Bab 34 : Bimbang

31.9K 1.6K 11
                                    

Merlyn POV

"Jadi dia itu CEO dari Hadinata Company?" tanya Papa saat kami baru saja duduk di sofa.

"Ya. Dia Gary Hadinata, Pa." jawab gue.

"Lalu sekarang kamu mau bagaimana? Tidak mungkin kamu mau membiarkan ayah dari anak-anak kamu berpisah dari keluarganya kan?" tanya Mama.

Ya. Itu juga yang sedang gue pikirkan. Alasan terkuat gue membiarkan Geraldo dan Gissela bersama Gary di kamar ya karena kedua anak gue butuh kasih sayang ayahnya. Mereka sangat menginginkan sosok seorang ayah, dan semua itu ada pada diri Gary!

Tapi bagaimana dengan Gary sendiri? Maukah dia menerima kedua anak gue? Bagaimana kalau sebenarnya dia sendiri sudah punya keluarga? Lima tahun sudah berlalu dan umur Gary sudah tiga puluh lima tahun. Ibunya pasti sudah menyuruh dia menikah! Mana mungkin Gary menunggu gue lagi?

Jika memang seperti itu, gue tidak boleh sama sekali menganggu rumah tangganya! Gary berhak bahagia tanpa terbeban dengan gue maupun kedua anak gue.

Huff... gue tidak mau menjadi seorang istri kedua ataupun perusak rumah tangga orang lain!

"Gary belum nikah, kalau lu mau tau." Kata Alva seakan membaca pikiran gue.

Gue hanya diam.

Walau Gary belum menikah, tidak menutup kemungkinan kalau Gary tidak menyukai gue lagi kan? Lima tahun itu waktu yang sangat lama. Siapa tahu, Gary lelah menunggu gue.

"Dan dia selama lima tahun ini seperti orang gila mencari lu. Dia berubah jadi workaholic demi mengalihkan pikirannya dari lu. Untung aja dia ga minum atau ngelakuin yang ga bener!" tambah Alva.

Huff...

Tapi mungkin saja semua itu Gary lakukan atas dasar rasa bersalah. Iya kan?

'Kamu itu bodoh ya, sudah jelas lelaki itu mencari kamu karena cintanya terlalu besar sama kamu!'

Gue menatap tak percaya ke arah Papa. Tidak mungkin, Gary tidak mungkin masih mencintai gue. Sudah lima tahun berlalu!

'Sadarlah! Atau kamu mau selamanya tinggal di masa lalu?'

Tentu saja tidak mau!

Jika memang benar Gary masih mencintai gue, berarti kedua anak gue pun pasti akan dicintainya. Tapi bagaimana dengan perasaan gue? Apa benar gue masih mencintai Gary? Apa perasaan dari lima tahun yang lalu itu masih ada? Masih tersimpan?

'Jangan bodoh! Temui mereka!'

Ah Papa. Bagaimana gue menemui mereka di saat pikiran gue bercampur aduk. Apa yang harus gue bilang ke Gary?

"Res... bicara dong! Capek nih aku menebak-nebak apa yang kamu bilang sama Merlyn!!!" omel Mama.

Gue dan Papa langsung menoleh ke arah Mama dan melotot kaget. Jadi Mama tahu kalau sedari tadi gue dan Papa sedang berkomunikasi?

"Kalian boleh bilang kalau Mama ini bawel dan ga peka, tapi sebenarnya Mama juga tau apa yang kalian ngomongin! Ah... dasar! Res, untung saja kamu itu ga pernah gunain kemampuan kamu itu untuk mengaet perempuan lain yang peka dengan tatapan kamu itu. Kalau engga, aku akan segera pergi dari rumah ini!"

Ow ow ow....

"Maaf sayang, aku sama sekali ga tau kalau kamu juga bisa mendengarnya selama ini! Maaf..." kata Papa tulus.

"Ya ya ya.. aku sudah biasa kok. Lagipula, aku bener-bener ga tau kamu ngomong apa sama Merlyn. Cuma nebak. Oh iya, Mer, mending kamu ke kamar gih. Cari tahu yang benernya gimana. Kalau Mama lihat sih, Gary cinta mati sama kamu."

Sontak, gue dan Papa langsung melotot kaget lagi. Ini yang namanya hanya bisa menebak? Mama itu benar-benar paranormal!

"Lagipula, mana ada orang dengan perasaan ga cinta tapi setiap malam ngigauin nama orang itu! Ck! Sana cepat ke kamar!" usir Mama.

