Weekend adalah hari yang ditunggu tunggu oleh semua murid. Tapi hal ini tidak dengan Zahra. Kali ini dia benar benar merasa bete di rumah. Biasanya kalau libur, dia selalu pergi jalan jalan sama Doni. Entah itu cari makan, atau hanya sekedar menghirup udara segar di taman.
Doni tengah sibuk sibuknya berlatih basket. Nama baik sekolah ada ditangan timnya. Jika timnya bisa mengalahkan tim dari SMA Kartika, sudah pasti semua guru bakal bangga terhadap kerja keras timnya selama ini.
"Mau kemana bun?" Tanya Zahra saat ia melihat bundanya sudah rapi di pagi hari.
"Ke rumah sakit, anaknya om Ardi dirawat di sana" Bunda berjalan mendekat ke arah zahra
"Tio maksud bunda?"
"Iya. Kamu dirumah sendiri gapapa kan?"
"Dia kenapa bun?" Bukannya menjawab, Zahra malah berbalik tanya.
"Bunda juga belum tau, makanya ini mau ke rumah sakit." Fatimah melihat jam yang ada di layar handphone. "Udah siang, bunda berangkat dulu yah"
Zahra ikut berjalan sampai di depan pintu. "Nyetirnya hati hati yah. Jangan lupa kabarin Zahra ya kalau ada apa apa"
Fatimah dan Heru sudah berada di dalam mobil. Zahra melambaikan tangannya saat mobil orang tuanya mulai memberantas jalanan.
Zahra kembali masuk kedalam rumah. Ia tak habis pikir jika pahlawan kesiangannya itu bisa masuk rumah sakit. Memori Zahra berputar mundur
"Nanti kalau lo cari cowok, nyari yang kayak gue" ujar Tio dengan mulut penuh makanan.
"Kenapa gitu?" Tanya Zahra heran. Tio meminum teh manis untuk mendorong makanan yang ada dimulutnya supaya mau masuk kedalam.
"Ya kan udah jelas gue ni orangnya gimana. Bertanggung jawab iya, baik juga dapet, ganteng apalagi gak usah di tanya lo juga tau kan.."
"PD banget loh." Zahra memasukan satu suap makanan kedalam mulutnya. "Kenapa lo gak satu sekolah sama gue aja sih?"
"Ciieeeee,, yang berharap satu sekolah sama gue." ujar Tio dengan nada menggoda.
"Apaan sih, gue kan cuma tanya. Gak usah GR gitu deh" Zahra memutar bola malas. Memang, setiap kaki bertemu dengan Tio, Zahra selalu bersikap jutek.
"Iya iya. Ni, mending makan ice cream." Tio menyuapi Zahra.
Zahra hanya tersenyum saat mengingat moment itu. Waktu itu, Tio masih berada di Jakarta, sebelum akhirnya dia ikut pindah bersama orang tuanya ke Bandung.
"Bosen banget." Ucap Zahra. Dia beralih menuju ruang keluarga. Nonton tv untuk menghilangkan rasa betenya karena sendirian di rumah. Tapi acara tv sangat membosankan. Zahra beranjak dari sofa dan menuju kamar.
Tut tut tut..suara HP yang sedang memanggil.
"Yu, sibuk gak? Sinilah main kerumah. Gue sendirian, bosen tau" Ucap Zahra kepada orang yang berada diseberang sana.
"Nahhh gitu dong, gue tunggu yah." Zahra menutup telponnya. Dia beralih membuka aplikasi Go Food dan memilih beberapa makanan yang akan dia pesan.
Jarak 15 menit, Ayu pun sampai di rumah sahabatnya itu.
Tinggg ...
Zahra berlari kecil untuk membuka pintu.
"Hai" Sapa Mia sambil mengangkat 5 jarinya.
"Loh, ada Mia juga?" Tanya Zahra
"Gak sengaja tadi ketemu Mia dijalan, jadi gue ajak sekalian ke sini." Jelas Ayu.
"Ooooh , ya udah ayo masuk." Ajak Zahra sambil menarik tangan Mia dan Ayu.
"Sendirian aja Ra di rumah?" Mia bertanya.
"Iya. Makanya gue ngundang sahabat gue buat dateng kesini" Zahra yang baru muncul dari dapur dengan membawa nampan yang berisikan 3 gelas jus itu menjawab pertanyaan dari Mia.
