Happy Reading...
"Ragamu memang bersamaku. Namun hatimu masih bersama masa lalumu."
-FNS
***
Sudah satu minggu lamanya Gama berada di rumah sakit. Kakinya yang patah sudah semakin membaik. Gama ingin cepat-cepat keluar dari sini. Ia ingin bertemu Fara, eh Fera, ahh entahlah dia siapa Gama tak peduli. Ia merindukan gadis itu--sangat.
Selama satu minggu itu pun, Gama selalu ditemani oleh Sheira, yang masih berstatus pacarnya. Ayahnya memberitahu Sheira bahwa ia dirawat di rumah sakit. Gama cukup kesal, karena ia sangat muak melihat wajah Sheira. Ia tidak mencintai gadis itu, bahkan membencinya. Untung sahabat-sahabatnya--Tio dan Raga selalu datang tepat pada waktunya, ketika Sheira datang, tak lama mereka berdua pun juga datang .
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Gama, dan tak lama pintu kamar rawatnya pun terbuka. Menampilkan sosok Sheira yang tersenyum ke arahnya.
"Hai," sapa gadis itu sambil tersenyum. Gama hanya membalasnya dengan wajah datar, tanpa ekspresi apa pun.
"Kata dokter, kamu besok udah boleh pulang, ya?" tanya Sheira. Gama mengernyitkan dahi bingung, bagaimana perempuan ini tahu kalau ia akan pulang besok? Akhirnya ia hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Pagi atau siang?" tanya Sheira lagi. Ia akan terus bertanya sampai Gama menjawab pertanyaannya.
Seperti biasa. Agak lama Gama terdiam, akhirnya ia menjawab, "Tunggu keputusan dokter."
Brak!
"Gama!"
Itu suara Tio, dia tiba-tiba datang dengan mendobrak pintu dan dengan tak santainya langsung berteriak memanggil nama Gama seperti orang kesetanan.
"Santai aja kali, Yo. Ini rumah sakit, bukan hutan. Lo ga perlu teriak-teriak," ucap Raga sambil menoyor kepala sahabatnya itu. Raga juga bingung, entah apa yang merasuki Tio sampai ia harus berteriak ketika masuk ke kamar rawat Gama.
"Sakit bego. Gue kan kangen sama sahabat gue ini. Hehehe," cengir Tio sambil berjalan menuju tempat tidur Gama. Sheira yang melihat kekonyolan mereka hanya tersenyum miris. Kenapa mereka selalu saja mengganggu sesi berduaannya dengan Gama?
"Lo pulang besok kan ya? Bokap lo yang jemput?" tanya Raga sambil duduk di sofa yang ada di kamar rawat Gama.
"Iya, gue besok pulang. Dan lo berdua yang harus jemput gue, karena bokap gue gak bisa jemput. Ok?"
"Siap bos!!" jawab Raga dan Tio bersamaan.
"Aku boleh ikut jemput kamu nggak?" Kali ini Sheira yang angkat bicara. Gama diam. Raga dan Tio pun juga diam.
"Gam? Aku boleh ikut jemput kamu, kan?" tanyanya lagi sambil menatap mata Gama yang tak pernah menatap padanya.
"Gak usah," jawab Gama telak. Sheira tidak bisa memaksa kali ini. Ia lelah, biar semua terserah Gama sekarang.
***
Gama pulang dari rumah sakit sekitar pukul sembilan pagi nanti. Kakinya belum benar-benar pulih, tapi ia sudah bisa berjalan meskipun dengan pincang. Untung saja patahnya tidak terlalu parah, sehingga ia bisa pulih dengan cepat.
Saat ini Gama sudah bersiap-siap untuk pulang. Ia hanya menunggu kedatangan Tio dan Raga. Lima belas menit lagi mereka akan datang, itu yang dikabarkan Tio padanya tadi saat di telepon.
Ceklek!
"Gam? Yok balik."
Gama menolehkan pandangannya ke pintu ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Ah sudah lima belas menit rupanya, ia tak sadar karena sedari tadi asyik memandang foto Fara di ponselnya.
