Bab 16

263 37 19
                                        

Happy Reading

Sedikit memutar kembali kejadian di mana Fara terhuyung lemas, ia berusaha berdiri dan pergi dari tempat mengerikan itu. Ia ingin segera mengakhiri semuanya. Mengakhiri segala debat memuakkan dari Gama, Sheira, Elang, dan G-team di hadapannya. Sudah ditentukan, ia ingin memilih hidup baru dengan menjauhi Gama dan mencoba menerima takdir bahwa Elang akan terus mengikatnya dalam kungkungan cinta terpaksa sampai masa sekolah berakhir, setidaknya begitu. Namun apa daya, untuk berdiri saja ia masih kesulitan.

"Kalau lo nggak deket-deket Fara, udah pasti gue nggak bakal ngelakuin ini semua, Gam!" teriak Sheira menggebu, "justru yang ngebuat ini semua tambah rumit itu Fara! Kenapa lo nyalahin gue?!"

Napas Gama tersengal-sengal, mencoba menahan amarah, "Udah! Nggak usah banyak bacot lo, Ra! Sekarang, ikut gue ke kepsek!" teriaknya seraya menarik lengan Sheira, "ngapain kalian diem?! Cepetan panggil ambulance buat Fara!" cetus Gama pada G-team yang sedari tadi diam tak berkutik.

Tak lama Elang meninggalkan rooftop untuk menyediakan mobil yang bisa membawa Fara ke rumah sakit terdekat, begitu juga Sheira yang sudah mau menghilang dari tangga rooftop bersama
G-team. Sementara itu Fara menatap mereka dan Gama dari ujung rooftop, "Tu ... tunggu ...," tuturnya lemah. Ia bahkan tak mampu berteriak.

'Nggak guna Far, kalau lo cuman teriak. Bahkan suara lo itu nggak bakalan sampai ke telinga mereka!' debat batinnya. Memang benar begitu. Ia pun mencoba meraih sesuatu yang dapat ia jadikan sanggaannya. Dapat! Tangannya mencoba meraih pagar rooftop-yang hanya setinggi pinggangnya jika ia berdiri-di belakang tubuhnya. Tak sampai satu meter jauhnya memang. Ia menyangga tubuhnya, sementara kakinya berusaha menjejak atap rooftop yang licin, jarang dibersihkan ini karena tidak pernah diinjakan. Tetapi tiba-tiba ...

"Kayanya, bunuh diri pilihan terbaik! Dan kalau ga adanya gue semua lebih baik, gue coba lakuin buat kalian!" ucap Fara setelah itu keseimbangan tubuhnya hilang.

Slaat!

Demi Tuhan! Fara terontai hingga tubuh mungilnya terjun menuju ke lantai dasar Taruna Bangsa, tepat dibagian lapangan yang ramai dengan anak-anak basket. Fara masih sadarkan diri dan terbelalak kaget, ia tak mampu berteriak. Sejenak, tubuhnya serasa melayang di angkasa, ia merasa lepas, ia tahu setelahnya tubuh itu akan berdebum hebat, beradu dengan sesuatu yang amat keras.

Brak!

Tidak, ia tidak merasa telah beradu dengan lantai. Seseorang sepertinya menopangnya di bawah sana. Fara sempat mendengar pekikan sebelum ia benar-benar ... kehilangan napas.

***

"Bertahan Far. Gue tau lo cewek kuat! Jangan buat gue khawatir!" Elang tertatih membopong tubuh Fara yang sudah limbung, dengan kakinya yang pincang menahan tubuh Fara yang jatuh dari atas rooftop beberapa menit lalu. Entahlah, ia sudah tak peduli meski kakinya patah sekali pun. Ia memikirkan bagaimana kondisi Fara, hanya Fara!

"Dokter! Suster!" teriaknya di koridor Rumah Sakit, "Anjing! Siapa pun, tolong!" teriak Elang tidak karuan. Tak lama setelah ia keluar dari mobil pribadinya, beberapa pekerja rumah sakit yang didatanginya segera keluar untuk membantu mereka.

"Ada apa ini? Suster, cepat bawa pasien ini masuk!" teriak salah seorang pekerja di sana.

Elang meringis menahan sakit di kakinya, mencoba tetap bersama Fara yang sudah diusung ke ranjang pasien dan dibawa ke ruang IGD, "Tolong dia, Dok! Pastiin dia baik-baik aja!" ucapnya seraya menahan tangis. Ia pilu melihat darah terus mengucur dari kepala Fara. Apalagi hatinya, di saat inilah Elang lemah, ia benar tulus pada Fara, ia menyesal melakukan hal sekeji itu. Sisi iblis Elang berubah menjadi malaikat berhati lembut, Elang yang berbeda dikondisi ini hadir. 'Seandainya, lo nurut kata gue, lo ga akan pernah liat sisi iblis gue! Semua karna pancingan Gama! Tunggu pembalasan gue!' batin Elang. Ia merasa sudah remuk, ia benar takut kehilangan Fara.

