Mataku enggan terpejam karena aku memikirkan tawaran Jose di telepon. Aku pikir ia hanya akan mengajakku bertemu untuk sekedar mengobrol atau minum kopi. Tapi bertemu dengan rekan bisnis, bukankah harusnya dia mengajak rekan kerjanya atau mungkun kekasihnya? Setidaknya orang yang cukup penting bukan untuk menemaninya menghadiri undangan rekan bisnisnya?
***
Sudah dua minggu aku mengenal Jose, namun bukankah ini terlalu cepat jika aku harus menemaninya menemui rekan bisnis? Aku menatap diriku dicermin. Sangat menyeramkan dengan kantung mata, aku tidak bisa tidur semalam. Mengapa magnet pria ini begitu kuat terhadapku. Apa yang berbeda antara dirinya dengan pria lain?
Aku sudah siap dengan baju kerjaku ketika aku memutuskan untuk sarapan bergabung dengan Tata dan Al. "Morning." sapaku pada mereka yang sudah memulai sarapannya. Al memang morning person, waktu sangat berharga baginya. Aku merasa aku terlalu malas untuk mengimbangi mereka kalau aku sungguh tinggal bersama mereka berdua.
"Morning!" balas Tata dan Al bersamaan, aku hanya tersenyum menanggapi sapaan mereka. "Ada apa dengan wajahmu Thea?" tanya Tata setelah aku duduk di bangkuku.
"Apakah semengerikan itu Ta?" tanyaku sambil menyentuh wajahku, haruskah aku menambahkan bedak atau premier agar menutupi kantung hitam dimataku.
"Lumayan." gumam Al yang langsung disenggol oleh Tata. Akupun tertawa dan mulai menanggapi kakak-kakakku ini. "Aku tidak bisa tidur semalaman." jelasku, walaupun aku tau penjelasan itu hanya informasi, mereka pasti akan mulai menanyaiku mengapa aku tidak bisa tidur.
"Mengapa kau tidak bisa tidur? Tidak terbiasa dengan kamarmu disini?" baru saja kukatakan, Tata sudah melontarkan pertanyaan yang sudah kuketahui. "Apakah kamarmu tidak nyaman Thea? Biar aku minta Bi Sumi membersihkannya." tambah Al terlihat tidak enak karena merasa kamarku tidak bersih sehingga aku tidak nyaman.
"Tidak, bukan begitu. Ada yang mengganggu pikiranku semalam. Aku masih menyukai kamarku disini. Bi Sumi sunggu merawatnya." jelasku kepada mereka.
"Apa yang kau pikirkan?" pertanyaan lainpun terlontar dari bibir Tata. Tata memang sepenasaran itu kalau menyangkut diriku. Tapi aku belum siap menceritakan hal ini kepadanya. Apa aku harus mengatakan kepada kakakku ini kalau aku sedang dekat dengan seorang pria yang kita temui di acara Grace. "Kau tidak perlu bertanya sedetail itu, sayang." aku bersyukur Al membuka suara agar Tata tidak menanyaiku lagi. "Selesaikan sarapan kalian, kau berangkat dengan ku saja Thea, biar supirku sekalian megantarmu." tambah Al.
"Baiklah, terima kasih Al." akupun mulai menghabiskan sarapanku dan bersiap beranjak dari meja makan untuk menemui Al di ruang tamu sampai akhi merasa Tata menarik pelan tanganku. "Kau berhutang cerita padaku Thea." bisiknya pelan. Sudah kuduga Tata tidak akan tinggal diam, dia pasti sangat penasaran. Al bisa mengontrol rasa penasarannya, karena menurut Al setiap orang memiliki ruangnya masing-masing yang tidak perlu selalu diceritakan kepada siapapun termasuk saudarinya. Aku hanya mengangguk menanggapi Tata dan melanjutkan langkahku menemui Al untuk berangkat bersama.
***
Aku masih menunggu keputusanmu untuk menemaniku besok.
Itu adalah isi pesan Jose sejak siang tadi yang belum aku balas. Saat ini aku sedang bersiap untuk pulang sampai aku merasakan ponselku bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Aku melihat nama yang tertera di layar ponselku. Jose. Sungguh pria tidak sabar atau aku yang memang keterlaluan sudah hampir setengah hari aku belum membalas pesannya. Aku mengangkat dan menempelkan ponselku ditelingga.
"Mengapa kau tidak menjawab pesanku?" suara Jose terdengar ketika aku mengangkat teleponnya. Aku hanya tersenyum walau aku tahu dia tidak bisa melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love is Healing
RomanceTakdir cinta tidak pernah salah. Berkali-kali pun kau terjatuh karena cinta, takdir cintamu akan tetap datang. Seperti malaikat penyembuh yang menyembuhkan lukamu dari 'jatuh cinta' yang lalu. Menyembuhkan kesakitan dari lukamu di masa lalu. Takdir...
