Anin melihat penampilannya sekali lagi di hadapan cermin, hari ini ia akan berkencan dengan Raja. Entah bisa disebut berkencan atau tidak, Anin tidak yakin. Sesaat kemudian, ia merasakan ponselnya bergetar.
Aksario Raja Putra :
Nin, aku udah sampe di depan gang.
Anindhita Lestari :
Oke.
Anin buru-buru keluar lalu memakai sepatunya. Sebelum keluar, ia menuju dapur untuk bertemu Dian, meminta izin.
"Nek, Anin mau keluar sebentar ya" ucapnya sedikit kencang, sebab Dian yang sedang berada di kamar mandi.
"Iya, jangan malem-malem ya pulangnya kamu" jawab suara serak itu, entah mengapa feeling Anin menjadi tidak enak.
"Nenek baik-baik aja?" Tanyanya
"Baik, kok. Ya sudah sana, berangkat saja"
"Ya udah deh, Anin berangkat ya. Nenek baik-baik di rumah. Kalo ada apa-apa telfon Anin ya" ucapnya lalu segera beranjak keluar.
Anin menghampiri Raja yang kini terlihat tampan dengan mengenakan celana levis hitam dan kaos putih dilapisi kemeja kotak-kotak.
"Ja" panggilnya membuat cowok itu menoleh dan tersenyum
"Udah siap?" Tanyanya, Anin mengangguk "Yaudah, yuk berangkat" ucapnya
Anin mengangguk lalu mengikuti Raja untuk menaiki mobil cowok itu. Sepanjang perjalanan, hanya suara shalawatan yang terdengar. Raja memang tipe yang agamis, dulu, pernah sekali Anin memberi tahu raja soal musik yang ia sukai seperti the Beatles. Saat pesan itu sampai, justru cowok itu bilang seperti ini "musik itu cuma bikin kamu kecanduan, Anin. Percaya deh, mending kamu denger lantunan Al-Qur'an" semenjak itu, apapun yang Anin dengar, ia akan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Sebab ia tahu, soal selera ia dan Raja sangat jauh seperti langit dan bumi.
"Kita mau kemana ja?" Anin bertanya melihat kearah jalanan yang tak ia kenal.
"Kan aku udah bilang ke Setu Babakan"
Anin mengangguk pelan "oh, kampung Betawi ya?" Raja berdehem pelan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam. Akhirnya tibalah mereka di kampung satu Babakan. Perjalanan yang sebenarnya agak melelahkan karena mereka hampir tersesat sebab tak ada yang tahu jalan.
"Naik perahu, mau?" Tawar Raja sewaktu mereka melewati danau.
Melihat perahu bebek-bebekan membuat Anin sedikit teringat tentang sebuah adegan di novel yang ia baca. Ia pun mengangguk semangat.
"Ayooo!!" ucapnya senang
Setelah membayar dan mendapatkan karcis, barulah mereka menaiki perahu itu.
"Duh, sayang banget ya sungainya kotor. Masyarakat enggak bisa menjaganya."
Anin membenarkan perkataan Raja. "Iya, sayang banget, kasian ikan-ikan yang hidup di dalam sungai ini"
Raja yang sedang mengendarai perahu hanya mengangguk. Namun, kemudian tangannya bergerak memegang tangan Anin. Hal itu membuat Anin terkejut. Namun ia diam saja.
"Ja" panggil gadis pelan melihat genggaman raja yang menguat
"Kenapa? Kamu gak suka aku pegang tangannya?"
Anin menggeleng "enggak, bukan itu. Cuma, gak enak aja. Gak nyaman"
Anin bisa melihat cowok itu mendengus pelan "aku cuma mau pegang tangan kamu kok"
Setelahnya, Anin memilih mengalah. Ia diam saja, meskipun rasa tidak nyaman melingkupi hatinya.
Setelah puas makan siomay, soto Betawi, es campur, kerak telor. Mereka pun memutuskan untuk pulang. Karena waktu pun sudah menunjukkan pukul 5 sore.
KAMU SEDANG MEMBACA
Intruder
Fiksi Remaja[ Untuk kenangan masa muda dan kata maaf yang tak sempat diucapkan ] Bagi Gibran, menikmati masa muda adalah bagaimana kita bisa menjadikan setiap momen yang ada terasa berharga. Juga sebagai cerita yang sempat mengisi kenangan hidupnya seperti tem...
