Motor Gibran berhenti di depan rumah Hafidz. Ia menggedor pintu rumah hafidz dengan kencang. Seolah kontrol dirinya tak lagi ada.
Untung saja hafidz yang membuka pintu, wajah terkejut tergambar jelas di wajah hafidz melihat penampilan Gibran yang berantakan.
"Gib, Lo ngapain ke sini ..." Kata-kata hafidz tak lagi terdengar digantikan pukulan oleh wajahnya.
Bugh bugh bugh
"Lo apa-apaan sih?!!" Marah hafidz sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah
"Sialan lo" maki Gibran
"Lo yang sialan, bangsat" marah Hafidz balik, ia melayangkan jutos kepada Gibran hingga cowok itu terhuyung ke belakang.
"Sadar jing" Hafidz mencengkram kerah kemeja Gibran "lo ke rumah gue malem-malem sambil ngamuk gini kesetanan lo?"
"Anin ... Anin pergi" ucap Gibran terbata.
Hafidz langsung melepas cengkraman itu. Ia membiarkan tubuh Gibran terhuyung lagi, setelah pukulannya yang cukup kuat.
"Lo lapor ke gue Anin pergi maksudnya apa?" Ketus hafidz
"Lo yang pergi sama Anin waktu itu, bangsat" marah Gibran
Hafidz berdecih setelahnya melemparkan tawa meremehkan "siapa yang pergi sama Anin? Gue? Gak salah lo? Bukannya lo yang gak jawab telfon dia?"
Gibran terdiam mendengar ucapan hafidz. "Maksud lo apa?"
"Gue juga gak tau Gib, Anin tiba-tiba nelfon gue minta jemput di Setu Babakan" jelas Hafidz
"Setu Babakan?" Kening Gibran mengerut mendengarnya
"Iya, pas gue dateng, dia lagi nangis di pinggir jalan kayak orang gila. Kemeja putihnya kotor, kayak abis ketumpahan sesuatu. Makanya gue kasih jaket gue. Dia bilang, dia telfon lo berkali-kali tapi nomer lo gak aktif, makanya dia suruh gue jemput" kata hafidz sambil menarik nafas pelan "keadaanya parah banget, kayak orang ketakutan, kalut, dan segala macem. Gue nanya dia kenapa dan kenapa bisa pergi sejauh itu, dia gak jawab apa-apa, dia cuma bilang 'anter gue pulang Fidz, tolong' "
Penjelasan Hafidz membuat rasa bingung Gibran bertambah. Jika begitu, Anin pergi dengan siapa waktu itu?
"Gue rasa kalau lo mau tau info lebih lanjut, lo bisa datengin Riani. Lo tau Anin paling dekat sama Riani, barangkali dia tau sesuatu" saran Hafidz membuat Gibran mengangguk meskipun kepalanya dihinggapi rasa pusing.
Hafidz berjalan mendekat, menepuk pundak Gibran "Gue tahu lo sayang sama Anin, Gib"
Gibran terhenyak mendengarnya. Tapi sedetik kemudian, ia segera berlari untuk mengambil motornya dan kembali melanjutkan perjalanan. Menuju rumah Riani.
< • • • >
Riani menatap penampilan Gibran yang berantakan. Dua kancing paling atas kemejanya terbuka. Rambutnya sudah acak-acakan. Riani menatap pandangan itu dengan tatapan ngeri.
"Mau ngapain lo ke sini? Mana kayak gembel gitu" sindir Riani
Gibran mendekat "lo tau Anin ke mana ni?"
Mata Riani membulat mendengarnya. Sedetik kemudian ia tertawa meremehkan "Oh, masih nanyain Anin? Ngapain sih? Lo kan udah bahagia dengan hidup lo yang sekarang, udah deh Bran"
"Ni, gue serius" mohon Gibran
Riani akhirnya kembali menatap Gibran "Anin pergi, ke Kalimantan"
Mata Gibran membola "Kalimantan? Kenapa sejauh itu?"
Riani terdiam, tangannya saling bertaut. Matanya mulai memerah "ada yang gak pernah lo tau tentang Anin, Bran"
KAMU SEDANG MEMBACA
Intruder
Teen Fiction[ Untuk kenangan masa muda dan kata maaf yang tak sempat diucapkan ] Bagi Gibran, menikmati masa muda adalah bagaimana kita bisa menjadikan setiap momen yang ada terasa berharga. Juga sebagai cerita yang sempat mengisi kenangan hidupnya seperti tem...
