7. Selamat Malam, Puteri.

60 7 1
                                        

Anin baru saja keluar dari kamar mandi. Tangannya bergerak mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ia menatap cermin, tiba-tiba saja raut wajah tengil Gibran tergambar di sana.

"Ih ... Gue kenapa sih?" Ia mencak-mencak sendiri. Ia menoleh kearah meja belajarnya, tampak gawai yang bergetar. Ia bergegas menuju meja dan membuka gawainya itu.

Aksario Raja Putra

Maaf nin, aku baru buka hape. Gimana, udah kelar?

Udah kok, barusan.

oh, bagus deh.

Iyaa.

Yaudah, aku tidur duluan ya. Cape banget abis kelar belajar.  Good, Night, Nin.

Night, Ja.

Anin keluar dari room chat. Ia menaruh ponselnya lalu memakai minyak telon di area leher dan perutnya. Saat selesai, ia pun beranjak ke tempat tidur. Namun, ponselnya kembali bergetar. Kali ini telepon yang masuk. Anin melihat nama yang tertera di layar.

Gibranteng Pratama is calling

Anin menimang-nimang sebelum mengangkatnya.

"Nin, kok nomer gue belom lo save sih?" Tanya Gibran

"Enggak penting"

"Jahat banget sama temen SMP juga, sini deh gue yang save"

Anin mendengus mengingat kejadian tadi. Ia pun menolak panggilan itu tanpa berpikir panjang. Tak lama, dering itu kembali terdengar. Anin yang jengkel akhirnya mengangkatnya.

"Ngapain sih? Udah jam 10 tau gak?"

Terdengar tawa dari seberang "Gapapa sih, baru kelar ngerjain Sosio nih"

"Terus? Hubungannya sama gue?"

"Lo udah kelar?"

"Udah"

"Eum ... Nin. Lo suka tempat yang kayak gimana?"

"Gak penting banget sih lo"

"Jawab dulu"

"Enggak. Udah mau gue matiin"

"Eh ... Jangan dulu. Marah mulu sih sama gue"

"Telepon itu melibatkan percakapan. Dan percakapan itu melibatkan persetujuan dari dua pihak. Kalo satu pihaknya enggak setuju, ya gak bisa lah"

Gibran kembali tertawa kali ini lebih kencang "lucu banget pake perumpamaan gitu"

"Lo mau ngapain sih sebenernya? Gue ngantuk"

"Oh ... Yaudah deh. Matiin aja"

Anin diam . Tapi telfon masih ttersembung tapi ponsel itu tetap Anin tempelkan di telinganya.

"Nin, masih disana?"

Anin berdehem pelan sebagai jawaban.

Intruder Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang