Pembunuh perasaan yang baru

69 7 0
                                        


Kulangkahkan kakiku keluar. Mencari bilamana di luar ada yang mungkin menggugah selera. Bisa-bisa nafsu makanku hilang kalau harus memasak dulu. Perutkupun sudah lapar. Entah lagu apa yang sedang dimainkan di dalam.

Kucari-cari penjual sate yang sering menjajahkan jualannya di depan warung ibu kostku. Biasanya ibu kostku akan mengajaknya bercengkrama jam segini. Mungkin itu yang membuatnya betah setiap hari disini. Ditambah anak kost sepertiku yang lebih memilih membeli sate untuk mengganjal perut malam hari daripada memasak atau membeli makanan lain.

Kuberikan uang kertas lima ribuan setelah penjualnya selesai membungkuskan pesananku.

Aku melangkah dengan semangat ke arah kost. Sudah tidak sabar mencicipi sate yang masih hangat yang sudah kucium aromanya sedari tadi. Rasa laparku seolah semakin naik sekarang. Seperti langkah kakiku yang sekarang berada di tangga.

Kuperiksa ponselku sebentar setelah meletakkan sate di atas piring. Aku mendengar ada yang menelponku saat aku masih di luar hendak membuka pintu yang sengaja kukunci. Aku takut kalau-kalau ibuku yang menelponku. Pasti ibu khawatir kalau aku tak mengangkat telponnya, bertanya-tanya kemana aku sudah malam begini.

Yogi? Untuk apa dia menelponku?

Kucek panggilannya yang sudah terlalu banyak dan tampak mencurigakan itu. bagaimana tidak jika orang yang nampak di kampus seperti psikopat tiba-tiba menelponmu berkali-kali? Jelas saja aku merasa seram walau tak seseram yang pembaca bayangkan.

Baru saja ingin kuletakkan ponselku saat menyadari aroma sate yang sempat terhilang dari hidungku tadi. Kuambil sendokku dan bersiap untuk makan.

Drgggg... Yogi lagi. Kali ini pesan.

‘Malam yang indah. Sepertinya ada yang sedang sibuk memandangi langit’

Benar saja aku tersentak. Setelahnya mulai melemas dan terduduk di lantai. Aku tak sedang sibuk memandangi langit.

Aku tak tahu orang bodoh mana yang akan selalu melakukan hal yang sama setelah mengerti kalau apa yang dia lakukan malah akan selalu sia-sia. Aku tak tahu sedang apa Yogi sehingga dia berpikir untuk mengirimkan pesan seperti ini. Aku bahkan tak peduli tentang apa tujuannya mengirim pesan itu. aku hanya teringat kebiasaan bodohku yang sering kulakukan sebelum beranjak tidur jika aku harus sendiri melewati malam.

‘Tidak terlalu sibuk’

Kupandangi layar ponselku sambil sesekali menyantap sate yang baru kubeli tadi. Sudah mulai dingin. Untung saja aku sudah tak terlalu peduli dengan hangatnya. Yang penting perut kosongku terisi. Ada Seno yang akan memenuhi memori ponselku malam ini. Ah, bukan Seno. Mungkin kembarannya. Akupun tak tahu

Sebelum PagiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang