Perkataanmu sendirilah yang nantinya akan menuntunmu -chandra
Happy Reading....
Pelajaran kimia berakhir sekitar lima belas menit yang lalu. Pak Handoko tadi baru memasuki kelas Gama sekitar lima menit setelah kedatangannya di kelas. Itu membuat diri Gama semakin bingung. Ada apa sebenarnya?
Tio, teman dekat Gama semenjak SMP itu menghampiri dan duduk di sebelahnya. Ia mulai melontarkan pertanyaan yang sebenarnya Gama sendiri tak tahu apa jawabannya.
"Gam, lo tumben amat telat dateng?"
Gama hanya diam dengan pikirannya yang entah memikirkan apa?
"Gam!" Kali ini Tio menyenggol sikunya.
Gama hanya menoleh, lalu kembali dengan aktivitas awalnya. Diam dan memikirkan kejadian tadi.
"Ettt! Dah! Berasa ngomong sama patung gue," Tio menyerah bicara dengan Gama, ia kembali ke tempat duduknya. Di sana ia masih mendapati Tio yang sibuk berkutat dengan handponenya bermain game online, kebiasannya.
"Hufttt! Males nyamperin Gama. Masa gue ajak dia bicara, dia malah diem-diem bae gak ngerespons," protes Tio di kursinya.
Tanpa banyak bicara, Tio memasukkan handphonenya ke dalam saku, dan berjalan lagi menuju tempat Gama duduk.
"Woi, diem-diem bae lu. Jangan bengong mulu, kesambet lo entar," ucap Tio yang dihadiahi lirikan sinis dari Gama.
Ia terdiam cukup lama, sampai akhirnya ia pun berbicara,
"tadi kenapa Pak Handoko bisa telat masuk kelas ya? Biasanya kan beliau gak pernah telat. Aneh!"
"Gue denger dari anak-anak sih ya, tadi Pak Handoko adu mulut sama Elang, anak sebelah. Gue denger-denger juga, Elang emang sering gitu ngelawan guru-guru. Gak ada takutnya sama sekali tuh anak."
"Kenapa?"
"Ye, mana gue tau. Lo tanya aja sama orangnya langsung."
Gama masih diam, memikirkan hal lain. Elang? Sheira? Siapa mereka sebenarnya?
***
Kali ini, Fara pergi ke kantin seorang diri. Tidak ada yang berani menemaninya setelah kejadian itu. Di mana ia disiram dan ditampar oleh teman seangkatannya, yang setahunya ketua dari geng G-team.
Fara tidak terlalu memusingkan hal kemarin, dia tetap baik-baik saja melakukan apapun sendirian, ya karena dia sudah terbiasa dengan hal yang berbau sendirian.
Ketika ia ingin duduk di bangku kantin setelah memesan semangkuk bakso dan es teh, tiba-tiba ada yang menghalangi langkahnya dan ...
Bruk!
Jatuhlah Fara, semangkuk bakso, dan es tehnya pun tumpah ke lantai juga mengenai seragamnya.
"Heh, makanya kalau jalan tuh liat-liat."
Fara mengenali suara itu, Sheira, ketua geng yang membullynya kemarin. Fara mendongak, ingin membalas.
"Apa lo liat gue kaya gitu? Berani lo sama gue?" Sheira langsung menyela, tak memberikan kesempatan Fara bicara.
Plak!
Lagi-lagi, Fara ditampar oleh Sheira. Sakit, marah, dendam, semua dirasakan oleh dirinya. Bahkan kini, semua penghuni kantin memperhatikan mereka. Tidak ada yang berani melerai atau menghentikan itu semua, kecuali ....
"Apa hak lo sampe berani ngebully temen lo yang bahkan ga punya masalah sama lo?"
Fara menoleh pada seseorang yang membelanya. Tidak! Dia bukan orang yang menyelamatkannya kemarin. Dia orang yang berbeda.
"Apa hak lo sampe berani nyakitin anak orang yang sama sekali ga lo kenal?"
Fara tetap mematung, mulutnya terkatup rapat. Ia tak bisa mengeluarkan satu kata pun kali ini.
"Tau apa lo?" Sheira menjawab sambil melipat tangannya di dada dengan gaya angkuhnya. Kok jadi dia yang muncul sih? Elang mana coba? Sheira berdumel dalam hatinya, sambil memperhatikan cowok yang ada di depannya kini.
"Gue tau lo ngebully murid yang gak bersalah," ucapnya dengan enteng.
"Gak usah ikut campur lo!" ucapnya dengan nada dingin, "kali ini gue maafin lo karena lo udah ikut campur masalah gue. Dan inget ya, lo masih punya utang budi sama gue." Sheira menunjuk cowok itu, dan langsung berlalu dari tempatnya berdiri.
Ya, orang itu adalah Gama, penyelamat Fara kali ini.
"Sekarang mending lo ke kamar mandi, bersihin baju lo. Gue beliin baju buat lo dulu. Kelas lo dimana? Nanti gue antar bajunya ke kelas lo."
Lagi-lagi Fara masih diam, mematung. Tak mampu berkata-kata.
"Hei!" Gama mencoba menyadarkan Fara dengan melambaikan tangannya di depan wajahnya.
"Eh, iya, maaf," ucapnya agak tergagap.
"Kelas lo di mana?" tanya Gama lagi.
"Kelas X-IPA 1, Kak!" jawab Fara sambil menunduk, menahan malu.
"Ga usah manggil Kak. Gue seangkatan sama lo. Udah sana lo ke kamar mandi, nanti gue ke kelas lo," Gama langsung pergi setelah mengatakan hal itu. Fara pun mulai berjalan meninggalkan kantin menuju toilet.
"Eh, Fara, lo ga apa-apa, kan?" Tiba-tiba Elang muncul di depan toilet dengan nafas yang terengah-engah.
"Eh, aku gapapa kok," balas Fara sambil tersenyum. Ia baru saja selesai membersihkan bajunya.
"Yaudah, gue beliin seragam baru buat lo ya? Seragam lo basah gini!"
"Emm, gak usah. Udah ada yang beliin kok."
"Siapa?"
"Gue!" Gama yang menjawab. Dia datang dengan seragam yang masih baru di tangannya. Fara dan Elang pun menoleh, kaget, dengan siapa yang datang.
"Siapa lo?" tanya Elang pada Gama.
"Gama, Gue pergi dulu!" ucapnya sambil berlalu. Namun tiba-tiba ia berbalik lagi, "gue udah nunggu lo lama di kelas lo tadi, makanya gue nyusul ke sini." Kali ini ia menatap Fara memberikan bajunya, segera berjalan entah kemana.
'Sial! Gue kalah cepet! Belum tau aja dia siapa gue,' Kalian tahu bukan? Siapa yang mengucapkan itu?
****
Uwuh, mimin back lagi...
Gimana?
Jangan lupa vote dan komentarnya yah..
Sampai jumpa di part selanjutnya.
Dahhhh
KAMU SEDANG MEMBACA
Pseudo
Teen FictionDalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa berharap apa pun. Dalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa membuat semua menjadi nyata. Karena pertemuan ini, hanya sebuah angan dan semu.