"Bokap, nyokap? Kemana?"sahut Ayu
"Bunda sama ayah pergi kerumah sakit" Zahra meletakkan 3 jus dengan hati hati. Setelah itu ia ikut duduk bersama sahabatnya.
"Siapa yang sakit?" Tanya Mia.
"Sepupu. Gue juga belum tau sih dia sebenarnya sakit apa." Zahra memencet salah satu tombol remot untuk mengaktifkan tv. "Eh, itu jusnya silahkan di minum."
"Riko mana mi? Kok gak ikut?" Tanya Zahra
"Tau!" Ayu menjawab dengan penuh kemalasan.
"Doni sendiri kemana? Tumben dia gak kesini. Biasanya kan kalau weekend gini lo sering jalan sama dia" Mia meletakan kembali gelasnya.
"Biasalah. Pertandingan kan sebentar lagi, jadi sibuk latihan."
Tingggg...
Zahra kembali membuka pintu rumahnya. Itu pasti orang kurir yang mengantar pesanannya tadi.
"Berapa pak?"
"165.000 mbak" jawab kurir.
"Makasih ya pak" Zahra memberikan uang ke kurir. Lalu kembali menuju ke sofa.
"Wiiihhhh,, ada pizza." Mata Mia berbinar binar saat tau Zahra membawa pizza. Sedang ayu, dia sibuk memilih film yang akan ditontonnya.
"Mari makannn" Ujar Zahra dengan semangat.
Ruangan hening seketika. Ketiganya sibuk menikmati pizza dan film.
Film ini cukup menyedihkan buat Mia yang orangnya suka baperan. Bahkan dia sudah meneteskan air mata berkali kali.
1 jam kemudian. Film pun sudah berakhir.
"Gue gak bisa bayangin kalau ada di posisi cewek itu" Ujar mia.
"Jahat banget sih tuh sahabatnya" timpal Zahra
"Dia kan cuma mau merjuangin cintanya" kini giliran Ayu yang bersuara.
"Tapi gak gitu juga kali, masa pacar orang disamber. Kayak gak ada cowok lain aja" Zahra masih tidak terima.
"Iya! Dasar pengkhianat. Serigala berbulu kelinci. Di depan sahabatnya aja dia sok baik, tapi aslinya busuk. Hiii, ngeriii booss" Mia Ikut menambahi omongan Zahra.
"Namanya juga cinta. Kalau cinta ya harus diperjuangkan. Dunia ini itu tempatnya sandiwara." Ayu masih dengan santai menanggapi comenan kedua sahabatnya itu.
"Moga aja nasib gue gak kayak cewek yang ada di film itu." Ujar Zahra.
Diwaktu yang sama, Doni tengah beristirahat dari latihan kerasnya tadi.
"Nih" Bian menyodorkan minuman ke Doni. Lalu ia ikut duduk disampingnya.
"Gue gk pernah liat Zahra dateng ke sini?" Tanya Bian
"Gue larang" Jawab Doni.
Bian yang mendengar jawaban kurang cocok dari mulut Dini, gak sengaja tersedak minuman.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Lo tau kan dia orang nya gimana. Yang ada gue gak jadi latihan ntar. Udah bawel, manja, kekanak kanakan, gampang ngambek. Beda banget sama sahabatnya, kalem, dewasa, pengertian."
"Bentar bentar, nih yang lo maksud Ayu?" Tanya Bian untuk memastikan jika ciri ciri sifat tadi itu punya Ayu. "Jangan jangan selama ini, lo diem diem suka yah sama Ayu?"
"Apaan sih, ya enggak lah. Gue kan tadi cuma ngebandingin sifatnya aja" jawab Doni untuk menepis pikiran buruk sahabatnya itu. Doni beranjak pergi menuju ruang ganti. Karena ini weekend, jadi latihan hari ini gak sampe malam.
Memang iya. Jika dibandingkan antara sifat Zahra dengan Ayu sangat jauh berbeda. Ayu bersikap lebih dewasa dari pada Zahra. Hal ini memang kelihatan wajar, karena Zahra hanya anak satu satunya Heru dan Fatimah. Dimana setiap kemauannya pasti akan di turuti oleh kedua orang tuanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Jatuh Dan Cinta [Revisi]
Teen Fiction"Mengertilah, bahwa saat seseorang menerimamu, dia juga sedang belajar menerima segala kelemahanmu. Harusnya kamu juga belajar hal yang sama. Bukan kembali membahas hal hal yang sering mendatangkan luka. Atau hal hal yang membuat aku merasa kamu tid...