Merlyn POV
"Boleh saya bicara dengan Anda?"
Gue langsung menoleh ke arah suara itu. Kalau tidak salah, wanita paruh baya yang berpenampilan keibuan ini Ibunya Gary yang ada di dalam ruangan Gary. Kenapa sekarang dia ada di depan ruangan gue?
Gue segera bangkit dari tempat duduk dan mendekati Ibu itu. Ternyata, di belakangnya ada pria paruh baya yang masih gagah dengan setelan kantor. Ayahnya Gary. Ah, sepertinya Gary mendapatkan mata birunya itu dari ayahnya. Warna yang sama.
"Boleh." Kata gue tetap tenang.
"Tapi, bisa kita bicara di luar saja? Sambil makan siang?" tanya Ibunya Gary.
"Maaf. Tapi satu jam lagi Pak Gary ada meeting. Saya tidak mau dianggap lalai dalam bekerja." Tolak gue halus.
"Saya pemilik perusahaan ini, dan saya yang meminta Anda ikut. Apa Anda masih ingin menolak?" tanya Ayahnya Gary.
Wah, susah juga ini.
"Saya sudah menelepon sekretaris saya untuk menggantikan Anda sementara waktu. Tidak ada alasan lagi kan?" kata Ayahnya Gary.
Sepertinya memang gue harus ikut.
Semua mata memandang bingung ke arah gue saat berjalan di lobby. Mungkinkah mereka semua mengenal siapa kedua orang di depan gue ini? Oh, tentu saja! Ayahnya Gary kan pemilik perusahaan ini. Besok, gue pasti jadi headline news di kantor ini!
Selama perjalanan, gue terus memikirkan kejadian tadi. Terus terang, gue sendiri takut untuk memotong kata-kata Gary dan berbicara seenaknya kepada kedua orang tua Gary. Tapi gue juga tidak terima karena dikatai sebagai wanita murahan. Seakan-akan gue bekerja memang dengan alasan yang tidak professional!
Gue sangat berterima kasih karena Gary membela gue, tapi gue juga merasa tidak enak karena Gary tidak tahan dengan kedua orang tuanya. Dia bahkan nyaris membentak kedua orang tuanya! Jangan sampai dia menjadi anak durhaka karena gue!
"Saya dan suami saya minta maaf karena menuduh kamu sembarangan." Kata Ibunya Gary saat kami sudah memesan makanan di VIP room sebuah restoran.
"Ga masalah Bu, saya maklum." Kata gue sopan.
"Kalau boleh tahu, apa hubungan Anda dan anak saya?" tanya Ibunya Gary.
"Saya hanya sekretarisnya saja."
"Sebelumnya?"
Sebelumnya? Hm.. apa Gary sudah menceritakan kalau gue ini temannya?
"Saya hanya teman Gary saat di kampus dulu. Lalu beberapa bulan yang lalu, kami bertemu kembali setelah sekian lama." Kata gue bijak.
"Bagaimana perasaan Anda terhadap anak saya?" tanya Ibunya Gary.
Maksud pertanyaannya apa?
"Tidak ada perasaan seperti suka atau jatuh cinta?" tanya Ibunya Gary memperjelas.
Gue hanya tersenyum. Tentu saja ada. Siapa yang tidak jatuh cinta sama Gary? Apalagi setelah mengenalnya. Semua orang akan jatuh cinta sama Gary yang mempunyai mata biru indah dan kemampuannya yang pandai bermain kata-kata. Tanpa bisa dikendalikan, wajah gue memanas. Malunya!
"Tentu saja ada." Kata gue jujur.
"Kalau begitu kenapa kalian tidak menjalin hubungan?" tanya Ibunya Gary.
Menjalin hubungan? Mana mungkin! Gary menyukai wanita lain saat gue menyukainya. Dan setelah bertahun-tahun terlewat begitu saja, gue sudah memutuskan untuk tidak menikah. Kapan kami mempunyai waktu untuk menjalin hubungan?
KAMU SEDANG MEMBACA
My Wedding Story
RomanceAnother story dari "I have to be STRONG!" “Kalau gitu, lu mau nikah sama gue ga?” Gary bilang apa? Dia kan Cuma tau gue belum menikah, bukan berarti gue tidak punya pacar kan? Walau kenyataannya gue juga belum punya pacar sekarang ini. Oh, mungkin...
