Aku berjalan dengan langkah biasa. Hari ini suasana hatiku sedikit baik. Lebih baik dari kemarin. Saat ini aku aku berjalan menuju lapangan basket. Dengan tujuan mengembalikkan jaket Zafarel.
Aku tau jika Zafarel sudah datang. Tadi aku melihat motornya di parkiran. Jika dia tidak ada di lapangan, aku akan mencarinya di kelasnya. Tapi entah kenapa tujuan awal ku pergi ke sini.
Kadang kita harus mengikuti feeling. Jadi aku memilih untuk mengecek lapangan. Saat aku teringat tentang kejadian kemarin. Saat Zafarel memberikan jaket ini kepadaku, aku kembali tersenyum.
Tetapi senyumanku lenyap. Senyuman yang tadi aku pancarkan lenyap ketika aku melihat adegan itu di depan mataku. Aku tidak bisa melangkah mendekat ke arah mereka. Rasanya sangat berat.
Aku melihat Zafarel dan Intan di situ. Melihat Zafarel yang tersenyum kepada Intan dan mengusap pipi perempuan itu. Senyuman itu, senyuman yang sangat ingin aku lihat di wajahnya. Sekarang aku melihat senyuman itu. Tetapi bukan untukku. Sekali lagi aku sakit. Aku terlalu jatuh dalam perasaan yang bahkan tidak membalas ku.
"Ara?"
Aku kembali ke dunia nyata ketika Zafarel memanggil namaku. Dengan langkah yang berat aku berjalan menghampiri mereka.
"Hai Ra." Intan tersenyum dan menyapaku. Aku hanya membalas dengan senyuman tipis.
"Ada apa?" Tanya Zafarel kepada ku.
"Gue mau balikin jaket lo. Udah gue cuci."
Aku memberikan jaket yang tadi ku pegang kepadanya.
Zafarel mengambil jaket itu dari tanganku.
"Kenapa jaket Zafarel ada sama lo?" Aku menoleh ke arah Intan yang sedang menatap jaket itu dengan dalam.
"Lo jangan salah paham. Kemarin Zafarel nganter gue pulang dan Zafarel ngasih jaketnya ke gue karena gue kedinginan." Ucapku memperjelas keadaan.
Mendengar perkataanku Zafarel tertawa.
"Lo gak perlu menjelaskan sedetail itu kali Ra."
Aku dan Intan menatap Zafarel diam. Tidak tau kenapa Zafarel berkata seperti itu.
"Iya. Lo gak perlu menjelaskan sedetail itu Ra, sama gue." Sekarang aku malah menatap Intan tak enak. Aku tau jika dia sedikit tersinggung dengan perkataan Zafarel.
"Gue cum--"
"Kalau gitu, gue duluan balik ke kelas ya. Kalian lanjutin aja." Ucap Intan sambil tersenyum dan berjalan menjauh dari aku dan Zafarel.
Aku dan Zafarel menatap kepergian Intan hingga tubuhnya tidak terlihat lagi.
"Dia kok tumben ada di sini?" Tanyaku kepada Zafarel.
"Oh.. dia tadi mau ngajak gue ke rumahnya. Ada acara gitu."
Aku menganggukkan kepalaku. Tanda mengerti.
"Dan lo terima ajakan nya?"
"Iya. Gue juga udah lama enggak ketemu sama mama nya. Dan gue kepengin lihat ayah barunya. Katanya ayahnya baik. Jadi gu--"
"Gue duluan ya Zaf.."
Aku memotong perkataanya dan berjalan menjauh darinya. Aku tidak tahan mendengar perkataan Zafarel yang menyebut Ayah Intan. Dia itu ayahku. Bukan ayah Intan.
---
"Sayang kita kan udah lama gak makan bareng. Jadi hari ini kita makan bareng ya? Kamu mau kan?"
Aku menoleh kepada Bunda yang sangat semangat itu.
"Terserah Bun. Kita mau makan di mana?"
Aku menoleh ke arah bunda yang sedang sedikit berpikir.
"Kita.. kita makan di rumah ayah, sayang."
Mendengar perkataan bunda aku langsung berdiri.
"Maksud bunda kita makan sama keluarganya juga?"
Bunda menganggukkan kepalanya singkat.
"Aku gak ikut." Putus ku.
"Ara.. please. Kali ini aja. Bunda mohon." Ucap bunda memelas.
Mendengar perkataan bunda seperti itu membuatku sedikit iba. Tapi aku masih belum bisa bertemu dengan keluarga mereka.
"Bun.. Ara tau bunda akan sakit kalau bertemu mereka. Berhenti Bun. Lupain semuanya. Ara gak mau bunda terus tersakiti oleh ayah. Kita bisa kan hidup tanpa dia. Jadi ken--"
"Bunda sudah melupakannya dan bunda enggak ngerasa sakit seperti yang kamu bilang. Bunda juga udah maafin semua perbuatan Ayah. Bunda udah maafin dia Ra. Jadi bunda mohon.. maafin ayah kamu."
Aku meneteskan air mataku mendengar perkataan bunda. Kenapa bisa ada manusia yang sangat lembut sepertinya.
"Baik. Ara ikut."
Ucapku dan pergi berjalan menuju kamar.
---
Jangan lupa kasih bintang komentar dan juga tambahin AbZa ke reading list kalian yaa..
Medan, 1 Mei 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
ABZA [END]
टीन फिक्शनArabella menatap Zafarel.. menatap teduhnya pria itu saat dia tertidur. Arabella selalu berharap dia bisa masuk kedalam mimpi pria tersebut. Dia menyentuh hidung mancung Zafarel. Mendekatkan bibirnya ke telinga Zafarel dan membisikan kalimat yang s...
![ABZA [END]](https://img.wattpad.com/cover/164922328-64-k864392.jpg)