Siang berganti menjadi malam. Di meja makan, beragam hidangan telah tersaji, hasil masakan Mama Januar dan Natasha. Sementara itu, di ruang tamu, Ayah Januar, Judi, yang baru tiba dari Bandung, tengah asyik berbincang dengan kedua anaknya sambil bermain PlayStation.
"Ayah tadi baca berita di hape, ternyata plot twist banget, ya. Gak nyangka kalau ternyata anaknya masih hidup dan berani ungkap kejahatan ayahnya yang udah lama dia sembunyiin."
"Kalau gak ada plot twist, gak seru, Yah," sahut Juan tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV, jari-jarinya sibuk menekan stik PS.
Judi melirik sekilas ke arah anak bungsunya, Januar, yang terbaring di sofa dengan tatapan kosong. Matanya terpaku pada langit-langit plafon, wajahnya menampakkan kesedihan yang samar.
"Gwenchana, adeul?"
Juan tertawa mendengar pertanyaan ayahnya. Sejak ayahnya ketagihan drama Korea, ia kerap menyelipkan frasa Korea dalam percakapan sehari-hari. Apalagi setelah terbius oleh drama Queen of Tears, Judi tak henti-hentinya memanggil istrinya, Julia, dengan julukan "Hong Hae In."
"Yah, aku gak ditanya sekalian? Kayak... 'Gwenchana, Komeng?'" Juan bertanya dengan memplesetkan nama sahabat komedian Adul, yaitu Komeng.
Judi menepuk paha anaknya yang tertawa terbahak-bahak. Tak puas dengan respon Januar yang diam saja, pria paruh baya itu menekan tombol pause pada kontroler, menghentikan permainan sejenak. Juan, yang awalnya kesal karena terus kalah dari ayahnya, meletakkan stik PS sambil tertawa kecil.
"Kamu kenapa, Januar? Dari tadi Ayah lihat kamu lemes banget kayak ikan klemer-klemer."
Januar menarik napas panjang lalu membuka suara. "Kalau cewek sibuk, terus telepon dan balas chat seadanya tandanya apa, Yah?"
Judi tertawa kecil, merasa sudah tahu jawabannya. "Oh, itu simpel. Tandanya dia udah gak tertarik sama kamu dan ketemu cowok baru."
Juan, yang duduk di seberang, langsung menyela dengan nada protes, "Sesat itu, Januar. Nasa kayak gitu ke lo karena dia gak mau ganggu waktu lo, biar lo fokus."
Judi berdiri sembari meregangkan otot-ototnya. "Jih, kamu gak percaya? Tanya mama kamu deh. Dulu ya, waktu Ayah muda, Ayah ngalamin juga apa yang dialamin Januar saat ini. Tahunya, mama kamu lagi kesengsem sama kating di kampusnya, mana ketua BEM lagi."
Tepat saat itu, suara bel pintu apartemen memotong percakapan mereka. Januar melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lewat seperempat. Ayahnya sudah bergegas membuka pintu dengan penuh semangat.
"Wah, ada tamu spesial nih! Cantik dan ganteng lagi. Ayo masuk, masuk!" kata Judi riang.
Januar yang awalnya duduk malas, mendadak tertegun. Matanya melebar ketika melihat Nasa dan Revan masuk bersama, mengenakan baju dengan warna senada. Mereka terlihat begitu serasi, seolah sudah sepakat sebelum berangkat.
"Maaf kami telat, Om," ucap Nasa tersenyum sembari bersalaman dengan ayah Januar.
Revan yang berdiri di sebelahnya melakukan hal yang sama seperti Nasa sembari memberikan bingkisan berupa dessert dan sebotol wine pada Judi. Ia turut menimpali perkataan Nasa. "Iya, tadi kita sempat kejebak macet di jalan karena ada yang kecelakaan. Untung satu mobil jadi bisa nyampe bareng."
Satu mobil? Januar berusaha untuk menyembunyikan rasa cemburu yang menggerogoti hatinya tetapi pandangannya tidak lepas dari Nasa dan Revan yang terlihat akrab satu sama lain. Selagi keduanya berbincang dengan ayahnya, Juan menendang kaki adiknya. "Lo OK?"
Dengan memasang wajah masam, Januar mengangguk. Memberikan pernyataan yang tidak sesuai dengan perasaannya saat ini. Ia beranjak dari kursi tapi Nasa tiba-tiba menghampirinya dan menahannya untuk pergi sembari menyumpal mulut Januar dengan buah stroberi yang ada di meja hingga membuat cowok itu bergidik. Rasa asam yang menjalar di lidahnya, berhasil mengalihkan perhatiannya sejenak dari kegelisahan di hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Nasa's Spell
Novela JuvenilMemiliki banyak tato tidak harus dicap sebagai anak nakal. Januar Wiranda adalah contohnya. Walaupun banyak tato yang menempel pada lengannya, sikap Januar jauh berbeda dari penampilannya. Otaknya yang bisa dibilang cerdas, menjadi salah satu daya t...
