ALTER 21+!
Setelah mengetahui keinginanku untuk pergi malam ini Tata dan Al mengantarku dan Jose sampai di depan gerbang rumahnya. "Kita bertemu besok di rumah papa. Aku rasa tidak ada salahnya besok kau mengatakan kejadian ini pada beliau." itu perkataan Tata sebelum aku memasuki mobil. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dalam kegelapan malam mobil Jose perlahan melaju dan bayangan Tata dan Alpun perlahan menghilang.
***
Aku sedang berada di dalam mobil bersama Jose. Hari ini seperti kesepakatan sebelumnya aku akan menemui Papaku. Aku sudah sangat menyiapkan diri untuk menemui ayahku itu, walau masih terlintas ketika dia melihatku dia akan membuat aku babak belur. Keheningan menyelimuti perjalananku dan Jose. Jose tidak banyak berbicara hanya beberapa kali ia mengelus pahaku atau menggenggam tanganku seakan memberikan kekuatan. Entah kenapa setiap kali bersamanya aku seakan merasa aman dan dicintai.
Ketika aku dan Jose sampai di depan rumah Papa, aku dapat melihat mobil Al sudah berada disana menandakan Al dan Tata sudah tiba lebih dulu. Jose membukakan pintu mobilku, ia tidak pernah melepaskan genggamannya dari tanganku. Aku melangkah dengan ragu-ragu, masih belum yakin dengan apa yang kulakukan hari ini. Ketika aku sudah berada di depan pintu masuk aku mengetuknya pelan.
Ketika pintu terbuka aku mendapati Papaku berdiri disana, dengan rambut yang mulai memutih, kulit wajahnya yang sudah terlihat kerutan dan mulai keriput. Harus kuakui aku merindukan sosok ini. Aku tidak pernah melihat wajahnya menatapku setenang ini, biasanya wajah marah yang sangat galak yang selalu ia tampilkan didepanku, tapi kali ini wajah itu seakan bahagia aku berdiri di depannya. Sektika apa yang dilakukannya membuatku membeku di tempatku, ia memelukku begitu erat dan hangat, ada kasih sayang disana. Aku tetap diam tidak membalas pelukkannya.
Setelah ia melepaskan pelukannya, ia memegang bahuku dengan kedua tangannya dan dari gerak bibirnya aku dapat melihat ia mengucapkan "aku merindukanmu." Aku yang menyadari itu langsung memalingkan wajahku. Tak kuasa melihat wajah yang sudah terlihat tua di hadapanku.
"Masuklah." ujarnya setelah keheningan menyelimuti kami beberapa saat setelah pelukkan yang ia berikan kepadaku. Aku mengangguk dan melangkah masuk dan saat itu juga aku menemukan Tata dan Al sudah duduk manis di ruang tamu. Memasuki rumah ini sedikit membuka lupa masa kecilku, setiap sudut rumah ini memiliki kenangan buruk untukku, setiap sudut tempat ini adalah saksi bagamana aku menahan sakit dan lebam setiap hari disekujur tubuhku.
Begitu melihatku Tata dan Al menghampiriku dan memberikan pelukkan untukku. "Hai Ta. Hai Al." sapaku sambil membalas pelukan mereka. Sekilas aku melihat papa melihat kami dengan tatapan yang tenang. Bahagia melihat aku dan Tata tetap akur walau melalui masa kecil yang berat karenanya. Aku melepaskan pelukkannya. Lalu Tata menghampiri Jose. Aku ingat bahwa aku kesini bersama Jose. Untuk tetap mempertahankan rasa hormat kepada papa, aku mengenalkannya.
"Papa." panggilku lirih, aku rasa seharusnya aku tidak memanggilnya. Iya menoleh menatapku yang sebenarnya tidak menatapnya. "Kenalkan, ini Jose." ujarku mengelkan Jose kepada papa.
"Jose Marillo, Mr. Stacy. ujar Jose mengenalkan diri dan menjulurkan tangannya kepada papa. Papa menjabat tangannya dan menatapnya sekilas lalu menganggukkan kepalanya. Aku juga mengenalkan Jose kepada Al, karena sesungguhnya aku belum pernah mengenalkan mereka berdua.
Setelah acara perkenalan singkat dengan Jose, kami semua duduk bersama, belum ada yang membuka suara sehingga suasana menjadi sangat hening, bahkan hanya suara deru napas masing-masing dari kami yang terdengar. Pelayan baru saja meninggalkan kami setelah meletakan teh dan cemilan untuk hidangan kami. Tiba-tiba papa membuka suaranya dan membuat aku menegang.
"Thea." Panggilnya "Putriku." Untuk pertama kalinya ia memanggilku putrinya. Aku benar-benar hanya diam pada posisiku menunggunya melanjutkan ucapannya. "Maafkan papa, nak." hanya itu ucapan selanjutnya yang ku dengar. Aku memerhatikan papaku sekilas, dan aku menyadari bahwa ada sebutir air mata jatuh dari matanya. Aku bahkan tidak pernah melihat dia menangis. Apakah papa sudah selemah itu di usianya yang memang tidak muda lagi?
KAMU SEDANG MEMBACA
Love is Healing
RomanceTakdir cinta tidak pernah salah. Berkali-kali pun kau terjatuh karena cinta, takdir cintamu akan tetap datang. Seperti malaikat penyembuh yang menyembuhkan lukamu dari 'jatuh cinta' yang lalu. Menyembuhkan kesakitan dari lukamu di masa lalu. Takdir...
