tambahin AbZa ke reading list kalian..
Dan juga jangan lupa pollow aku ya..
See you guys..😘
Medan, 10 Februari 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
ABZA [END]
Teen FictionArabella menatap Zafarel.. menatap teduhnya pria itu saat dia tertidur. Arabella selalu berharap dia bisa masuk kedalam mimpi pria tersebut. Dia menyentuh hidung mancung Zafarel. Mendekatkan bibirnya ke telinga Zafarel dan membisikan kalimat yang s...
![ABZA [END]](https://img.wattpad.com/cover/164922328-64-k864392.jpg)