Bab 24 : Damian (2)

28.9K 1.3K 14
                                    

Flashback

(Sembilan tahun yang lalu)

Renata, Fanny, bahkan Alva yang ada di tempat antah berantah heboh karena kabar lamaran yang gue ceritakan. Tapi, yang lebih menghebohkan adalah kabar selanjutnya. Kejadian sehari setelah lamaran.

PLAKKKK

Satu tamparan mendarat dengan mulus di pipi gue. Jelas saja rasanya ingin gue tampar balik orang itu. Tapi dengan kesabaran penuh, gue mencoba menatap Mariska. Sabar sabar sabar....

"BERANI-BERANINYA LU REBUT DAMIAN DARI GUE DAN DENGAN SEENAK JIDAT LU BILANG KE SEMUA ORANG KALAU DIA NGELAMAR LU HAH?!"

Loh, itu memang kenyataannya. Tapi gue tidak pernah merebut Damian kok!

"Ris, maksud lu apa? Gue ga ngerebut Damian dari siapa-siapa tuh!" kata gue balas berteriak.

"HALAHHH... PURA-PURA GA TAU AJA LU! DAMIAN ITU MASIH TUNANGAN GUE!!! TUNANGAN GUE! DAN LU NGEGODA DIA DENGAN SENGAJA KAN?!" teriak Mariska.

What?

Tapi Damian sendiri yang bilang ke gue dan anak-anak satu kampus kalau dia sudah putus dari Mariska. Oke, selama satu tahun ini gue memang jarang melihat Mariska di kampus. Kata Renata sih, Mariska sedang ada program pertukaran pelajar atau apa itu. Yang jelas, gue tidak mengerti kenapa pagi-pagi ini dia melabrak gue di depan pintu kelas!

"Damian bilang sendiri ke gue kalau dia udah putus dari lu. Dan lagipula, Damian yang ngajak gue pacaran. Gue ga ngegoda dia sama sekali!" kata gue membela diri.

"BRENGSEK! DAMIAN ITU MILIK GUE!!! GUE CINTA MATI SAMA DIA DAN LU DENGAN GA TAU DIRINYA MEREBUT DIA DARI GUE! LU TAU GA SEBERAPA HANCURNYA GUE SAAT KEMARIN NGELIAT LU DILAMAR DAMIAN DI RESTORAN ITU, HAH?!"

Untung saja kampus masih sepi. Mariska terus memaki dan berteriak, gue hanya setia mendengarkan semua kemarahan yang dia tuang. Sebenarnya apa yang terjadi?

"PLEASE JAUHIN DAMIAN... Gue-gue.... gue sayang sama Damian dan gue ga bisa ... gue... gue walau dijodohin sama Damian dan sok jual mahal dengan bilang kalau gue ga suka sama dia, padahal gue cinta sama dia.. gue sayang sama dia dan gue ga mau kalau ga sama dia!" kata Mariska yang mulai menangis.

"Akhirnya lu bilang juga, Mar.."

Gue langsung menoleh ke arah suara itu. Suara yang sudah menemani gue selama satu tahun ini. Suara Damian.

Gue tahu, Mariska juga menoleh ke arah Damian. Bahkan dalam hitungan detik, Mariska sudah berhambur ke pelukan Damian.

Dasar Damian brengsek! Harusnya gue mendengarkan dengan baik kata-kata Alva yang sangat membenci Damian. Harusnya gue tidak melibatkan perasaan. Ah, bodohnya gue!

"Dam, ada yang mau lu jelasin ke gue?" tanya gue dingin.

Gue sudah muak melihat adegan romantis yang ada di depan gue. Seperti tersadar, Damian dan Mariska melepas pelukannya. Gue masih menunggu jawaban Damian.

"Oke.. gue.. gue minta maaf sama lu, Mer." Kata Damian mengaku salah.

"Gue ga butuh maaf lu. Gue butuh penjelasan!" kata gue tajam sambil melipat tangan di depan dada.

"Mer, gue juga minta maaf. Udah nampar lu tadi... Maaf." Kata Mariska takut-takut.

"Lu diem aja Mar! Gue Cuma mau denger penjelasan Damian!!!" kata gue semakin tajam.

Gue terus melotot ke arah Damian. Gue harus mengaku, kalau ini permainan, dia berhasil! Karena gue terbawa suasana! Tidak tahukah dia kalau sekarang gue merasa sakit hati? Gue tidak berharap Damian akan meminta maaf, melepaskan Mariska, dan memilih gue. Tapi gue juga tidak mau mendengar penjelasan yang gue tahu akan membuat gue sakit.

Hanya saja, gue butuh kepastian!

"Maaf, gue Cuma manfaatin lu buat... buat-..."

"Buat bikin Mariska cemburu dan bilang dia cinta sama lu?" tebak gue.

Damian mengangguk lemah.

"Dengan cara pacaran sama gue dan melamar gue di depan matanya?" tebak gue lagi.

Damian mengangguk.

"Dan saat lu berhasil seperti sekarang, lu pura-pura bego atau ga sadar, kalau gue ini juga bisa ngerasain sakit hati?" tanya gue telak.

"Maaf..." kata Damian lirih.

Ah, sudah gue duga. Walau hanya setahun, tapi Damian sukses membuat hati gue terluka. Cukup sakit dan perih. Walau efeknya tidak seperti saat gue bersama Riki. Gue harus merelakan Damian kan? Yah, tapi sebelum itu, dia harus membayar untuk apa yang dia lakukan untuk hati gue ini.

"Lu masih inget kan gue ikut klub apa di kampus ini?" tanya gue.

"Ma-masih..." kata Damian takut-takut.

"Dan lu tau kan jabatan gue sebagai apa?" tanya gue yang sudah menampilkan seringai jahat.

"Ta-tau.."

Gue merenggangkan jari-jari gue dan sedikit melakukan pemanasan untuk kaki gue. Gue tahu Damian tidak bisa beladiri apapun, dia hanya seorang pemain basket. Sedangkan Mariska, sepertinya dia yang tidak tahu apa-apa juga merasa takut.

"Lu tau kan konsekuensi dari semua yang lu perbuat?" tanya gue untuk yang terakhir kalinya sambil melepas cincin dari Damian.

"Ya. Gue bener-bener minta maaf. Kalau lu mau ngehajar gue, silahkan aja." kata Damian pasrah.

Tanpa ragu gue melayangkan tendangan gue mengarah ke pipi Damian. Mariska sudah berteriak, tapi tidak ada yang terjadi. Gue berhenti tepat sepuluh senti sebelum kaki gue menyentuh pipi Damian.

"Heh, buka mata lu. Ngapain lu tutup-tutup mata?!" teriak gue.

Perlahan Damian membuka matanya dan melihat gue masih dengan posisi kaki di sebelah wajahnya. Gue segera menurunkan kaki gue, dan menarik nafas dalam.

"Jujur aja, gue mau teriak, marah, memaki, bahkan menghajar lu habis-habisan. Awalnya gue juga bingung kenapa gue dengan tanpa sadar menjawab 'ya'. Tapi ternyata gue tanpa sadar akhirnya suka sama lu. Sialnya, gue udah suka sama lu! Sayangnya lu malah Cuma main-main. Well, setidaknya semua sepadan. Lu berhak sama orang yang lu cinta, dan setahun ini lu udah jadi temen yang baik buat gue. Thanks for a year without tears." Kata gue sambil mengembalikan cincin yang baru saja kemarin diberikan Damian.

Flashback end

My Wedding StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang