Happy Reading....
Flashback on
Elang memasuki gerbang Sekolah Taruna Bangsa, kemudian dia memarkirkan motornya. Dia bergegas berjalan di koridor menuju kelas, sesampainya di kelas dia melihat Fera berjalan melewati kelas Elang.
Elang berlari mengejar Fera. "Fer, tunggu!" teriak Elang.
Fera membalikkan tubuh dan melihat Elang berlari ke arahnya. Saat Elang sudah berada di dekat Fera, dia kemudian merangkul bahu cewek yang berada tepat di sampingnya.
"Fer, gue mau ngomong serius sama lo," ucap Elang dengan wajah yang serius. Fera tampak bingung, apa yang mau dibicarakan Elang padanya sampai-sampai Elang memasang wajah yang tampak serius.
"Iya, ngomong aja langsung," ucap Fera melanjutkan langkahnya.
"Tapi bukan di sini tempatnya, gue mau ngomong berdua sama lo." Elang menggenggam tangan Fera dan membawanya ke rooftop.
Sesampainya mereka di rooftop, Elang mengajak Fera ke tengah atap bangunan itu. "Gue to the point aja, yang lo tanyain ke gue masalah siapa Fara, gue bakalan jawab sekarang." Elang yakin ini saatnya dia menceritakan semuanya ke Fera.
"Fara adalah orang yang dulunya gue cintai, dia juga korban bully dari Sheira atau G-Team. Dan Sheira penyebab kematian Fara. Fara dan Fera adalah orang yang sama, jadi maksudnya sebenarnya lo itu Fara, cuma nama lo aja di ubah," ucap Elang.
Fera langsung menyela, "Jadi, sebenarnya gue ini Fara? Yang ngebunuh gue Sheira. Itu penyebab Gama selalu ngira gue adalah Fara," ucap Fara dia mulai tersulut emosi mendengar penjelasan Elang.
"Iya, lo Fara. Korban bully dari Sheira, yang ngebuat lo merasa tersiksa selama lo sekolah di Taruna Bangsa," jelas Elang dengan menundukkan kepalanya.
Fera kemudian berlari meninggalkan rooftop, dia ingin segera menghampiri Sheira. Tetapi, suara bel masuk berbunyi. "Ah, sial gue harus tunggu jam istirahat," ucap Fera dengan emosi, berjalan menuju kelasnya.
Di kelas, Fera tidak bisa konsentrasi mendengar penjelasan guru yang menerangkan. Dia terus memikirkan perilaku Sheira sebelum dia menjadi Fera. Dia bertekad untuk membunuh Sheira, dia mau membalas dendam. Sheira harus merasakan penderitaan yang Fara dulu rasakan.
Flasback off
***
"Akhirnya jam istirahat telah tiba, gue harus buru-buru ke kelas si pembunuh!" ucap Fera, dengan menekankan kata pembunuh.
Fera berjalan cepat sedikit berlari, sesampainya dia di ambang pintu kelas Sheira, dia langsung meneriakkan nama Sheira. "Sheira, sini lo! Gue akan membalas perbuatan lo selama ini ke gue!" Fera berjalan menghampiri Sheira.
Sheira kaget, tidak mengerti maksud dari omongan Fera. Dia tetap di tempat semula, Fera berjalan menghampiri dia.
"Lo gak usah pura-pura gak tau apa-apa deh, lo 'kan yang bunuh Fara?!" kata Fera, menunjuk ke arah Sheira dengan emosi
Sheira tiba-tiba teringat kejadian di masa lalu, kejadian Fara jatuh dari rooftop.
Dia menggelengkan kepala. "Bukan gue yang ngebunuh Fara, dia sendiri yang memilih untuk bunuh diri. Ya, dia yang bodoh dan lemah," ucap Sheira dengan menganggukkan kepala.