Hahaha.. Ternyata gue juga tidak bisa berbohong sama Mama. Jadi selama ini kalau gue bohong itu ketahuan ya? Yah, sia-sia selama ini gue menutup-nutupi hal dari Mama. Papa dan Mama itu sungguh ajaib dan luar biasa!

"Sebenarnya kalian itu ngomong apa sih?!" kata Alva jengkel karena tidak mengerti.

Tapi kami bertiga hanya tersenyum dan terkekeh. Biarlah hanya kami bertiga yang tahu.

***

Ketiga orang yang mempunyai kedudukan tertinggi di hati gue sedang tidur lelap. Manis sekali... Gue segera mengambil hp dari kantung celana dan memotret mereka. Akan gue jadikan foto ini sebagai wallpaper hp gue.

Padahal masih jam empat sore, tapi kenapa malah sudah tertidur seperti ini?

Hoaaammm...

Ah, gue jadi ikut mengantuk. Sebaiknya gue ikutan tidur...

***

Gary POV

Saat gue terbangun, jujur saja gue kaget setengah mati. Merlyn ada di samping gue! Tapi mengingat kami tidur berempat di ranjang king size ini, gue malah tersenyum lebar. Benar-benar seperti keluarga harmonis. Iya kan?

Ah... keluarga gue.

Andai saja gue ada dari saat keluarga kecil ini terbentuk, pasti sangat menyenangkan. Gue bisa menikmati setiap momen yang ada bersama kedua anak gue, dan seorang wanita yang gue cintai. Hanya hal sederhana tapi bagi gue cukup luar biasa. Mungkin karena sudah menginjak umur tiga puluh lima tahun, pikiran gue pun semakin dewasa.

Pintu terbuka.

"Ayo keluar. Kita perlu bicara." Kata pria paruh baya yang sukses membuat gue memar sana sini.

Gue berusaha menurut, tapi perlu beberapa waktu untuk menggeser Gissel dari pelukan gue dan Gerald dari tangan gue. Ahh... keluarga gue yang sederhana. Mungkin sebaiknya gue potret mereka saat tidur seperti ini.

Mereka terlihat sangat manis!

***

"Silahkan duduk, Nak Gary. Perkenalkan, nama saya Rina. Dan suami saya, Ares." Kata seorang wanita paruh baya.

Gue mengangguk dan mengambil tempat duduk di hadapan mereka. Alva juga duduk di samping gue, jari-jarinya sibuk mengetik. Dia pasti mengirimkan pesan kepada istrinya. Ck! Bikin iri saja!

"Kenalin mereka bro, mereka itu orang tua Reinald. Dan Pak Ares, dia pemilik Wirawan Group yang sekarang sudah pensiun." Tambah Alva.

What?

Mereka orang tua Reinald Wirawan? Mantan calon suaminya Merlyn??? Astaga, bagaimana mungkin Merlyn malah kabur kemari, sedangkan dia kabur dari gue pun karena teringat masa lalunya bersama Rei! Sulit dipercaya!

Tapi yang membuat gue lebih sulit percaya adalah kenyataan bahwa orang yang tadi menghajar gue itu adalah pemilik Wirawan Group. Salah satu perusahaan besar yang merambat ke mancanegara! Dan juga salah satu perusahaan yang bersaing dengan gue. Wah, akhirnya gue bisa bertemu langsung dengan pemiliknya yang tidak pernah muncul ini.

"Jangan besar kepala. Kamu itu masih bocah ingusan! Sombong dengan apa yang sekarang kamu punya, itu kelemahan terbesar para pembisnis!" kata Om Ares telak.

Bagaimana bisa dia tahu apa yang gue pikirkan?!

"Saya tidak akan membiarkan kamu dengan seenaknya membawa pergi anak saya dan kedua cucu saya!" tegas Om Ares.

Loh?

"Walaupun tidak ada darah saya yang mengalir di dalam mereka, tapi mereka adalah keluarga saya!" tambah Om Ares.

Wah, ternyata Merlyn dan kedua anak gue dilindungi dengan baik di sini ya? Syukurlah kalau selama ini mereka selalu baik-baik saja. Baik segi materi maupun kasih sayang.

Tapi kenapa gue merasa ujung dari pembicaraan ini ga enak ya? Apalagi tatapan Om Ares yang bikin gue merasa ditusuk pisau! Seakan-akan gue ingin merebut sesuatu saja.

"Kamu boleh pergi sesegera mungkin. Tanpa siapapun dari rumah ini!" Kata Om Ares mengakhiri pembicaraan.

Tanpa Merlyn dan kedua anak gue???

My Wedding StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang