Happy Reading...
"Bukan! Bukan gue pembunuhnya!" teriak Sheira.
"Bohong! Lo yang bunuh. Lo!" ucap Gama sambil menundukkan pisaunya.
Sheira terduduk lemas dan menangis. Laki-laki yang ia cintai adalah laki-laki yang diam dan tidak akan pernah berani melakukan hal seperti itu. Tapi laki-laki yang di hadapannya, kini telah berubah menjadi monster yang menyeramkan.
"Nyawa harus dibalas dengan nyawa, Sheira."
Brak!
Sheira terbangun dengan napas terengah-engah. Ia menatap jam dinding. Pukul 01.00, lagi-lagi ia terbangun pada tengah malam.
"Gua bukan pembunuh, kan?" gumam Sheira.
Mengapa ia selalu bermimpi itu, mimpi yang selalu membuat Sheira merasa bersalah.
Fara jatuh karena lantai rooftoop yang lincin, bukan ia yang mendorongnya. Tetapi semuanya menyalahkan Sheira, semua berkata Sheira pembunuh.
"Mungkin lo udah benci sama gue, tapi gue gak akan pernah melepaskan lo. Gue tuh cinta sama lo, apa lo gak bisa liat sisi lain dari gue?" ucap Sheira sambil melihat dirinya bersama Gama.
"Kenapa lo gak percaya sama gue! Yang sebenarnya bukan gue yang bunuh Fara, Gam. Fara sendiri! Fara sendiri yang melakukan itu ...," lirih Sheira.
Sejenak Sheira memikirkan sesuatu yang gila. Sesuatu yang bisa mewujudkan impiannya selama ini.
"Apa gue harus lakukan itu?"
***
Hari ini, hari Senin. Tidak biasanya Gama begitu santai saat jam sudah menunjukkan pukul 06.50.
Ia baru keluar dari kamarnya dengan seragam yang sedikit berantakan.
"Anak Mamah gak papa, kan?" tanya Mama Gama.
"Gama sudah besar mah, Gama mau berangkat."
"Mamah anter ya?"
Gama tak acuh dan meneruskan perjalanannya.
Sampai di gerbang sekolah, ternyata Gama tidak telat. Mungkin hari ini adalah hari keberuntungannya.
Gama masuk ke kelasnya. Tidak ada yang spesial, semua seperti biasanya, hampa. Tapi, ke mana semua orang? Kenapa kelas sangat sepi? Bahkan saat ia melewati lapangan, tidak ada tanda-tanda upacara.
"Bukannya ini yang lo inginkan? Memang lebih baik seperti ini, sendiri dalam ruangan yang hampa," gumam Gama.
Seperti hari-hari biasanya, ia hanya menghabiskan waktu untuk berpikir. Apa yang terjadi dan apa yang disembunyikan oleh dunia? Ke mana perginya Fara dan dari mana datangnya Fera?
Pertanyaan itu selalu menghantui pikirannya. Sedetik pun ia tidak bisa mengalihkan pikiran itu sendiri.
"Gama!" panggil Raga
"Hm."
"Sheira mau bunuh diri Gam, di rooftoop," ucap Tio.
"Hah? Fara tunggu! Jangan tinggalin ggu," ucap Gama dan berlari ke tempat yang dikatakan Tio.
Raga dan Tio saling bertatap. Gama salah menyebutkan nama, apa yang terjadi saat dia kesadarannya sudah kembali?
Tak mau berlama-lama Tio dan Raga lari menyusul Gama yang sudah jauh.
Raga tidak berbohong sudah ada Sheira di lantai rootoop dan beberapa rekan guru yang menenangkan Sheira.
Gama langsung naik ke atas untuk mencegah hal bodoh tersebut, ia tidak mau kehilangan Fara kembali. Ya, Fara. Fara yang ia sedang pikirkan, bukan Sheira.
"Gama jangan mendekat biar Papak saja," ucap Pak Handoko.
"Biar saya aja pak. Fara jangan lakuin itu!"
Hati Sheira terasa seperti disayat, perih, sangat perih.
"Fara, tolong jangan seperti itu. Gue gak mau kehilangan lo lagi."
"Bagus lo, Gam, saat gue mau mengakhiri hidup gue, lo masih berpikir Fara. Fara sudah gak ada Gam."
"DIA SUDAH MATI! SUDAH BAHAGIA DI ALAM SANA, BUKA MATA LO GAM!" teriak Shiera.
Merasa seperti ada hentaman, Gama tersadar dengan pikirannya itu. Ia melihat yang sebenarnya, bukan Fara tapi itu Sheira.
Ya, Gama baru menyadari akan hal seperti itu. Ia melihat Sheira yang menangis dan mulai berjalan kembali untuk mengsukseskan rencanannya.
"Kalian senang kan kalau pembunuh kayak gue mati aja! Oke, gue akan membuat kalian semua senang. Terutama buat lo, Gam. Dia sudah mati, dan kalau lo masih menuduh gue yang bunuh, maafin gue! Tetapi gue gak akan pernah lupa kalau Fara jatuh sendiri, bukan karena gue."
Sheira sebenarnya sangat takut untuk melakukan ini, tapi buat apa dia hidup kalau ia masih di cap pembunuh? Bukannya nyawa dibayar dengan nyawa? Maka tak salah ia melakukan ini.
"Stop! Oke, gue maafin. Tapi jangan lakukan itu, mohon." Gama memohon, walaupun ia tidak suka dengan Sheira dengan kejadian ini ia tidak bisa diam saja. Ia masih mempunyai hati.
"Buat apa gue hidup!"
"Bukan dengan cara ini untuk menyelesaikan masalah Sheira," ucap Pak Handoko.
"Tidak ada yang diselesaikan. Semuanya sudah terlambat."
Sheira melangkah kembali, selangkah lagi ia akan berhasil mencapai ujung bangunan ini.
"Baik! Sheira mau lo apa? Gue akan nurutin semuanya."
Sheira tersenyum, ini yang ia tunggu. Ia memutar badannya menghadap Gama.
"Lo jadi pacar gue, gue akan bantu lo untuk melupakan Fara."
Gama terdiam, ia tidak bisa menuruti kemauan Sheira. Tidak, hanya Fara saja yang boleh singgah di hatinya.
Gama tampak frustrasi, ia terjebak dengan perkataannya sendiri. Ia tidak memikirkan permintaan aneh dari Sheira, ia hanya takut.
"Gak bisa, kan?"
Sheira memutar kembali tubuhnya dan bersiap untuk melompat. Setelah ini hidupnya akan damai.
"Ya! Gue akan terima permintaan itu Sheira."
Totalitas! Rencananya sangat berjalan dengan baik, Sheira mundur dan memutar tubuhnya berlari ke tempat Gama berdiri.
"Terima kasih, gue juga akan tempatin janji gue."
"Berusaha saja, gue gak akan melupakan malaikat itu, dan kelicikan iblis seperti elo."
Biarkan saja, Sheira tidak memedulikan perkataan itu. Yang terpenting ia sudah mendapatkan Gama, dan itu sudah lebih dari cukup.
***
Kring! kring! kring!
Bel pulang selalu berbunyi dengan irama yang merdu. Hal yang selalu dinantikan para siswa bisa pulang dan mengistirahatkan tubuhnya.
Hari ini Fera ingin mulai memecahkan siapa Fara? Apa hubungannya dengan dirinya?
Fera ingin sekali bertanya kepada Elang, karena Elang saja lah yang ia kenali dan percaya.
Tapi Elang malah diam dan membentaknya waktu itu.
Siapa lagi yang harus ia tanyakan?
Fera turun dari tangga dan mendapati sosok yang tidak asing lagi di matanya. Gama, itu Gama.
Ah, iya pertama kali bertemu dengannya ia selalu menyebutkan nama Fara. Mungkin ia tahu yang sebenarnya.
Fera mengejar Gama yang sudah semakin jauh dari penglihatannya.
******
Balik lagi.. Yuhuuu
Gimana part kali ini?
Jangan lupa vote dan komentarnya..
Dahhh...
KAMU SEDANG MEMBACA
Pseudo
Teen FictionDalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa berharap apa pun. Dalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa membuat semua menjadi nyata. Karena pertemuan ini, hanya sebuah angan dan semu.