"Iya 'kan, Nya, Bel? Fara sendiri 'kan yang memilih bunuh diri? Bukan gue yang bunuh dia 'kan?" tanya Sheira kepada sahabat bergantian.
***
Fanya dan Bela hanya diam, mereka berdua tidak bisa berkata-kata entah kenapa.
"TETAP AJA LO PEMBUNUH! LO YANG NGEBUAT GUE SELAMA INI MENDERITA! LO HARUS MATI! LO GAK PANTAS UNTUK HIDUP!" ucap Fera, dia langsung mendorong Sheira ke tembok.
"Lo selalu bully Fara 'kan? Lo selalu nyiksa Fara 'kan? Sekarang lo akan rasain yang pernah Fara rasain! Dan yang nyiksa lo sekarang ini, yang di depan mata lo ini adalah Fara yang selalu lo siksa dan bully!" Emosi Fera dia langsung menjambak rambut Sheira.
"Argh, apaan sih lo tarik-tarik rambut gue?!"
Seluruh penghuni kelas lantas kaget, dan mengerumungi mereka berdua. Fanya dan bela tersentak mendengar omongan dan perbuatan Fera.
"Benar apa yang dikatakan Sheira, Fara bunuh diri. Kematian dia gak ada sangkut pautnya dengan Sheira," bela Fanya, dia berusaha menarik Fera yang mengurung Sheira.
"SHUT UP! LO GAK BERHAK BICARA APA PUN DI SINI! KALIAN BERDUA SAMA AJA DENGAN PEMBUNUH INI!" sarkas Fera menunjuk Fanya dan Bela bergantian.
Fanya, Bela, dan penghuni kelas lainnya tersentak mendengar teriakan Fera. Mereka bingung ingin berbuat apa untuk menghentikan Fera.
***
"Pasti lo bahagia semenjak kematian Fara tersebar, LO SENANG KAN?!" teriak Fera, dia melayangkan tangannya menampar pipi Sheira.
Plak!
Sheira yang semula diam tiba-tiba mendongakkan kepala. "Maksud lo apaan nampar gue?!" teriak Sheira, tak mau kalah dengan suara Fera.
"Ini belum seberapa yang udah lo lakuin ke gue dulu, gue tau lo gak pernah puas buat nyiksa gue!" tegas Fera.
"Iya, benar gue gak pernah puas nyiksa lo! Sampai gue dengar kabar kalau lo udah meninggal itu rasanya buat gue bahagia dan puas," balas Sheira dengan sinis.
Fera menghiraukan omongan Sheira, dia menampar kembali pipi Sheira. Berulang-ulang dia menampar pipi Sheira, kemudian sebuah tangan menahan tangan Fera.
***
Ya, orang itu adalah Gama. Dia langsung menarik Sheira dan berlari ke parkiran.
"Sini kunci mobil lo!" pinta Gama.
Sheira langsung memberikan kunci mobilnya. Gama langsung menyuruh Sheira masuk ke dalam mobil. "Buruan masuk!"
Fera yang melihat Gama dan Sheira melewati gerbang Sekolah Taruna Bangsa, menunjukkan senyum smirknya.
Fera pun bergegas menuju mobilnya, dan mengendarai mobilnya mengejar mobil Sheira. Tampak Fera belum menemukan mobil Sheira, dia melajukan mobilnya dengan cepat mengejar mobil Sheira. Sampai dia melihat mobil Sheira yang sepertinya tidak bisa berhenti, buktinya mobil itu tetap melaju padahal di depannya ada sebuah truk dari arah berlawanan.
Tak lama kemudian terdengar suara klakson bersamaan suara benturan yang sangat keras.
*****
Jangan lupa vote dan komentarnya.
Daaahh
KAMU SEDANG MEMBACA
Pseudo
Teen FictionDalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa berharap apa pun. Dalam pertemuan ini, tidak ada yang bisa membuat semua menjadi nyata. Karena pertemuan ini, hanya sebuah angan dan semu.
