; a thorn - new chapter 2020

19.9K 2.6K 591
                                        

;





















"Kenapa Bubuku senyum-senyum begitu?"

Jungkook tertawa saat Hyungnya sibuk membetulkan posisi bantal sebab dirinya mengeluh mengantuk setelah menghabiskan dua porsi salad buah yang si profesor buatkan untuknya.

Astaga, tidak tau juga kenapa dirinya jadi semengerikan ini manjanya. Tapi yang jelas, yang Jungkook tahu, diperhatikan Hyungnya rasanya tidak pernah tidak menyenangkan.

Omong-omong Jungkook tadi siang baru saja ke rumah Mama.

Mama begitu senang dan menyambutnya dengan peluk hangat. Begitu bangga pada putranya dan aneh sekali sebab untuk pertama kalinya Jungkook menyaksikan Mamanya menangis hingga menghabiskan banyak lembar tisu yang diremat di tangan kirinya.

Menjadi orang tua tunggal selama hampir satu dekade tentu tidak akan pernah terasa mudah. Lebih-lebih ditinggal mati oleh suaminya, oleh orang yang sangat dicintainya. Jungkook tidak bisa membayangkan betapa berat yang harus Mama lalui demi membesarkannya.

Harus merangkap menjadi sosok Mama dan Papa yang kuat untuk dirinya, juga menafkahinya agar segala kebutuhannya menjadi cukup. Sudah pasti telak tidak mudah. Tapi nyatanya? Jungkook malah menjadi berandal nakal yang terus membuat kerusuhan disana sini, membuat Mama menghabiskan banyak uang untuk membayar ganti rugi.

Tapi apakah sekalipun Mama pernah marah?

Pernahkah menyatakan keberatan dengan kelakuan Jungkook yang demikian?

Tidak, Mama tidak pernah mengeluh dan menunjukkan air mata untuknya. Mungkin Mama hanya akan terkekeh sembari berkata "Lagi?" saat melihatnya pulang dengan keadaan babak belur. Membantunya mengobati luka dan menanyakan mengapa Jungkook memulai perkelahian duluan jika konteksnya memang Jungkook yang memulai perkara. Walau terkadang Jungkook menjawab memulainya hanya karena wajah temannya mengesalkan, Mama hanya akan menepuk bokongnya sembari mengatakan "Berkelahilah dengan alasan logis dan keren. Buat apa kau melukai diri sendiri jika korban bogemanmu tidak punya kesalahan!"

Jungkook mulanya berpikir mungkin Mamanya sudah gila. Begitu mendukungnya dari segala aspek termasuk kenakalannya. Tidak pernah melarangnya untuk jadi anak band (bahkan Mama membuatkan satu studio mini di rumah agar Jungkook bisa latihan main drum disana), selalu diam-diam datang menonton pertandingannya disela kesibukan bekerja tanpa pernah diminta, menyokong segala penampilannya yang luar biasa boyish.

Namun pada akhirnya?

Jungkook sadar, ini bentuk kasih sayang Mama yang berusaha membuatnya tidak pernah merasa kurang meski dia tak lagi punya sosok Papa dalam hidupnya.

Jungkook tanpa sadar selalu berusaha belajar keras demi membalas segala reward yang Mama beri kepadanya. Sebab ia paham, tak ada yang lebih menyenangkan untuk Mama selain membawa pulang rapornya yang penuh berisi nilai sempurna, berbagai penghargaan dan piala dari perlombaan yang ia libas habis, dan juga luka kemenangan selepas tawuran bersama orang-orang yang ia jadikan lawannya.

Lebih-lebih soal menikah, mungkin ia waktu itu pada akhirnya memilih untuk menerima saja sebab Jungkook sadar Mamanya tidak pernah memohon-mohon padanya separah itu sepanjang hidup. Seolah isi hatinya ikut luluh, bingung, mengingat inilah pertama kalinya Mama benar-benar menginginkan Jungkook untuk tidak mengikuti keinginannya sendiri.

Jungkook pikir Mama egois, tapi lagi-lagi pada akhirnya Jungkook sadar bahwa Mama selalu memendam keinginannya diatas apapun untuk dirinya dan menangis pertama kali sebab Jungkook pulang dalam keadaan memiliki bayi dalam tubuhnya.

amante | taekookTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang