"Makasih." Aku mendengar kata itu dari belakangku. Aku pun menoleh dan melihat Intan menatap ku dan tersenyum tipis.
Aku mendekatkan kursi ku ke mejanya.
"Untuk apa?" Tanyaku kepadanya.
"Semuanya. Lo udah bantuin gue tadi. Dan juga makasih udah anggap gue sebagai saudara lo." Aku tersenyum mendengar perkataannya. Aku langsung memegang tangannya. Dingin. Aku bisa merasakan jika tangannya sangat dingin. Aku tidak tau kenapa.
"Gak perlu. Gue yang sedikit terlambat untuk menyadari semuanya. Lagian kita gak bisa berbuat apapun kan? Semuanya sudah terjadi." Aku berusaha untuk menenangkannya.
"Lo baik banget. Gue gak tau kenapa bisa mama dan gue masuk ke dalam kehidupan Lo. Maaf Ra. Gue juga gak mau seperti ini. Gue ngerasa, gue terlalu jahat sama Lo."
"Lo mau jalan gak hari ini?" Aku langsung mengubah topik pembicaraan diantara kami.
"Kemana?" Dia hanya tersenyum dan menanggapi pertanyaan ku.
"Mall mungkin."
"Boleh."
"Pulang sekolah ya." Dia menganggukkan kepalanya dan kembali tersenyum. Aku melihat itu ikut tersenyum.
---
"Lo yakin mau ajakin dia?" Caca menatapku tidak yakin. Mereka berdua sudah berulang kali bertanya pertanyaan yang sama kepadaku. Dan dengan jawaban yang sama pula aku menjawab.
"Iya lah. Emangnya kenapa sih?"
"Ra.. lo baik-baik aja kan?" Aku tertawa mendengar pertanyaan Yuni.
"Dia udah mau datang. Jangan ada yang bahas masalah 'itu' di depan Intan!" Perintah ku kepada mereka berdua. Tidak lama kemudian Intan pun datang mendekat ke arah kami.
"Hai.. maaf ya nunggu lama."
"Gak papa kok. Kita pergi sekarang?"
Mereka menganggukkan kepalanya menandakan setuju dengan pernyataan ku.
Kami berempat pun berjalan menuju tempat tujuan kami.
---
"Makasih.." aku tersenyum melihat Iqbal yang terlihat bingung dengan perkataanku.
"Karena perkataan lo kemarin, membuat gue bisa menerima semuanya. Gue terlalu di butakan oleh rasa kesal dan kecewa gue, sampai gue menyalahkan semua orang dalam masalah ini. Gue beruntung bisa memiliki lo, Bal."
"Gue yang beruntung memiliki lo. Lo terlalu berharga Ra, buat gue."
"Gue akan membukanya Bal." Aku kembali tersenyum dan mendengarkan kepalaku ke pundaknya. Serta menikmati pemandangan danau yang ada di depanku.
"Maksud lo?"
"Gue akan membuka hati gue dan akan membiarkan lo masuk. Supaya lo bisa merasakan rasa sakit yang akan gue rasakan nantinya."
Dia menggenggam tanganku. Perasaan ini, aku merasakannya. Perasaan yang awalnya ingin aku rasakan di samping Zafarel.
"Kalau gitu, gue akan menunggu Ra. Gue akan nunggu sampai lo, membuka hati Lo itu untuk gue. Karena gue yakin, apapun pilihan lo nantinya, lo enggak akan menyakiti siapapun. Tapi Lo harus tau, gue enggak akan terus berada di samping lo, kalau lo nanti menjadi milik orang lain."
Mendengar perkataannya, aku langsung menatap ke arahnya.
"Maksud lo apa? Lo udah janji sama gue kalau lo akan terus ada di samping gue. Lo mau ngingkari janji lo itu?" Dia tersenyum mendengar rengekan ku. Dia mengelus rambutku dan meletakkan kepalaku kembali ke pundaknya.
"Bukan gitu Ra.. gua juga cowok. Dan gue gak mau kalau cewek gue dekat sama cowok lainnya."
"Gue akan jelasin nantinya. Dan lagian, apa yang akan dia cemburuin? Kita kan gak ngapa-ngapain.."
"Lo yakin? Dengan kedekatan kita seperti ini? Dengan perlakuan gue ke lo? Lo yakin pacar lo nantinya enggak akan cemburu sama lo?"
"Ya kalau gitu gu--"
"Makannya, lo harus pacaran sama gue. Biar Lo bisa gue perhatiin terus."
Aku tertawa mendengar perkataannya. Entah kenapa, perkataannya membuatku merasa itu akan terjadi.
"Iya... Nanti gue pertimbangkan."
---
Heiyooo aku kambek again..
Gimana part kali ini gess???
Jangan lupa untuk kasih bintang komentar dan juga tambahin AbZa ke reading list kalian yaaa...
See you..
Medan, 7 Juni 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
ABZA [END]
Ficção AdolescenteArabella menatap Zafarel.. menatap teduhnya pria itu saat dia tertidur. Arabella selalu berharap dia bisa masuk kedalam mimpi pria tersebut. Dia menyentuh hidung mancung Zafarel. Mendekatkan bibirnya ke telinga Zafarel dan membisikan kalimat yang s...
![ABZA [END]](https://img.wattpad.com/cover/164922328-64-k864392.jpg)