Bab 10

282 42 32
                                        

Ga ada yang lebih brengsek dari cowok yang mencintai fisik karena obsesi dibandingkan mencintai dari hati! -Fara A Utami

( -beatrixaudrianne)

Happy Reading

Fara meringkuk didalam selimut, kala mendengar petir yang begitu menggelegar, sepertinya badai akan datang kapan saja. Sejak kecil, Fara selalu takut akan satu hal, yaitu petir. Tetapi di masa lalu, akan ada mama yang akan memeluknya ketika ia ketakutan. Mengingat masa lalu, Fara menghela napas. Andai waktu bisa terulang kembali.

Kring! Kring!

Dering telepon memecah kesunyian dalam kamar Fara, ia melihat nama si penelpon, ragu-ragu sesaat sebelum akhirnya mengangkat telepon.

"Halo? Lo di rumah?"

"Hmm," jawab Fara singkat.

"Gue di depan rumah lo. Bukain pintu! Dingin nih."

Fara membelalakkan matanya terkejut, lalu mengintip dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Ia melihat seorang pemuda berdiri di depan pintu rumahnya membawa plastik dan memegang telepon di telinganya, iya, Elang.

Fara sedikit ragu apakah harus membuka pintu untuk singa atau berpura-pura tidak tahu. Di luar hujan turun begitu deras, pasti dingin ... akhirnya, sifatnya yang welas asih lebih mendominasi. Ia turun tanpa mengganti piyamanya. Toh, ia selalu memakai piyama panjang.

Fara membuka pintu, namun masih tak mempersilahkan Elang masuk ke rumahnya.

"Setakut itu lo sama gue?" Elang tersenyum tak berdaya. Fara mengangguk ragu.

"Gue gak jahat kok."

"Gue gak pernah pengen jadi orang jahat, Far," sambungnya lirih.

Fara terkejut melihat sifat Elang saat ini. Apa benar dia memiliki kepribadian ganda? Fara memperhatikan Elang yang basah kuyup, ia semakin tak tega. Dan akhirnya mempersilakan pria yang selalu menjadi iblis di dalam pikirannya masuk.

Fara mengambil handuk dalam lemari, sebelum dengan kikuk memberikannya pada Elang. Elang tersenyum sebelum mengucapkan terimakasih.

"Lo ngapain ke rumah gue?" tanya Fara ragu. Ia menatap Elang dengan was-was.

Elang terkekeh geli dengan sikapnya. "Lo kenapa, sih? Takut bakal gue makan?"

"Enggak," jawab Fara menggelengkan kepalanya.

"Takut gue apa-apain?" tanya Elang, namun Fara tidak menjawab.

Elang menghela napas, "Gue gak bakal ngerusak lo. Gue gak sebejat itu juga kali, Far," ujarnya.

Elang semakin tak berdaya melihat Fara yang masih was-was menatapnya dengan tak percaya.

"Gue tau, gue salah nyosor lo tadi. Maafin gue ...."

Elang langsung berlutut melihat Fara yang memalingkan wajahnya. Fara yang melihat itu tampak terkejut, Ia buru-buru memegang bahu Elang dan menyuruhnya untuk kembali duduk di sofa.

"Lo ngapain sih?!" seru Fara.

"Gue mau ngebuktiin kalo gue tulus mencintai elo, Far!" ungkapnya tegas.

"Ck, lo apaan sih!"

"Gue udah lama suka sama lo. Awalnya, gue cuma suka sama lo karena lo mirip almarhumah mamah gue," Fara terdiam menunggu Elang menyelesaikan ceritanya.

"Gue gak jahat, Far. Gue gini bukan mau gue, karena kalo gue lemah, semua milik mama bakal hilang. Gue gak pengen papa gue yang berengsek dapetin semua milik mama. Lo tau gimana kagetnya gue ketika tau papa yang selama ini gue kagumi, ternyata seorang yang berengsek? Waktu itu gue masih enam tahun, ketika mama memilih bunuh diri karena hal yang papa gue lakuin. Gue kecewa, takut, marah. tapi gue tau, gue gak boleh jadi bocah lemah yang cuma bisa nangis. Sejak umur enam tahun, gue udah belajar cara melindungi diri. Gue gak terburu-buru ngambil aset mama yang papa ambil cuma karena amarah gue yang menggebu. Karena gue tau, gue belum cukup kuat. Dan setelah bertahun-tahun gue hidup dalam lingkungan yang keras, gue jadi gue yang saat ini!"

