44. THE WEDDING

208 16 0
                                        

Hari Minggu terakhir di bulan Agustus terasa tenang bagi Nasa, meskipun di luar sana, Arka dan Veronica sedang bersiap untuk melangsungkan pernikahan mereka. Nasa sudah menerima kenyataan bahwa mantan kekasihnya itu akan memulai hidup baru bersama Veronica. Ada sedikit keraguan yang masih tersisa di hatinya, seperti bayang-bayang masa lalu yang belum sepenuhnya pudar. Namun, perasaan itu tak lagi mengganggunya seperti dulu.

Nasa menggulirkan ponselnya, menatap foto undangan digital yang dikirim Veronica beberapa waktu lalu. Menurut informasi dari Hanna, hanya ada 250 orang yang diundang, membuat pernikahan ini terasa sangat privat. Nasa merasa lega dengan jumlah tamu yang terbatas; setidaknya, ia tidak perlu terlalu memikirkan bagaimana pandangan publik terhadap kehadirannya di pernikahan mantan kekasihnya. Tapi tidak menutup kemungkinan juga akan ada kamera jahat yang merekamnya secara sembunyi-sembunyi dan mengunggahnya ke media sosial. Nasa yakin soal itu.

Saat ia berbaring di tempat tidur, pikirannya melayang pada sosok Januar. Kenangan tentang lelaki itu muncul perlahan, seperti sinar matahari yang menembus kabut pagi. Januar yang selalu ada untuknya, Januar yang mencintainya dengan tulus dan tanpa syarat. Perasaan hangat menyusup ke dalam hatinya, mengusir sisa-sisa keraguan yang sempat mengganggu.

Nasa menyadari bahwa ia tidak sendirian. Meskipun pernah ada cinta yang mendalam antara dirinya dan Arka, kini hatinya telah menemukan tempat baru, tempat di mana Januar dengan sabar menunggu, memberikan cinta yang tak tergantikan.

Dengan tenang, Nasa meletakkan ponselnya di samping, membiarkan pikirannya beristirahat dari semua kenangan. Hari ini Nasa sengaja mengosongkan jadwalnya demi menghadiri pernikahan Arka dan Veronica. Keputusan ini diambilnya untuk menghindari pertanyaan dari orang-orang yang mungkin penasaran apakah ia akan hadir di pernikahan mantan kekasihnya.

Entah sudah berapa lama Nasa berbaring sambil termenung menatap plafon, ketika tiba-tiba getaran ponselnya menginterupsi lamunan itu. Ia melihat alarm yang berbunyi, mengingatkannya bahwa sudah waktunya bersiap-siap. Dengan cepat, ia bangkit dan membuka lemarinya.

Berbagai gaun pesta tergantung rapi di dalam, namun Nasa bingung memilih yang mana. Tanpa berpikir lama, ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Januar. Hanya butuh beberapa detik sebelum suara Januar terdengar di telepon.

"Bentar lagi aku nyampe, Nas," ujar Januar langsung pada intinya.

Nasa mengabaikan informasi itu dan bertanya. "Kamu sekarang pakai baju warna apa?"

"Karena kata Hanna pernikahannya diadain outdoor, aku pake kaos putih sama blazer aja sih, Nas."

"Iyaaa, warna blazer-nya apa?" tanya Nasa mendesak, tidak puas dengan jawaban Januar.

Januar tertawa kecil, menyadari maksud Nasa. "Kamu mau kita couple-an, ya?"

"Ish, serius, Januar!" jawab Nasa setengah kesal.

"Coba kamu lihat dari balkon, deh."

Nasa mengerutkan kening, penasaran dengan ucapan Januar. Ia segera berjalan menuju balkon kamarnya dan ketika ia membuka pintu, angin sore yang sejuk langsung menyapanya. Dari sana, ia bisa melihat mobil Juan yang sudah terparkir di depan rumahnya, dan sosok Januar keluar dari pintu pengemudi sembari melambaikan tangannya.

Mata Nasa membulat. "Lho, kamu nyetir mobil?!"

Di bawah sana, Januar mengangguk. Ia mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan sebuah kartu yang sepertinya merupakan kartu SIM. Sejak kapan juga Januar mendapatkan kartu itu?

"Jangan lama-lama natapnya, aku tahu aku ganteng. Jadi, outfit aku udah cocok belum?" tanya Januar dengan nada menggoda, masih berbicara melalui teleponnya.

Under Nasa's SpellCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang