Kalau ga bisa berdiri mending jongkok, nyali lo ga setampan muka lo!
-beatrixaudrianne
Happy Reading....
Pusat negara diberbagai bidang, kota yang dinamis, kota yang tak pernah tidur, Jakarta.
Seorang laki-laki yang mengenakan seragam putih abu-abu, berulang kali melirik jam hitam di pergelangan tangannya, ia lebih sering memfokuskan pandangan pada jalan di arah jarum jam sembilan. Suara motor, mobil, dan kendaraan lain membuatnya semakin gelisah diburu waktu.
Ia sedikit menyesal, menolak tumpangan dari ayahnya untuk ke sekolah. Namun, tidak, kepalanya menggeleng keras-keras, 'saya tidak mau bergantung dengan mereka,' batinnya.
Dua puluh menit yang lalu, ia memutuskan menumpang hingga gang depan komplek, lalu turun menunggu angkutan umum. Sialnya, dua puluh menit pula, ia harus menunggu. Padahal, di hari-hari sebelumnya sangat mudah didapat.
“Atau order ojek aja, ya?” Lelaki itu menimbang-nimbang sebentar. Menatap jalan sebelah kanan sekali lagi, lalu mengembuskan napasnya kasar, “mau gimana lagi?”
Jari lelaki itu mengotak-atik handphonenya, men-download aplikasi ojek online dan mengisi saldo aplikasi tersebut.
“Sinyal, oh, sinyal!”
Lima menit kemudian, ia siap menekan “pesan”, Namun, ponselnya lebih dulu berdering dan menampilkan nama 'Mama Tersayang'. Ia menelan saliva, sebelum menggeser panah ke warna hijau.
“Assalamualaikum, Ma,” jawabnya sedikit ragu.
“Gama sudah sampai mana? Nggak terjebak macetkan?”
Lelaki itu menelan sekali lagi saliva, tentu saja ia tak akan berbohong, kalaupun jujur, suatu hal yang tidak diinginkannya pasti terjadi.
“Hampir, Ma! Ini lagi di jalan,” Ya, hampir, hampir memesan ojek online, hampir terlambat, dan hampir menyerah dengan terik matahari yang semakin menyengat! Memang ia di pinggir jalankan? Baiklah, tidak berbohong,
Tidak berbohong!
“Alhamdulillah, coba, mama mau liat isi angkotnya. Mama kok khawatir kamu kenapa-kenapa, Gam!”
'Apaan ini? Gue harus bilang apa sama Mama?' batin Gama.
“Eh, anu, Ma. Ngga enak kalau mau foto, rame banget. Nanti Gama dikira ngapain lagi.”
“Bener juga sih, Ah, ya sudah. Pokoknya hati-hati, ya, Sayang?”
Gama membuang napasnya yang sedari tadi ditahan, Syukurlah, “Iya, Ma.”
Teleponpun dimatikan, Gama melirik jam di handphonenya lalu jalan disebelah kanan trotoar. Betulan tidak datang? Ia akhirnya memesan ojek online. Radar di handphonenya membuatnya kembali gelisah. Lelaki itu heran, mengapa orang tuanya memilih Jakarta sebagai tempat tinggalnya? Seperti tidak ada kota lain saja!
***
“Shit! Telat!” Gama menatap gerbang Taruna Bangsa yang sudah tertutup, ia frustrasi, merutuki nasibnya yang sial.
“Oke, gue gak bisa di sini lebih lama lagi,” ucapnya tegas, “gimana pun caranya gue harus masuk, ada pelajaran kimia, mati gue kalau gak masuk!” Pikiran Gama terus membayangkan wajah mematikan Pak Handoko.
Ia berjalan, berniat sedikit memutar. Mengukur kemampuan dan kesempatan apa pun untuk melewati gerbang. Jelas tidak mampu memanjat, terlalu tinggi. Mungkinkah ada tembok berlubang atau semacamnya? Atau tangga buatan siswa lain? Bagaimana kalau membuat sen-
“Woy! Ngapain lo?”
Gama memutar tubuhnya melihat gadis yang ia rasa familiar,
"Sheira, lo lupa?" tanyanya ragu, "bodo amatlah! Mau masuk bareng?" ucap gadis itu santai, “udah, gak usah kebanyakan mikir. Buruan masuk mobil sini!”
Gama melirik heran, “Kitakan sama-sama di luar. Gimana caranya masuk?”
“Bego lo! Tenang aja udah,” Mobil silver Sheira merapat ke pintu gerbang. Pak Billy, supirnya, menekan klakson mobil dua kali, dalam hitungan detik, Pak Satpam membukakan gerbang untuk mereka.
“Pagi, Mbak Sheira,” ucap Pak Satpam itu sopan. Pria paruh baya itu menatap sensi pada Gama. Sementara Sheira hanya membuang muka, tak berniat sama sekali untuk berbasa-basi.
Saat mobilnya memasuki gerbang, seringai muncul di wajah gadis itu. Tinggal pendekatan sedikit lagi, pasti lelaki di sebelahnya takluk.
Sheira mengingat-ingat kembali rencana Elang kemarin malam. Semuanya sudah mereka persiapkan, jalanan ibukota yang macet sudah jadi dasarnya.
Pertama soal angkutan umum, Elang memblokade jalan dan menyuruh para supir mencari jalan lain. Tentu saja dengan sogokan beberapa lembar uang dan gertakan.
Kedua, gerbang yang ditutup. Siapa yang berani menentang geng terkenal itu? Sangat mudah meminta Pak Satpam untuk membukakan gerbang mesti sudah jam tujuh lebih.
Mereka turun di parkiran mobil. Jarak Gama ke kelas dan jarak Sheira ke kelas sama-sama dekat dari sana. Jadi, kesempatan itu dimanfaatkan Sheira untuk menikmati waktu berdua dengan Gama. Waktu berdua? Ya, hanya berdua, hanya pikiran Sheira dalam hati.
“Mampus! Udah jam tujuh lebih lima belas,” Suara Gama memang lirih, tetapi Sheira mendengarnya.
“Tenang aja, lo gak bakal telat masuk kelas!”
Gama mengernyitkan dahinya, seingat lelaki itu, Pak Handoko sangat disiplin waktu. Baginya tidak ada ampun atas keterlambatan.
“Lo berhutang budi sama gue, ngerti?” ucap Sheira, dengan nada menekan pada kata terakhir. Kakinya berbelok kanan di persimpangan koridor. Seringai tak mudah hilang begitu saja, pikirannya menerawang jauh ke rencana-rencana mendekati Gama.
Sementara itu, Gama sedikit tak acuh dan berlari kecil menuju kelasnya. Lelaki itu mematung, mendapati hiruk pikuk dari depan pintu kelas. Mencerna kejadian pagi ini, dimulai dari angkutan umum, gerbang yang dikunci, dan Pak Handoko.
Ya, guru itu telah melanggar prinsipnya sendiri.
***
Kembali lagi berasama saya...
Jangan lupa vote dan komentarnya,
Sampai jumpa di part selanjutnya.
Dahhhh
KAMU SEDANG MEMBACA
Pseudo
Teen FictionDalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa berharap apa pun. Dalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa membuat semua menjadi nyata. Karena pertemuan ini, hanya sebuah angan dan semu.