Beberapa suster memasangkan alat bantu pernapasan pada Fara. Beberapanya sibuk mengatur orang-orang yang memadati koridor rumah sakit itu.

"Anda tenang saja. Kami akan usahakan yang terbaik," kata salah satu dokter setelah sampai di depan pintu IGD, dan segera membawa Fara masuk.

Elang terduduk frustrasi di ruang tunggu. Dengan geram, ia segera mengambil ponselnya. Memencet nama yang sudah sering kali ia hubungi.

"Bangsat! Fara masuk IGD! Darahnya keluar banyak banget! Gue takut dia kenapa-kenapa!"

" .... "

"Awas aja lo, Ra! Kalau Fara kenapa-kenapa, lo bakal nyesel seumur hidup!"

Elang segera memutus teleponnya. Bagaimana ia bisa tahu Sheira yang membuat Fara jatuh dari rooftop? Tentu saja karena teman-temannya yang bermain basket melihat tubuh Fara di ujung gedung. Elang dikabarkan ada yang mau bunuh diri ketika berlari menuju rooftop. Mereka melihat Sheira membabi buta pada Fara, sampai ada satu teriakan mengakhiri hidup.

"Akh! Kaki gue!" Baru saja ia merasakan sakit di kakinya, ia melihat darah mengucur dari kakinya. Tak banyak memang, tapi sepertinya kaki Elang luka berat. Ia segera ke depan, mencari seorang dokter agar mengobati kakinya.

Sementara itu, di sekolah ....

"Sheira! Bapak tanya sekali lagi, kenapa kamu terus menerus membully Fara?!" tanya Pak Seno mengintrogasi. Memang sudah menjadi tugasnya untuk mengurus segala masalah di sekolah. Secara, ia adalah kepala sekolah Taruna Bangsa.

Sheira terdiam. Ia bergumam sejenak, "Emm ... Fara yang mencari gara-gara sama saya, Pak. Dia mau ngerebut Gama dari saya. Dia ngancem saya mau bunuh diri, pak!" bohong Sheira

"Lo nyalahin Fara?! Bitch!" umpat Gama di tempat duduknya.

"Sudah-sudah! Jangan adu mulut lagi!" kata Pak Seno menyudahi, "dan kamu Sheira, hanya gara-gara masalah cowok, kamu sampai melakukan hal tak senonoh pada Fara?!" Pak Seno mengurut keningnya. Pusing dengan permasalahan yang tak masuk akal ini, "kamu masih di bawah umur! Belum saatnya memikirkan pasangan ... ah! sudah, sudah. Bapak pusing!"

Sheira memutar bola matanya malas, "Cih! Sok banget. Siapa suruh ngurusin masalah orang lain. Heh!" ucapnya pelan.

"Besok polisi akan menyelidiki kasus ini lebih dalam. Terlebih tadi kamu bilang, Elang meneleponmu bahwa Fara masuk IGD. Kasus ini bisa menjadi semakin besar kalau saja Fara meninggal," kata Pak Seno.

Gama menggertakkan giginya, "Bapak jangan bilang seperti itu! Fara gadis hebat yang kuat dan selalu berjuang!"

"Sudah, sudah. Maafkan perkataan saya. Sekarang, kalian pulang dan skors berjalan sampai penyelidikan kepolisian selesai!"

***

Paginya, kabar buruk menyebar begitu cepat. Fara dikabarkan koma oleh pihak sekolah. Ayah dan ibu Fara sendiri yang mengabarkannya, sekolah dibuat geger. Terlebih Gama, Sheira, G-team, geng Pseudo, dan teman-teman Fara. Lalu bagaimana dengan Elang? Ia memang risau, tapi tidak seperti yang lain, ada satu rahasia yang harus ia jaga. Sebuah kesepakatan yang telah ia buat bersama Ibu dari Fara sendiri. Elang sekarang hanya tinggal menghitung hari, untuk memulai rencana indahnya, sambil menunggu pemulihan kakinya yang patah.

Semua kisah baru yang semu akan di mulai. Saksiskan siapa Elang? Gama? Dan Fara?

Iblis beserta anak-anaknya akan kembali dengan kisah yang begitu pilu!

Semoga Fara cepat sadar dan kembali dalam permainan. Semoga hidup Fara tidak berakhir, karena sebuah cerita semu baru saja dimulai.

*****

Maksudnya apa ya?
Ada yang tau?

Jangan lupa vote dan komentarnya...

Dahhh

PseudoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang