Berita ulangan semester yang akan diadakan Minggu depan sudah tersebar luas dan pasti. Para murid mendesah kecewa, baru beberapa bulan rasanya, sudah mau ulangan saja.
Anin berbeda. Gadis itu justru sibuk menghitung uang jajannya. Ia akan membeli novel baru berhubung novel yang ada di kamarnya sudah habis stok.
"Seratus lima puluh ribu ... Beli satu atau dua ya?" Ia bergumam sendiri
"Woi, Nin" Syifa muncul dari arah belakang, menepuk pelan pundak anin.
"Kenapa?" Tanya Anin
"Mau ikut nonton bioskop gak? Lagi ada film seru nih, anak cewek sih pada mau nonton. Lo mau ikut?"
Anin menggeleng "enggak deh, mau ke toko buku"
"Yaelah ... Ulangan tengah semester udah di depan mata masih aja mikirin buku, refreshing dulu lah, biar otak lo gak mumet"
"Justru refreshing gue dengan baca buku" jawab Anin
"Ya udah deh kalo gitu"
"Iya, sorry ya"
"Santai"
Setelahnya Syifa kembali ke kursinya.
< • • • >
Anin sudah merencanakan. Ia akan pulang terlebih dahulu, memberi tahu neneknya, barulah ia akan menuju ke toko buku. Tapi, sesampainya ia di depan pagar rumahnya, rumahnya terlihat sepi dan gelap. Anin pun melangkah masuk, tapi naas, pintunya terkunci.
"Kok ke kunci sih?" Gumamnya bingung
Anin mengambil ponselnya hendak menelfon neneknya karena barangkali neneknya tertidur. Tapi saat ia membuka ponselnya, ponselnya itu justru mati total.
"Aduh, mati lagi" ucapnya
"Nin, oi!!"
Suara teriakan itu membuat Anin menoleh dan menemukan Gibran yang kini menatapnya bingung. Tak ada pilihan lain, ia pun menghampiri cowok itu.
"Kenapa?" Tanya cowok itu sewaktu Anin tiba di hadapannya
"Hape gue mati, rumah juga ke kunci. Boleh pinjem hape lo bentar gak?"
Gibran mengangguk, ia kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya lalu memberikannya pada Anin.
Anin menggulir layar ponsel itu, tapi ponsel itu di password.
"Ini, pake password" Anin menyerahkan ponsel itu kembali kepada Gibran
"gibranteng1234"
"Hah?"
"Iya, passwordnya gibranteng1234"
Anin tertawa pelan "dasar narsis"
"Kan gue emang ganteng, Nin" Anin mendengus pelan.
Segera ia memasukan nomer neneknya lalu menghubungkannya. Pada panggilan ke-3 barulah neneknya itu menjawab Anin mendesah lega.
"Nek, ini Anin .."
"Aduh, Anin. Maaf banget ya, nenek lupa bilang kalo hari ini harus pergi ke rumah sakit. Kunci rumah juga nenek bawa. Ini kamu pakai ponsel siapa?"
"Pakai ponsel Gibran nek"
"Boleh tolong kasih ponselnya ke Gibran? Nenek mau ngomong sama dia"
Anin menyerahkan ponsel itu kepada Gibran yang mentaapnya penuh tanda tanya "kenapa?" Tanya cowok itu
"Nenek mau ngomong sama lo"
KAMU SEDANG MEMBACA
Intruder
Teen Fiction[ Untuk kenangan masa muda dan kata maaf yang tak sempat diucapkan ] Bagi Gibran, menikmati masa muda adalah bagaimana kita bisa menjadikan setiap momen yang ada terasa berharga. Juga sebagai cerita yang sempat mengisi kenangan hidupnya seperti tem...
