Bab 28

162 24 0
                                        

Happy Reading...

Embusan angin lirih mulai menyapu lembut setiap helaian rambut sesosok gadis di sana. Masih di tempat yang sama. Fera mulai menanti Elang untuk membuka suaranya. Lelaki di hadapannya itu kini mulai mengembuskan napas kasar, kemudian menatap Fera dalam-dalam.

"Lang, sorry, gue tau kalo ini semua berat buat lo kalo harus nyeritain soal masa lalu. Tapi gue juga gak mau jadi orang yang terus penasaran tentang siapa perempuan yang sampe buat lo sama Gama rebutan. Bahkan sampe Gama nganggep gue itu Fara, bukan Fera lagi," ucap Fera membalas tatapan Elang.

"Ck, gue ngerti Fer sama perasaan lo. Gue juga udah bilang, kan. Kalo gue bakal nyeritain semuanya tentang Fara," ucap Elang.

Waktu seolah-olah berhenti saat itu juga. Keduanya saling menatap satu sama lain. Entah apa yang membuat mereka tak membuka suara sama sekali.

Sampai suara benda yang saling terbentur menyadarkan keduanya. Suara yang tak lain berasal dari jalanan. Fera dan Elang yang mengetahui hal itu pun langsung menghampiri tempat asal suara itu.

Sebuah mobil berwarna hitam yang menabrak seorang lelaki yang tak lain ialah Gama. Gama yang sedari tadi melihat dan mendengarkan pembicaraan Elang dan Fera. Ia memutuskan untuk pergi setelah mendengar bahwa Elang akan menceritakan segalanya tentang Fara. Gama hanya takut jika hatinya tak mampu lagi mengingat segala cerita tentang Fara. Seorang perempuan yang paling ia sayang. Ketika melangkahkan kakinya menuju jalanan, ia melamun dan fokusnya kacau. Tanpa ia sadari, sebuah mobil melaju dan menghantam tubuhnya.

"Elang, itu-" ucap Fera tak percaya apa yang terjadi.

"Udah, gak usah lo pikirin. Gama bukan siapa-siapa lo," ucap Elang dengan entengnya tanpa menghiraukan keadaan Gama.

"Gak, Lang, kita harus bawa dia ke rumah sakit," ucap Fera yang sedikit terbesit rasa khawatir.

"Kenapa? Lo khawatir sama-" Belum sempat Elang mengakhiri ucapannya, dengan cepat Fera memotongnya.

"Iya. Karena dia juga salah satu sumber tentang Fara."

"Cih, serah lo."

Dengan meminta bantuan orang-orang di sekitar tempat kejadian, Fera segera membawa Gama ke rumah sakit dengan Elang yang terpaksa ikut juga.

====

Gama dinyatakan patah tulang di bagian kaki oleh dokter dan kini, ia masih terbaring tak sadarkan diri.

Fera dan Elang terpaksa menunggu sampai Gama tersadar karena mereka berdua sama sekali tak memiliki nomor telepon keluarga Gama untuk memberitahu kepada mereka bagaimana keadaan Gama sekarang.

Seorang suster akhirnya keluar dan memberitahu Fera. "Permisi, pasien atas nama Gama telah sadarkan diri. Kalian bisa menemuinya sekarang."

"Terima kasih, Sus," ucap Fera dan Elang serempak.

Keduanya bergegas menemui Gama agar mereka juga bisa cepat-cepat meninggalkan Gama dengan menghubungi keluarganya.

"Fara, lo ada-"

Ketika Elang hendak menjawab, Fera terlebih dahulu mengangkat kelima jarinya ke arah Elang dengan maksud agar ia diam saja. Dan Elang terpaksa menuruti kemauan Fera.

"Gue Fera, bukan Fara," ucap Fera dengan cepat sebelum Gama menyelesaikan kalimatnya.

"Oh, sorry, Fer. Gue kira-" Gama menggantungkan ucapannya. Ia menatap Fera dengan tatapan ... kecewa?

"Gue tahu kok," ucap Fera sembari menatap netra Gama sebentar. "Oh iya, gue sama Elang harus cepet-cepet pulang. Lo bisa kasih tahu kita nomor telepon keluarga lo?"

"Bisa." Langsung saja Gama mulai menyebutkan beberapa digit nomor telepon salah satu keluarganya.

Setelah Gama memberi nomor telepon salah satu keluarganya atau bisa disebut ayahnya. Fera segera menghubungi dan memberitahu keadaan Gama. Setelah mendapat kepastian bahwa ayah Gama akan datang, Fera segera pamit. "Gue pulang ya."

"Iya."

Elang terlebih dahulu keluar dari ruangan. Sementara Fera, ketika ia mulai berjalan beberapa langkah, Gama menyekal tangannya. Ia yang terkejut pun menoleh ke arah Gama. "Kenapa?"

"Fer, gue denger apa yang lo bicarain sama Elang tadi. Soal Elang yang mau cerita tentang Fara. Sebenarnya semua ini terlalu berat kalo harus ingat lagi soal masa lalu. Apalagi, Fara. Tapi gue pengen lo tahu soal dia. Gue cuma mau bilang. Fara itu segalanya buat gue. Dia bahkan rela ngorbanin nyawanya demi semua orang. Tapi, takdir berkata lain, Fer. Fara sekarang udah ga ada," ucap Gama yang menatap netra Fera lekat-lekat dengan mata berkaca-kacanya. "Udah itu aja. Sorry udah gangu waktu lo."

Waktu seolah-olah berhenti sejenak dan tak mengizinkan Fera untuk bergegas pergi. Fera hanya terdiam, membisu. Mendengar sekilas cerita tentang Fera telah membuat hatinya sesak? Aahh, ia bahkan tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

"Woi, Fer! Lo gak jadi pulang?" Suara lelaki yang ada di ambang pintu menyadarkan lamunannya.

"I-iya, sebentar." Ia segera menatap sekilas Gama dan tersenyum kecil. Kecil sekali, dan mungkin hanya Gama yang bisa melihatnya.

"Gue seneng, Fer, lo ada di sini. Bahkan senyum lo tadi meyakinkan gue bahwa lo itu emang Fara," batin Gama. Seberkas senyum indah mulai terbit dari bibirnya.

*****

Gimana?
Jangan lupa vote dan  komentarnya.

Dahhh

PseudoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang