"Ngahhh Jinie??"
Seokjin mencium ceruk leher Jisoo dan melepas hanbok yang gadis itu pakai di mulai dari pitanya, dia lantas mencium bibir gadis itu.
"Ahh hei bagaimana kalau ayahmu pulang dan melihat kita begini?" Tanya Jisoo sambil mengacak rambut Seokjin, lelaki itu malah bermain dengan dada Jisoo saat hanbok yang dia kenakan sudah terlepas.
"Tidak akan, dia sedang pergi ke desa seberang. Lagi pula kalau itu terjadi aku tidak peduli ah hei jangan meremas bahuku begitu."
Kedua insan itu saling mendesah di balik pergulatan panas mereka. Awalnya Jisoo kaget saat pulang dari pematang bersama Seokjin. Awalnya Jisoo ingin masuk ke rumahnya tapi Seokjin menarik tangannya untuk ke rumahnya. Dia bilang dia sudah tidak tahan lagi karena rasanya ada mengendalikan nafsunya.
Jisoo sendiri tidak mampu menolak, dia juga mencintai Seokjin, apa pun akan dia berikan untuk Seokjin bahkan tubuhnya sendiri.
"Seokjin bagaimana kalau kedua orang tuaku tahu kalau aku di rumahmu?" Seokjin yang sudah di atas Jisoo menghentikan aktifitasnya dan menggeleng samar.
"Tidak akan, pintu rumah sudah aku kunci rapat-rapat, besok pagi-pagi sekali kau pulang saja, aku mohon aku sangat menginginkanmu." Melihat Seokjin yang memohon seperti ini membuat Jisoo tidak tega. Dia tidak peduli apa hukumannya nanti dari tetua adat tapi dia juga menginginkan Seokjin malam ini.
Seokjin menatap Jisoo lekat-lekat sambil mengelus kepalanya pelan, dia melihat warna hijau dan pink yang sama persis seperti warna batu meteor keluar dari tubuh Jisoo, membuat Seokjin makin candu saja.
Seokjin lantas mendekatkan wajahnya ke arah wajah Jisoo dan mencium bibir perempuan itu rakus, terdengar decapan di balik ciuman panas itu. Jisoo seakan bermimpi, dia di sentu oleh Seokjin merupakan impian yang paling dia mau.
"Haha geli." Tawa Jisoo terlahir mengudara saat Seokjin malah turun ke bawah dan mencium perutnya.
"Apakah ini akan membuat kau geli hmm?" Seokjin lantas menyentuh area kewanitaan Jisoo dan memasukan jarinya. Jisoo menghentikan tawanya dan malah mendesah, membuat Seokjin makin bernafsu malam ini.
"Sehh--ngehh--"
"Kau mau bilang apa hmm?"
Seokjin lantas membungkam mulut Jisoo dengan bibirnya. Remangnya lampu minyak di kamar Seokjin membuat titik-titik peluh keringat di tubuh Jisoo memantul dan hal itu membuat sesuatu di bawah sana sontak menegang
"Baiklah lebarkan kakimu seperti ini dan berpegangan pada bahuku ya." Insturksi Seokjin lagi sembari melebarkan kaki Jisoo dengan tangannya dan bersiap untuk masuk.
"Nggeehhh Jini--ee--" desah Jisoo terdengar di kamar kecil Seokjin. Kamar Seokjin yang sempit dan jendela serta tirai yang di tutup di tambah lagi dengan cuaca malam hari ini yang panas membuat suasana makin panas di dalam sana.
Seokjin makin bergerak lagi guna memperdalam masuk untuk bertamu bahkan Jisoo sendiri meringgis sakit, punya Seokjin sangat besar.
Tidak mau Jisoo kesakitan Seokjin lantas mencoba bertamu dengan gerakan lembutnya dan dia mencium Jisoo pelan untuk mengalihkan rasa sakit di bawah sana. Seokjin tahu kalau Jisoo pasti kesakitan tapi dia tidak mau memperlihatkannya nanti hal itu membuat Seokjin malah khawatir.
"Ahhh"
Suara desahan keduanya terlahir saat Seokjin masuk sepenuhnya didalam sana, dia bahkan mendesah berat saat otot-otot itu meremas milik Seokjin nikmat.
"Jisoo ahh jangan mengeratkan pahamu kau sempit sekali!" Seokjin tidak tahan dan ikut mendesah sedangkan Jisoo sudah menutup matanya dan mendesah berat disana. Dia menggerakan kakinya ke sana dan kesini membuat kasur yang dia tiduri bersama Seokjin berantakan tak tentu arah. Padahal Seokjin belum bergerak barang sedikit pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE SCENT (JinSoo)
FanfictionSetiap hari kita tidak lepas dari aroma, aroma adonan kue yang baru keluar open, aroma rumput yang baru saja di potong, aroma buku baru yang ada di toko buku atau perpustakaan, bahkan aroma bau sampah yang baru dibuang. Jisoo, mahasiswa tataboga ata...
