Katakan jika Jisoo egois dan tidak mencintai dirinya sendiri namun hal itu memang terjadi pada dirinya. Iya gadis itu bodoh karena terlalu termakan dan mabuk akan pesona Suho, pesona seorang pangeran kampus.
Dia tidak melihat orang yang juga mencintainya dan selalu bilang bahwa tidak ada yang mencintainya. Hal itu sangat memprihatinkan.
"Ah dasar gadis pabo. Jadi dia anggap aku apa?" Seokjin bergumam saat mendengar cerita dari Daniel.
"Haha sudah aku duga Sir menyukai Jisoo." Ledek Daniel sambil menyenggol bahu bidang Seokjin.
"Tapi dia sangat angkuh dan jual mahal sekali. Gadis itu benar-benar misteri bagiku, misteri yang harus aku pecahkan secepatnya." Dengan melipat dada Seokjin menatap Jisoo yang sedang berada didapur bersama Jihyo yang sedang memanggang kue kering dan membuat jus jambu biji.
"Sir sedikit saranku, Jisoo itu tipikel sama seperti wanita kebanyakan, dia tidak suka lelaki yang terang-terangan menyukainya dan dia sedikit risih pada seseorang yang nampak genit." Mendengar penjelasan Daniel Seokjin berdecak dan menatapnya tajam.
"Jadi kau pikir aku genit?" Seokjin lantas memutar bola matanya jengah saat Daniel malah menganggukan kepalanya terlewat jujur.
"Anak sialan! Nilaimu akan aku kasih C!"
"Yak yak yak! Kenapa Sir malah mengancam nilai sih? Aku hanya bicara jujur. Lebih baik aku jujur dari pada kau semakin genit padanya." Dan Danie hanya mampu berdecak lantaran Seokjin yang mengancam nilainya.
Seokjin sendiri hanya tertawa sesaat sebelum akhirnya matanya mengembara lagi ke arah Jisoo. Gadis itu nampak tersenyum bahagia sambil membuat makanan.
"Bagaimana dia bisa tersenyum secerah itu setelah apa yang aku lakulan padanya?" Katanya lagi tampa memperhatikan sekitar.
"Memangnya apa yang Sir lakukan pada Jisoo?" Tentu saja pertanyaan mendadak dari Daniel itu membuat Seokjin tergagap kaget. Dia buru-buru memalingkan wajahnya yang sudah memerah hebat.
"Bukan urusanmu bocah!" Jawabnya lagi kelewatan kasar.
"Sir anda kasar sekali!" Protes Daniel cepat dan tidak terima dengan kalimat yang cukup menyinggung hatinya itu.
"Iya karena itu gen dari keluarga. Sudah diam! Kau mengganggu saja! Melihat Jisoo memasak saja tidak bisa karena dirimu." Oke, kelihatannya gen dari keluarga bukan hanya kasar tapi juga bar bar.
"Terserah kau Sir, aku mau kembali ke kamar saja." Lalu dengan cepat Daniel meninggalkan Seokjin yang masih mengamati Jisoo memasak di dapur.
"Oke nak, kau tidak akan bisa pergi lagi dariku."
****
Jisoo mengemasi tas ranselnya dan bercermin sambil mempolesi bedak tipis di wajahnya. Segera setelahnya dia amil tasnya dan bergegas pergi ke arah pintu.
"Selamat pagi." Imbuhnya sambil mengambil selembar roti yang memang Yoona buat untuknya.
"Duduk dan makan yang tenang Jisoo." Yoona mengomeli putrinya saat dia makan terburu-buru apa lagi berdiri sambil memasang sepatu.
"Aku sudah telat Eomma, aku makan rotinya di jalan saja. Aku berangkat ya." Tanpa mengubris omongan Yoona, Jisoo segera pergi dari rumah sambil mengunyah roti lapisnya serta meneguk air putih didalam botol yang sengaja dia bawa. Dalam beberapa menit saja roti lapis itu sudah habis dan tenggelam di lambung gadis itu.
"Ah, kenyang. Baiklah sekarang ayo naik ke bis." Jisoo bergumam saat halte yang hampir dia singgahi itu nampak ramai dan saat itu juga bis menuju ke universitas Jisoo tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE SCENT (JinSoo)
FanfictionSetiap hari kita tidak lepas dari aroma, aroma adonan kue yang baru keluar open, aroma rumput yang baru saja di potong, aroma buku baru yang ada di toko buku atau perpustakaan, bahkan aroma bau sampah yang baru dibuang. Jisoo, mahasiswa tataboga ata...