Hanya di depan Fara, Elang bisa bercerita tentang masa lalunya yang pahit. Entah ini strategi baru Elang untuk mendapatkan simpati Fara atau benar-benar ketulusannya, hanya Tuhan dan Elang yang tahu.

Tiba-tiba Fara memeluk Elang, membuat Elang terkejut. Ia mengangkat sebelah alisnya, tetapi kehangatan ini hanya sekejap. Segera, Fara kembali membuka jarak dengan dirinya dan itu membuatnya entah kenapa merasa kosong.

"Gue janji gak bakal kasar sama lo!"

''Kecuali lo gak nurut!" sambungnya dalam hati.

"By the way, gue bawain lo sup buntut. Tapi kayaknya udah dingin deh," sesal Elang.

"Tinggal di angetin lagi," ucap Fara sebelum bergegas ke dapur dengan plastik di tangannya.

Tak lama, Fara datang dengan semangkok besar sup buntut dan dua piring nasi. Elang yang melihat itu langsung bergegas membantu.

Keduanya makan bersama di ruang tamu. Adegan ini begitu harmonis, seperti keduanya seorang teman baik, bukannya musuh yang selalu bertengkar.

Eits, tapi Fara tidak pernah menganggap Elang musuh. Dia hanya kesal terhadap cowok ini.

"Oh, ya,  lo ngapain ke rumah gue ujan-ujan begini?" tanya Fara begitu keduanya selesai membereskan sisa makanan.

"Lo gak takut petir? Gue cuma mau nemenin sih, biar seremnya berkurang," jawab Elang setengah bercanda.

"Lo sendirian di rumah? Bokap? Nyokap?" tanya Elang mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Nyokap lagi ngurus nenek di luar negri. Gue ikut bokap, dia lagi kerja," jawab Fara acuh tak acuh.

Elang tak lagi melanjutkan pembicaraan sensitif jadi ia diam, Fara diam. Dan hanya ada kesunyian di ruangan itu. Dan jangan lupakan kilat yang menyala-nyala.

"Lo ke sini naik apa?" tanya Fara mencoba memulai kembali pembicaraan. Sepertinya, cara ini efektif menghilangkan rasa takutnya.

"Motor. Mobil gue di bengkel," jawab Elang segera.

"Hujannya deras banget," keluh Fara.

Elang menaikkan alisnya, "Lo mencoba mengusir gue secara tidak langsung?"

"Udah jam dua belas malam. Jadi gak mungkin gue bisa pesen taxi online. Lagian, di luar deras." jelas Elang.

"Terus gimana?" tanya Fara tanpa sadar.

"Gue nginep semalam ya? Please ... gue janji gue gak bakal ngapa-ngapain."

Fara mengerutkan kening tak setuju dengan ide Elang.

Tetapi memikirkan alasan masuk akal Elang, ia hanya bisa mengangguk dengan enggan. Fara masuk ke salah satu kamar di lantai dua. Lalu turun dan memberikan kaos serta celana milik papanya.

"Ganti dulu, entar masuk angin."

"Lo bisa tidur di kamar ini." Fara menunjuk pintu kamar di dekat tangga.

Fara langsung naik ke lantai dua tanpa berbalik. Sepertinya ia takut jika harus berbalik dan akan melihat iblis pemakan manusia.

Elang juga tak mengatakan apapun tentang tingkah aneh Fara, ia langsung masuk ke kamar yang ditunjuk Fara.

Keesokan harinya, Elang menyelinap masuk ke kamar Fara pagi-pagi sekali.  Dalam hati ia menyeringai, 'gadis bodoh ini bahkan tak mengunci pintu kamarnya.'

Elang melihat Fara masih tertidur lelap, piyamanya sedikit berantakan, dan rambutnya acak-acakan, namun itu tak mempengaruhi kecantikan Fara sedikitpun.

Elang memposisikan kamera ponselnya dengan benar sebelum memotret. Tak lupa, ia juga mengambil beberapa foto selfi.

Ia menyeringai, "Sekarang lo gak bisa lepas dari gue, Fara."

*****

Lah, Elang ngapain foto Fara?
Ngepens sama dia?
Gak usah foto sembunyi-sembunyi kali, pas Fara lagi tdr pula.

Jangan lupa Vote dan komentarnya...

Sampai jumpa di part selanjutnya..

Daahhh

PseudoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang