Saat telapak kakinya menyentuh ubin keramik rumah neneknya ini, perasaan rindu yang amat sangat menghinggapi hati Anin. Sedari kecil ia berada disini dengan Dian, diajarkan menulis, membaca, berkebun, semua hal pertama Anin dapatkan karena diajarkan oleh neneknya itu. Dari neneknya lah ia bisa menjadi Anin yang sekarang.
Neneknya tak pernah meneriakinya, memakinya, atau pun memukulnya. Neneknya memperlakukan Anin dengan sangat baik.
Disini juga, ia pernah tak sengaja memukul wajah Gibran hingga hidung cowok itu berdarah, atau cowok itu yang iseng bermain ke rumahnya padahal dia hanya akan bermain game.
"Lo tuh ngapain sih kesini? Gak jelas banget tau nggak. Kalau mau main, ya dirumah lo sendiri dong. Emang lo gak punya rumah apa?" ketus Anin tapi Gibran tak menanggapi, ia tetap fokus pada gamenya.
Setelah game itu menang, Gibran menoleh kearah Anin yang membaca buku.
"Gue sekarang tau waktu lo keliatan paling cantik itu kapan" Gibran berucap sambil menatap mata Anin lurus-lurus.
"Hah?" Tanya Anin bingung, ia menaruh buku yang ia baca di meja. Memusatkan tatapannya pada Gibran dengan wajah bingungnya.
"Kalau lo lagi baca buku, cantik banget" ucapnya lalu menaruh tangan di dagu, menatap Anin terang-terangan.
Sebal mendapat tatapan yang intens itu, membuat Anin melempar bantal sofa hingga mengenai wajah Gibran.
"Emang ya, lo itu gak bisa di puji, galak banget" ucapnya nelangsa membuat Anin tertawa
Lalu Gibran bangkit, mengambil novel Anin dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Gib, ih"
"Makanya, tumbuh tuh keatas. Eh gue lupa, lo kan gak tumbuh keatas maupun kesamping"
"Sialan" maki Anin yang justru membuat Gibran bertambah gencar dengan melepas kunciran rambut Anin.
"Udah, digerai aja. Putri tidur kan cantik kalau digerai"
"Sejak kapan nama gue berubah jadi putri tidur sih?" Ucap Anin jengkel
Gibran tertawa "sejak lo pelor, nempel molor. gak boleh ada bantal dikit, oh, lo juga sering ketiduran tiba-tiba di meja kelas" muka Anin memerah, bagaimana Gibran tau itu? Apakah cowok itu baru saja mengaku jika ia sering memperhatikan Anin di kelas?
Anin kembali mengambil bantal sofa dan memukul-mukulnya pada tubuh Gibran.
"Ehhh, ini kenapa jadi pada ribut sih?" Dian yang baru saja datang dari dapur menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua anak muda itu.
"Tau nih nek, Anin galak banget. Belum jadi istri aja galaknya segini, apalagi udah, bisa-bisa Gibran dimutilasi"
"Siapa juga sih yang mau jadi istri lo? Mimpi!"
"Ya gapapa deh mimpi, yang penting di mimpi itu lo jadi istri gue"
Anin kembali melangkah ke kamarnya. Ada 5 buah poster disana, dua the Beatles, satu sheila on 7, satu one direction, satu lagi one oke rock. Semua band favoritnya.
Kembali teringat dengan Gibran, Anin mengambil earphone yang terletak di meja belajarnya. Ia kemudian memasangkannya pada telinganya dan tangannya menyentuh kursor layar sentuh ponselnya, kemudian menggulir layarnya hingga nampaklah tangannya memutar lagu Sheila on 7, yang terlewatkan.
Mungkin salahku,
Tak mencarimu
Sepenuh hati,
Maafkan aku.
< • • • >
KAMU SEDANG MEMBACA
Intruder
Teen Fiction[ Untuk kenangan masa muda dan kata maaf yang tak sempat diucapkan ] Bagi Gibran, menikmati masa muda adalah bagaimana kita bisa menjadikan setiap momen yang ada terasa berharga. Juga sebagai cerita yang sempat mengisi kenangan hidupnya seperti tem...
