Hati dan tampan seseorang akan berbeda, ketika ia mencintai satu orang dengan tulus! -ElangAugtinus
Happy Reading
Sheira yang kesal langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia melihat ke depan, di sana Gama dan Fara masih di posisi yang sama. Ia mendengkus kesal dan berbalik pergi sambil menghentakkan kakinya. “Ck, awas aja lo Fara!”
Sementara itu, Gama masih menenangkan Fara yang masih terisak. Ia mengeratkan pelukannya pada Fara sambil membisikkan kata-kata penenang, “Ssstt, jangan nangis Fara. Gue ada di sini buat lo!” Gama sedikit meringis ketika merasakan sakit di badannya.
Fara yang mendengar itu pun perlahan membalas pelukan Gama. Ia masih menangis walau tidak seperti tadi. Gama perlahan mengurai pelukan mereka. Ia membingkai wajah Fara dan menghapus jejak air mata yang tersisa di pipi Fara. Gama juga merapihkan rambut Fara yang sedikit kusut karena terkena air mata.
“Jangan nangis lagi, sekarang kita pulang ya?” tanya Gama lembut.
Fara pun mengangguk sekilas sambil tersenyum tipis. Ia bahagia bersama Gama. Setidaknya ia tahu, Gama peduli padanya.
“Far, bantuin gue,” Gama berucap ketika Fara belum menyadari bahwa ia kesulitan untuk berdiri. Fara yang sudah dalam posisi berdiripun menoleh pada Gama. Fara akhirnya membantu Gama berdiri dan memapahnya ke gerbang sekolah. Mereka akan pulang menaiki angkot bersama-sama.
“Lo berat juga ya, Gam,” Fara memulai percakapan. Ia tidak bisa jika hanya diam, atau ia akan selalu teringat kejadian beberapa waktu lalu.
“Gue kan cowok, Far,” balas Gama santai.
Fara memapah Gama dengan hati-hati. “Ya, iya, sih!” Fara tidak tahu lagi ingin membicarakan apa. Ia kehabisan topik, juga suasana hatinya yang sedang kacau. Entah itu karena perlakuan Elang yang sangat menyakitinya atau karena berdekatan dengan Gama hingga membuat pikirannya tak menentu. Suasana pun hening kembali, Gama pun sama halnya seperti Fara, gagal mencari topik pembicaraan.
Kini Gama dan Fara sudah ada di depan gerbang, mereka hendak menuju halte untuk menunggu angkot lewat.
Saat setengah perjalanan menuju halte, Gama membuka suaranya, “Far, soal Elang tadi-“
“Engga, gue lagi berusaha ngelupain itu. Walaupun gue tau, itu bakal susah banget.” Ucapan Gama terpotong karena Fara menyelanya. Fara tersenyum tipis pada Gama. Seolah mengatakan ia tak apa, Fara baik-baik saja.
“Lo emang cewe kuat Far, tapi gak papa kalo sesekali lo jadi rapuh. Gue bakal selalu ada buat lo,” Gama hanya mampu mengucapkan kalimat itu di dalam hatinya.
“Oke, inget ya. Gue selalu ada buat lo.” Gama memberikan senyumannya pada Fara, yang dibalas Fara dengan senyum tipis. Gama tidak tahu saja, kondisi jantung Fara sudah tidak sehat setiap berdekatan dengannya, apalagi saat Gama tersenyum untuknya, Fara ingin mati rasanya.
Sebenarnya Fara bukannya acuh pada kejadian tadi, saat Elang berlaku semena-mena padanya. Fara tak lupa, kejadian itu terekam jelas di otaknya. Yang sekarang membuat Fara rasa dirinya yang telah hancur semakin dihancurkan oleh Elang. Fara tahu, Elang tak lebih dari cowok berengsek yang menganggu hidupnya.
Beberapa saat lalu, mereka telah sampai di halte, Fara mendudukkan Gama dengan hati-hati, lalu ikut duduk di sampingnya.
“Emm ... Gama,” Tiba-tiba Fara memanggil Gama, tetapi pandangannya masih lurus ke depan.
“Iya?” Gama menaikkan sebelah alisnya, hal itu menambah kadar ketampanannya.
“Makasih!” Fara menoleh pada Gama.
Gama yang bingung saat mendengar ucapan terima kasih dari Fara, lantas mengerutkan dahi. “Buat?”
Fara tersenyum manis pada Gama, “Semuanya.”
Gama yang mendengarnya balas tersenyum. “Sama-sama, Fara.”
Dan ketika angkot yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang, sebuah mobil yang melaju cepat berhenti di depan halte. Fara yang melihat itu membulatkan matanya, tubuhnya gemetar ketakutan, ia tahu siapa pemilik mobil itu.
“G-Gama, takut!” Fara mendekatkan dirinya pada Gama ketika melihat pintu kemudi dibuka dan munculah sosok yang membuatnya takut. Siapa lagi kalau bukan Elang.
Elang berjalan dengan santai ke arah Gama dan Fara. Sementara itu Gama dan Fara refleks berdiri, meskipun Gama sedikit kesusahan. Elang bersiul dengan gayanya yang menjengkelkan tetapi mampu membuat Fara takut.
“Ngapain lo balik lagi?” Gama bertanya dengan nada dingin. Ia sudah kehabisan stok kesabaran jika berhadapan dengan mahluk dengan spesies seperti Elang.
“Bukan urusan lo,” Elang menatap sinis Gama. Tadi saat di jalan ia berpikiran untuk memutar arah, kembali ke sekolah. Karena, ia merasa tidak puas dengan rencananya yang gagal tadi.
Elang melihat ke arah Fara yang bersembunyi di balik punggung Gama. Sorot matanya tajam, menyiratkan ketidak sukaan, “Balik sama gue.”
Fara yang mendengar itu semakin merapatkan tubuhnya pada Gama, “Gama, takut.” Ia berucap lirih, namun Elang masih bisa mendengarnya.
“Gue bilang, balik sama gue. Lo tuli?” Elang mulai kehabisan kesabaran, ia berusaha menarik tangan Fara tetapi Gama menepisnya.
“Fara sama gue, mending lo pergi aja, berengsek!” Gama mengeratkan gengamannya pada Fara. Sementara itu, Fara sudah menangis dari tadi. Ia takut pada Elang, tetapi ia juga takut Gama kenapa-napa.
“BACOT LO!”
Bugh!
Elang meninju perut dan menendang kaki kanan Gama hingga ia jatuh tersungkur ke trotoar. Bayangkan saja, tubuhnya yang sudah babak belur harus dipukul lagi.
“Gama!” Fara yang berniat menghampiri Gama pun sudah terlebih dulu diseret oleh Elang ke dalam mobilnya. Ia menutup pintu mobil dengan kasar lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Meninggalkan Gama yang tak sadarkan diri di sana.
“Lo jahat Elang! Lo berengsek!” Fara menangis histeris, ia tak habis pikir kenapa Elang bisa seperti itu.
“Diem! Itu akibatnya kalo lo gak nurut sama gue, Fara!”
*****
Kesel deh sama Elang😏
Uhhh, Gama😭
Jangan lupa vote dan komentarnya..
Sampai jumpa di part selanjutnya..
Dahhhh
KAMU SEDANG MEMBACA
Pseudo
Ficção AdolescenteDalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa berharap apa pun. Dalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa membuat semua menjadi nyata. Karena pertemuan ini, hanya sebuah angan dan semu.
