Dalam sebuah sekolah menengah atas, istilah Primadona Dan Cassanova sekolah memang tak lepas dari hal itu. Dan cewek yang sering jadi incaran cowok-cowok itu ada di sini. Bernama Melani Nurlatifah, cewek cantik dengan tinggi yang semampai, dan lesung pipi yang menambah kesan manis pada dirinya.
"Mel, bagi nomer wa dong" celetuk Dimas, menggoda. Sedari tadi memang banyak sekali anak laki-laki yang datang menghampiri Melani, terutama siswa kelas X.
"Gue tuh risih tau gak sih sama anak kelas sepuluh, deh. Masa iya demennya sama yang tua?" Ucap Melani membuat Sandra terkikik.
"Ya ... Namanya juga cowok Mel, gabisa liat yang cantik dikit langsung di gebet" sahut Bella sambil cekikikan
"Eh-eh, main truth or dare yuk?" Ajak Valen membuat grup cewek mengangguk setuju.
"Ayo-ayo"
Mereka segera membentuk sebuah lingkaran. Mengesampingkan meja dan kursi yang ada di kelas.
Anin bangkit dari kerumunan "sorry, gue gak ikutan deh" ucapnya membuat semua menatapnya kecewa.
"Yah ... Kenapa sih Nin?" Ucap Amelia
"Gapapa sih. Gue may baca buku soalnya"
Setelahnya, Anin langsung menuju tempat duduknya lalu mulai melanjutkan kegiatan membacanya yang semalam terhalang sebab tugas. Anin tersenyum saat membaca bagian yang menurutnya manis itu. Tiba-tiba, bukunya diambil oleh seseorang membuat Anin terkejut.
"Gibran?" Kagetnya
"Orang pada main, lo malah asik baca ginian. Apa sih serunya? Tulisan semua lagi. Bikin pusing" cowok itu membolak-balikkan buku itu.
"Ya gue gak minta lo baca juga. Sini ah, balikin" Anin berusaha merebut buku itu tapi Gibran mengangkatnya tinggi-tinggi membuat gadis itu kesulitan untuk mengambilnya. Bukan apa-apa, tubuh Anin bisa dibilang minimalis, tingginya hanya 149 cm, wajar jika ia tak bisa mencapai tangan Gibran yang mengangkat novelnya tinggi-tinggi.
Gibran tertawa melihat raut wajah Anin yang memerah. Ia menurunkan wajahnya bertatapan dengan gadis itu.
"Lo lucu ya ternyata, kenapa ya Zafran gak suka sama lo?" Ucap cowok itu membuat raut wajah Anin tambah merah, menahan marah.
"Lo tuh ya!!"
Gibran tertawa, bahunya sampai berguncang "tapi Alhamdulillah sih Zafran nolak lo, jadinya gue bisa godain lo" setelahnya Gibran menepuk pelan kepala Anin menggunakan buku sebelum buku itu ia kembalikan.
Anin langsung melemparkan tatapan sinis "Iya, untung banget temen lo itu nolak gue" balasnya ketus, Gibran tertawa lirih.
"Udah pergi lo sana" usir Anin
Gibran kembali terkekeh geli. Tapi, ia beranjak pergi juga akhirnya. Namun bibirnya bergumam pelan "makasih, Zaf"
< • • • >
Pelajaran Matematika yang super duper menyebalkan bagi anak SMA Husni Thamrin membuat sebagian murid sibuk dengan urusannya masing-masing. Beruntung yang mengajar mereka adalah Pak Mul yang sangat baik hati. Sewaktu awal pertama mengajar, pak Mul justru bilang seperti ini "matematika itu pelajaran yang bikin pusing, jadi kalo belajar matematika ya kalian santai aja. Kalo bapak gak nanya, ya kalian gak usah jawab. Bapak juga gak akan ngasih tugas kecuali besoknya ulangan, karena di rumah kalian harus tidur dan makan, belajar itu tempatnya di sekolah" makanya, jangan heran jika anak-anak Husni Thamrin ditanya soal guru terbaik maka jawabannya adalah Pak Mul. Tanpa terkecuali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Intruder
Roman pour Adolescents[ Untuk kenangan masa muda dan kata maaf yang tak sempat diucapkan ] Bagi Gibran, menikmati masa muda adalah bagaimana kita bisa menjadikan setiap momen yang ada terasa berharga. Juga sebagai cerita yang sempat mengisi kenangan hidupnya seperti tem...
