[trigger warning! su*cide!]
Tangannya menggapai gagang pintu kamar. Membukanya sedikit dan memperhatikan wanita yang tidak dikenalnya sedang menunduk. Di meja bufet sebelah kasurnya terdapat botol alkohol.
Sial, mengapa tadi Januar tidak menyadari bahwa di meja bufetnya terdapat sebotol alkohol?
Wanita itu menenggak alkohol dalam sekali tegukan. Walaupun tadi Januar sempat terkejut akan keberadaannya. Namun, ini tidak bisa dibiarkan. Januar memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan mengambil alih botol alkohol tersebut.
Penampilan wanita itu benar-benar buruk. Hanya mengenakan piama pendek, mata merah membengkak, dan pipinya yang terus dialiri air mata. Januar merasa kasihan melihatnya.
"Balikin," ucap wanita itu dengan serius.
"Nggak. Jawab pertanyaan gue. Lo siapa? Kenapa bisa ada di apartemen gue?"
"Kembaliin dulu minuman gue."
Januar membuang isi botol tersebut ke tong sampah. "Oh maaf nggak bisa. Di sini nggak boleh minum-minum. Tolong katakan lo siapa, kalau nggak, gue akan laporkan hal ini ke polisi karena menggangg—"
Ucapan Januar terpotong saat melihat wanita itu menutup mulut dengan tangannya dan hendak memuntahkan sesuatu.
"E-eh kalo mau muntah jangan di sini!"
Tanpa pikir panjang, Januar menarik tangannya menuju kamar mandi. Dalam hitungan detik, wanita itu menumpahkan semua isi perutnya ke dalam kloset. Januar memejamkan mata dan bergidik saat mendengar suara muntahan yang menjijikan.
Satu menit berlalu, ia berhasil mengeluarkan semua isi muntahannya. Setelah menekan flush kloset, wanita itu beralih ke wastafel lalu berkumur-kumur. Mengambil sikat gigi berwarna abu dan membuat Januar terbelalak. "Jangan pakai yang itu, ini punya lo!"
Bukan apa-apa, Januar tidak bisa berbagi barang pribadi ke orang lain, apalagi ke orang yang tidak dikenalnya.
Januar memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah. Wajahnya cukup familier, tapi Januar tidak tahu dia siapa.
"Eh, odol gue cepet abis kalo lo pakainya salah!" ucap Januar panik dan membantunya menekan pasta gigi. Karena sedari tadi yang wanita itu lakukan adalah membuang pasta giginya ke lubang wastafel.
Setelah menyikat gigi dan berkumur-kumur, wanita itu berbalik. Menatap Januar dengan tatapan paling datar yang pernah ia tampilkan ke semua orang. Namun, Januar tidak menghiraukannya, dan justru membalikkan tubuh wanita itu kembali menghadap wastafel. "Ngaca Mba. Lo benar-benar buruk. Sebaiknya lo cuci dulu muka lo. Abis itu kita harus bicara. Gue tunggu lo di ruang tamu."
Pintu kamar mandi ditutup begitu kencang oleh Januar.
Astaga, baru kali ini Januar merasa kesal. Ia mengambil pewangi ruangan dan menyemprotkannya ke segala arah untuk menghilangkan bau alkohol.
Januar bisa saja terlihat seperti preman dengan tatonya. Namun, pada kenyataannya ia bukanlah preman sungguhan. Ia anti dengan minuman beralkohol. Begitu pula dengan rokok. Sedangkan tato yang menempel pada lengannya hanya ia anggap sebagai seni yang memiliki estetika tinggi.
Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan bulir air yang menempel pada wajahnya. Dirinya melangkah dengan sempoyongan, beruntung ia berhasil duduk di atas sofa dengan selamat. Matanya mengamati Januar yang sedang mengambil susu kaleng di dalam kulkas.
Saat Januar merasakan ada yang memperhatikannya, wanita itu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ini diminum," ucap Januar menaruh susu kaleng itu di atas meja, kemudian mendaratkan bokongnya di sofa. Berhadapan dengan wanita yang tidak dikenalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Nasa's Spell
Teen FictionMemiliki banyak tato tidak harus dicap sebagai anak nakal. Januar Wiranda adalah contohnya. Walaupun banyak tato yang menempel pada lengannya, sikap Januar jauh berbeda dari penampilannya. Otaknya yang bisa dibilang cerdas, menjadi salah satu daya t...