"Tio mana?" tanya Gama. Ia bertanya karena ia tak melihat Raga datang bersama Tio.
"Nunggu di lobi. Udah ayo, mana barang lo? Biar gue yang bawa." Gama pun menunjuk tas yang berisi pakaiannya itu.
"Yaudah yok. Lo bisa jalan sendiri atau gue pegangin?" tanya Raga lagi.
"Gak usah, gue bisa jalan sendiri." Raga hanya mengangguk mendapati jawaban Gama.
***
Dua hari setelah pulang dari rumah sakit, Gama sudah memutuskan masuk sekolah. Sheira yang melihat Gama masuk gerbang sekolah tersenyum senang dan langsung menghampiri Gama.
"Kok udah sekolah? Udah gak apa-apa kakinya?" tanya gadis itu sambil memasang senyum cerianya.
Gama hanya menangguk dan berjalan lagi melewati Sheira.
"Woi, Gam! Udah masuk sekolah aja lu!" Tio tiba-tiba datang dan menepuk pundak Gama.
"Iya. Kangen Fara gue," ucap Gama sambil tersenyum.
"Fara?" Tio mengulang nama yang disebutkan Gama tadi. Masih tidak percaya ternyata Gama masih mengingat gadis itu.
"Fera maksud gue." Tio hanya ber-oh-ria mendengar jawaban Gama.
"Eh, gue duluan ya. Sampai ketemu di kelas." Sheira berucap sambil tersenyum dan meninggalkan mereka. Sheira sudah tak tahan dengan Gama yang selalu mengingat Fera, padahal ia sudah selalu berada di samping Gama.
Kenapa selalu Fera, Gam? Kenapa dia? Yang cinta sama lo itu cuma gue, bukan Fera.
***
Jam istirahat sudah tiba. Gama, Tio, dan Raga bergegas keluar kelas untuk menuju kantin. Sheira tak memedulikan Gama lagi, ia sudah capek. Dan ia ingin beristirahat sejenak. Jadi untuk kali ini, ia tidak akan mengganggu Gama dulu. Biarkan Gama bersama teman-temannya dan Sheira akan di kelas saja.
"Gam, tumben tuh pacar lo gak ngintilin lo," ucap Raga ketika ia menyadari Sheira tak mengikuti mereka ke kantin, "biasanya juga langsung ikut tanpa diajak," lanjutnya.
"Gak tau dan gak peduli," balas Gama cuek sambil terus berjalan ke kantin.
"Eh, gue balik ke kelas dulu ya. Hape gue ketinggalan nih." Tio langsung berlari menuju kelasnya setelah sadar bahwa ponselnya tidak ada di kantong celana. Gama dan Raga hanya mengangguk.
***
"Gam ... Gama ...." Tio memanggil Gama ketika ia sudah sampai di kantin dengan napas yang memburu dan menghampiri Gama.
"Kenapa lo? Sampe ngos-ngosan kaya habis dikejar setan," ucap Gama sambil menuangkan sambel pada baksonya.
"Fer ... Fer ... Fera, Gam," lanjut Tio masih dengan nada ngos-ngosan.
Gama langsung terdiam sebentar, dan berucap setelahnya.
"Fera kenapa?"
"Dia bully Sheira di kelasnya. Dia mau bunuh Sheira, Gam."
Gama yang mendengar hal itu langsung berlari menuju kelasnya. Sebelum ia masuk kelas, ia mendengar teriakan Fera yang memekakkan telinga. Ia mendengar Fera yang meraung-raung sambil menjambak rambut Sheira. Dia juga bisa melihat bahwa Fera juga menampar Sheira dengan keras. Dan ia juga mendengar hal yang membuatnya cukup terkejut. Jadi? Benarkah apa yang dikatakan Fera tadi?
****
Gimana gimana?
Jangan lupa vote dan komentarnya.
Daaahhh
KAMU SEDANG MEMBACA
Pseudo
Dla nastolatkówDalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa berharap apa pun. Dalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa membuat semua menjadi nyata. Karena pertemuan ini, hanya sebuah angan dan semu.
