11. "Jangan main-main dengan perasaan, Anindhita"

40 6 0
                                        

Anin menggigit bibir pelan, sambil menimang-nimang. Perkataan Syifa berhasil mengusiknya, apalagi tentang seragam baru itu. Matanya menoleh kearah keranjang baju kotor, ada dua seragam yang tertumpuk disana.

Anin pun mengambil ponselnya lalu mulai mengetik nama Gibran.

Anindhita :
Bran, gue minta maaf ya. Sorry, kata-kata gue emang keterlaluan banget.

Baru saja hendak memencet tombol send. Sebuah pesan masuk dari Raja. Membuat Anin mengurungkan niatnya dan segera menghapus pesan yang hendak ia kirimkan.

Aksario Raja

Kamu kenapa ke toilet dengan baju kotor gitu?

Bajuku kena tumpahan kopi

Kok bisa? Kamu jadi orang ceroboh sih. Apa-apa main grasak-grusuk

Anin menghela nafas pelan. Atas kejadian kemarin, apakah cowok itu tak berniat untuk meminta maaf padanya?

Iya, maaf.

Kok minta maafnya sama aku sih? Harusnya minta maaf sama diri kamu sendiri. Nin, kamu tahu kan apa yang aku lakuin untuk kebaikan kamu?

Ja, aku udah gede. Kamu gak perlu mikirin hidup aku lagian.

Nin, aku perduli sama kamu. Karena kamu orang yang aku sayang.

Anin membuang nafas kesal, orang yang aku sayang? Lalu, kenapa status mereka sampai saat ini tidak berubah?

Aku capek ja, diomongin besok aja ya.

Selalu kayak gitu! Kamu gak mikir aku dari tadi nungguin kamu buat chat? Tapi ujungnya malah berantem kan? Aku tuh ngorbanin waktu belajar aku, tahu gak kamu?!

Anin langsung mematikan data selulernya. Lalu menaruh hapenya begitu saja di nakas. Ia mengambil kunciran, lalu menguncir rambutnya. Setelahnya, ia mengganti pakaiannya dengan pakaian sederhana.

"Nek, Anin ke indomart bentar ya" teriaknya

"Iya udah. Hati-hati ya" balas Dian "jangan pulang kemaleman" teriak Dian selanjutnya

< • • • >

Anin segera melangkahkan kaki keluar, menuju indomart. Saat masuk, indomart terlihat sepi. Mungkin karena ini sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Tangan Anin mengambil sebuah keju dengan ukuran besar. Lalu setelahnya, ia beranjak ke tempat kopi. Tangannya menjulur untuk mengambil sebuah kopi Nescafe hitam, tapi naas, rak itu terlalu tinggi, atau ... Ia yang terlalu pendek?

Dari arah belakang, tiba-tiba sebuah tangan terjulur mengambil kopi tersebut lalu memberinya pada Anin . Mata Anin membelalak begitu tahu bahwa orang itu adalah Gibran. Suasana menjadi canggung seketika, apalagi dengan posisi mereka. Gibran terlihat seolah mengurung Anin.

"Udah malem malah minum kopi, nanti lo gak bisa tidur" ucap Gibran pelan

"Eh ... Enggak kok ini buat besok" entah mengapa tiba-tiba saja Anin menjadi gugup.

Gibran tertawa kecil, setelahnya badannya bergeser. Hal itu membuat Anin mendesah lega.

"Lo ngapain?" Tanya Anin. Ia tak melihat Gibran membawa keranjang belanjaan atau pun belanjaan yang ada di tangannya. Kemudian, cowok itu merogoh kantong dan memberikan Anin sebuah kertas.

"Nih, disuruh nenek bawel" ucapnya yang membuat Anin tertawa mendengarnya

"Bantuin gue dong, gak ngerti nih"

Intruder Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang