"RIVOOOOO! UDAH GUE BILANG JANGAN NYENTUH POUCH GUE" suara lengkingan dari Defa membuat hampir seluruh murid menutup telinganya. Sedangkan Rivo justru cengar-cengir sambil mengangkat pouch di tangan kirinya.
"Ambil lah sini kalo bisa" ledeknya membuat Defa bangkit lalu mulai berjalan kearahnya
Rivo terus berjalan mundur tanpa melihat, hingga tanpa sadar ia menabrak Adilla yang baru saja kembali dari kamar mandi. Keseimbangan Adilla pun hilang sehingga gadis itu hampir saja jatuh kalau saja Rivo tak menahan tangannya.
"AKHIRNYA SANG DUKUN DAN PERMAISURINYA BERSATU"
"Woi cepet woi puterin lagu pandangan pertamanya Syaiful jamil"
"Itu lagunya Slank bego"
"Lah gue kira Iwan Fals"
Saat itulah Rivo melepas pegangan tangannya pada Adilla hingga cewek itu jatuh terjerembab.
"Aduh" ringisnya sambil mengusap-usap bokongnya yang terasa nyeri "sialan lo, Vo. Kurang ajar. Gak berperikemanusiaan" ucap Adilla hiperbola
Rivo hanya nyengir, ia kembali mengulurkan tangan bermaksud membatu. Namun, kepalanya keburu tertumpuk oleh penghapus yang dilempar Defa.
"Anjing" umpatnya, kemudian menatap Defa dengan perasaan dongkol "Sakit, mabi"
"Hah? Mabi?"
"Mantan Babi" ucap Rivo sambil ngakak membuat wajah Defa semakin merah.
Defa maju lalu mengambil pouch di tangan Rivo lalu berjalan kembali ke bangkunya. Rivo pun ikut berbalik, sambil sesekali mengusap kepalanya. Ia duduk di bangku lalu matanya menatap aneh kearah Gibran yang sedari tadi senyum sambil menatap ponsel.
"Bran, bokep ya?" Tanyanya jahil
Gibran menjauhkan ponselnya dari Rivo "bukan, Sat"
"Terus apa dong?"
"Yaelah Vo, Lo kayak kagak tau aja si Gibran lagi deketin si Amanda"
Rivo mengerutkan kening "hah? Amanda kelas XI IPS 1?"
Afifah mengangguk "Yupz, sobat gue"
"Loh, Anin ... "Ucapan Rivo tergantung kala matanya menangkap Anin yang kebetulan mengarah kepada mereka namun sedetik kemudian, gadis itu membuang pandangannya.
Rivo tak jadi meneruskan ucapannya. Ia kemudian diam. Meski sejujurnya hatinya masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.
< • • • >
"Karena Minggu depan ibu ada tugas keluar kota, jadi ibu akan membagi kelompok untuk membuat sebuah skema tentang karakteristik wilayah Indonesia. Dibuat menggunakan karton, dan kelompoknya masih sesuai dengan yang awal" begitu Bu Nur menyelesaikan penjelasannya, ia pun dituntun Rivo untuk keluar kelas.
Anjani menghampiri kursi Anin sambil membawa buku geografinya. "Nin, mau kerja kelompok dimana?" Tanyanya
"Eh? Terserah sih gue" ucap Anin lalu matanya melirik Gibran yang sedang mengobrol bersama dengan gerombolan cowok lainnya.
"Lia! Sini" Anjani melambaikan tangan pada Aulia yang duduk di belakang, membuat gadis itu segera berjalan menuju meja Anin.
"Kenapa?" Tanyanya
"Lo mau kerja kelompok dimana?" Tanya Anjani
Aulia terlihat berpikir sebentar "dirumah Arif gimana?" Usulnya, ia pun menengok untuk memanggil Arif.
"Rif, kerja kelompok di rumah lo aja boleh nggak?" Tanyanya yang dibalas acungan jempol oleh Arif "Sip. Aman"
Anjani mengangguk setuju "Mau kapan nih? Berarti hari Rabu kan? Masih ada waktu 5 hari sih"
KAMU SEDANG MEMBACA
Intruder
Teen Fiction[ Untuk kenangan masa muda dan kata maaf yang tak sempat diucapkan ] Bagi Gibran, menikmati masa muda adalah bagaimana kita bisa menjadikan setiap momen yang ada terasa berharga. Juga sebagai cerita yang sempat mengisi kenangan hidupnya seperti tem...
