35. Keterlambatan Pada Akhirnya

40 6 1
                                        

Rini menatap Anin yang sudah berjalan menjauhi perkara rumahnya. Kemudian ia menghela nafasnya pelan, mengapa sulit sekali rasanya untuk mereka saling jujur saat hati mereka ingin bersama? Batinnya.

Pandangannya kemudian jatuh pada paket yang berada di tangan kirinya. Entah apa isinya, Rini tidak tahu dan tidak mau membukanya. Ia akan membiarkan Gibran sendiri yang membukanya nanti.

"Anin? Bosan ya? Mau nenek telfon Gibran aja?" Tanya Rini begitu melihat Anin berdiri di hadapannya.

Anin menurunkan tubuhnya, ikut duduk bersama Rini juga Alesha yang sedang asik bermain.

"Anin titip ini aja deh nek" ia menyerahkan sebuah paket yang berada di tangannya. Berbungkus kertas kado warna putih dengan motif kotak-kotak.

Rini menerimanya "kenapa gak kamu aja yang kasih ke Gibran?"

Anin menggeleng "Anin harus buru-buru nek, mau kejar pesawat"

Mata Rini menyipit mendengarnya "ngejar pesawat? Emang kamu mau kemana?"

Anin menjawabnya dengan senyuman singkat. Lalu ia mengambil tangan Rini dan menciumnya. Setelahnya, ia menegakkan tubuhnya lalu berdri.

"Anin pamit ya, nek"

Rini buru-buru bangkit "kamu serius gak mau nunggu Gibran dulu? Nenek bisa telfon dia sekarang"

Anin kembali menggeleng "gak usah nek, maaf ya ngerepotin nenek. Anin buru-buru juga"

Rini mau tak mau akhirnya mengangguk. Meski dalam hatinya, ia ingin segera menelfon Gibran untuk pulang.

"Yaudah, Anin pamit dulu ya nek, salamin aja buat Gibran dan yang lain, Anin minta maaf juga kalau ada salah"

Rini bergerak mendekat lalu memeluk Anin. Membiarkan gadis itu merasakan hangat tubuhnya.

"Jangan lupa kabarin nenek ya?" Rini melepas pelukan itu lalu memberi Anin secarik kertas kecil berisi nomor telfonnya.

"Nenek gak pernah ganti nomer dari dulu. Jadi, kalau ada apa-apa hubungi nenek ya?"

Anin mengangguk. Setelahnya, ia melangkah, pergi meninggalkan perkarangan rumah Gibran. Rini hanya menatap itu dengan nanar, entahlah, mungkin sepertinya ini jalan terbaik. Rini pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak punya kendali untuk menahan Anin, ia juga tak bisa menelfon Gibran untuk segera kembali, karena Anin yang memintanya. Jadi sebab itu, Rini hanya bisa menghela nafas, membiarkan semesta merencanakan apa yang akan terjadi dengan seharusnya.

< • • • >

Gibran bersenandung pelan ketika langkah kakinya menginjakkan rumah. Sudah pukul sembilan malam, dari pagi ia sibuk mengurus ini itu. Hingga tak sadar waktu, tapi betapa senang hatinya saat ini.

Ketika masuk, rumah dalam keadaan sepi. Ia kemudian beranjak menuju dapur, dan menemukan Bi Darmi di sana.

"Bi, nenek ke mana?" Tanyanya

Bi Darmi menoleh "yang uti ada di kamarnya non alesha, den"

Gibran mengangguk paham "oke deh bi, makasih ya"

Baru hendak membalikkan badan suara bi Darmi kembali terdengar.

"Non Anin tadi ke sini nyari den Gibran"

Senandung Gibran berhenti sudah, ia kembali menoleh kearah bi Darmi.

"Anin? Kapan?" Tanyanya bingung

Intruder Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang