Hanya kisah sederhana tentang Yuta dan Marsha (Matcha). Dengan keluarga kecilnya yang......
Aneh!
Start: 29 Agustus 2019
End: 24 Mei 2020
Repost:
Start: 18 Juli 2020
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Galau amat, Pak)
"Sembilan missed call dan kamu tahu? Aku tuh udah susah payah ngehubungin kamu, tapi malah dicuekin aja. Kamu tahu nggak sih kalau aku sampai panik karena nggak bisa telepon kam—Yuma?"
Jeffrey menepuk bahu Yuma ketika gadis di sampingnya tidak bergerak sama sekali dari posisinya. Pandangan matanya kosong, tubuhnya seolah membeku dan tidak bisa digerakkan dengan mudah. Jeffrey mengguncang tubuh Yuma, berharap gadis itu akan sadar karena kondisinya membuat Jeffrey seketika takut.
"Yuma, sadar. Di depan ada cowok ganteng."
Kebohongan Jeffrey tidak mempan karena Yuma terus diam saja dalam posisi dan kondisi yang sama. Jeffrey mengibaskan tangannya di depan wajah Yuma, berharap apa yang dia lakukan bisa mendapat hasil positif. Sayangnya, Jeffrey masih gagal karena Yuma terus diam seperti tak bernyawa.
"Kamu tuh kenapa? Perasaan tadi biasa aja. Apa gara-gara aku mau marah, ya? Yaudah, aku nggak jadi marah ke kamu. Seneng, 'kan?"
Yuma menggeleng pelan. Bukan itu yang membuatnya bergeming seolah benda mati tak bernyawa. Ada hal lain yang baru saja terbesit di benak Yuma, dan itu adalah hal buruk yang pernah menimpanya. Oh, lebih tepatnya salah satu hal yang buruk.
Kali ini Yuma menggeleng cepat sembari memejamkan matanya rapat-rapat. Berharap apa yang ada di pikirannya bisa hilang seketika agar Yuma bisa fokus.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Jeffrey bingung melihat tingkah pacarnya. "Kamu lagi kesurupan?"
Yuma menoleh pada Jeffrey dan menatapnya dengan panik. "Gimana, dong? Aku nggak bisa lupa."
"Oke, tenang dulu." Jeffrey mengelus bahu Yuma ketika melihatnya panik dan bingung harus bagaimana. "Coba cerita."
"Ini ceritanya bikin merinding."
"Seserem itu?"
"Sejijik itu," koreksi Yuma yang kini merinding karena memori tersebut terus terulang di benaknya.
"Yaudah, cerita dulu. Siapa tahu aku bisa bantuin."
Yuma kembali memejamkan matanya, kemudian menepuk-nepuk keningnya pelan. Masih berusaha agar memori itu hilang dan digantikan dengan hal yang lebih bermanfaat. Misalnya, Yuma masih harus belajar untuk ujian.
"Kemarin aku sendiri di rumah karena orang tua aku pergi kunjungan gitu. Karena nggak berani sendirian, aku minta izin buat nginep di rumahnya Kak Tama. Untungnya Kak Tama ngasih izin, ya. Secara baru dua bulan nikah, takutnya nggak mau diganggu gitu."
"Kamu lihat hantu di rumahnya Kak Tama?" Jeffrey bertanya sebelum Yuma menyelesaikan ceritanya. Jeffrey sudah terlanjur penasaran dan tidak sabar kalau Yuma harus menceritakannya dari awal.