Ini sudah sebulan sejak gue kembali ke Jakarta. Jujur, gue senang karena bisa membantu anak mantan bos gue yang sudah menyelamatkan hidup gue. Tapi tidak gue sangka bakal semelelahkan ini bekerja bersama Maharani Dewantara!
Walau umurnya beda jauh tiga puluh tahun dari ayahnya, tapi anak itu bekerja sekeras ayahnya! Gue kagum, tapi juga khawatir karena dia sampai mengabaikan apapun yang berhubungan dengan dirinya. Ck!
Gue merebahkan badan gue di sofa ruang tamu di apartemen gue. Lelah karena habis berjogging. Mungkin karena usia gue yang sudah ga muda lagi. 28 tahun...
Ini sudah dua puluh tahun sejak orang tua gue meninggal dan membiarkan gue menjadi seorang yatim piatu. Untung saja Hendra Dewantara, mantan bos dan ayah Maharani Dewantara, mengangkat gue sebagai anak angkatnya. Kalau tidak, gue tidak yakin masih bisa bersekolah di sekolah asrama terelit, kuliah dengan fasilitas lengkap, bahkan kerja di berbagai perusahaan ternama!
Gue jadi ingat nasihat Om Hendra sebelum akhirnya gue disuruh pergi dari perusahaan karena kebangkrutan yang mendadak itu.
"Merlyn, saya harap kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu. Kamu sudah kaya, tapi bukan kekayaan yang membuat kamu bahagia. Kamu butuh seorang lelaki untuk menjaga kamu. Menemani kamu dengan setia, sampai akhir hayat."
Seorang lelaki.
Gue hanya bisa tersenyum kecut. Gue juga tahu itu, tapi tidak semudah itu menemukan seorang lelaki yang bisa menemani dengan setia sampai akhir hayat.
***
"Selamat pagi Arnold... " sapa gue ke arah salah satu pelayan setia yang sedang sibuk membuat secangkir kopi.
"Oh... selamat pagi juga, Merlyn! Pesan yang seperti biasa??" tanyanya.
Gue mengangguk, lalu menunggu Arnold yang sibuk membuatkan gue secangkir kopi favorit gue setiap kali gue datang ke sini. Arnold berusia paruh baya, tapi dia betah sekali bekerja di kafe ini. Padahal dia sendiri adalah pemiliknya. Ssstt.. ini rahasia!
"Silahkan Merlyn..." kata Arnold sambil menyodorkan secangkir kopi ke arah gue.
Hem... wanginya nikmat sekali.
"Terima kasih Arnold!" ucap gue sambil mengambil cangkir kopi itu dari Arnold.
Gue melihat sekeliling kafe ini. Tidak gue sangka, ramai sekali! Mungkin karena ini jam kantor, jadi banyak yang menikmati makan siang atau sekedar bersantai di kafe ini. Lagipula, kafe ini sangat nyaman karena tema garden cafe yang digunakannya.
Gue terus mencari tempat kosong. Tapi ternyata semua penuh! Sepertinya gue harus duduk bersama salah seorang pengunjung di sini. Hm... siapa ya?
Mungkin lelaki yang sibuk memandang jendela itu saja ya? Sepertinya dia sendirian dan tidak menunggu seseorang. Sebaiknya gue coba, daripada gue tidak dapat tempat duduk sama sekali!
"Permisi... saya boleh duduk di sini?" tanya gue sopan.
Lelaki itu menoleh, dan menatap gue lama. Bahkan sampai mengerutkan alisnya. Mungkin dia bingung karena gue memilih duduk bersamanya. Buktinya, sekarang dia sibuk melihat ke kiri dan kanan.
"Silahkan, duduk saja Mer." Kata lelaki itu sambil menyunggingkan senyum.
Sekarang giliran gue yang mengerutkan dahi. Lelaki ini tahu nama gue???
"Kita saling kenal?" tanya gue yang sudah mengambil tempat duduk di depannya.
"Tentu saja!" kata lelaki yakin.
Hm.. dimana? Gue tidak ingat sama sekali. Siapa lelaki ini?
Gue memperhatikan dengan detail wajahnya. Kulitnya bersih putih, hidungnya mancung, bibirnya merah, ditambah dengan matanya yang berwarna biru yang sanggup membuat gue menahan nafas selama beberapa detik. Orang asing? Siapa ya?

KAMU SEDANG MEMBACA
My Wedding Story
RomanceAnother story dari "I have to be STRONG!" “Kalau gitu, lu mau nikah sama gue ga?” Gary bilang apa? Dia kan Cuma tau gue belum menikah, bukan berarti gue tidak punya pacar kan? Walau kenyataannya gue juga belum punya pacar sekarang ini. Oh, mungkin...