"Manda?" Gibran yang lebih dulu membuka suara. Amanda kemudian mengambil tempat di sebelah Anin. Membuat Anin memundurkan langkahnya sedikit.
"Kamu ngapain di sini?" Gibran bertanya
"Tadi mau ke supermarket" Amanda menunjuk supermarket yang berada tak jauh dari mereka "kamu abis ngapain?" Tanyanya lalu matanya berpaling kearah Anin yang terdiam.
"Baru balik renang, tadi diminta Syifa buat anterin Anin" Gibran menunjuk kearah Anin yang terdiam. Jadi, ia mengantar Anin karena disuruh oleh Syifa? Astaga, mengapa Anin begitu naif? Anin mengutuki dirinya sendiri.
"Oh, yaudah. Kamu anterin dia dulu aja" ucap Amanda "aku juga mau belanja"
Gibran mengangguk "Iya udah, nanti aku kesini lagi ya?"
Amanda menggeleng "Gak usah, aku aja yang kerumah kamu. Oke?"
"Oke. Aku tunggu"
Gibran kembali berbalik kearah Anin.
"Nin, ayo" ucapnya
"Gak usah deh, lo sama Amanda aja. Gue udah pesen grab juga" ucap Anin hati-hati. Dalam hati, ia kembali merutuki dirinya yang berbohong.
Gibran menaikkan sebelah alisnya "Grab? Kok lo pesen grab sih?"
"Ya, emang kenapa?" tanya Anin balik
"Ya kan gue janji buat anterin lo pulang, Anindhita" ucap Gibran.
"Gak usah, lo sama Amanda aja mendingan. Bentar lagi grab gue dateng"
"Gapapa kok Nin, mending lo balik aja sama Gibran. Takutnya nanti ujan lagi kan repot" ucap Amanda, ia juga merasa canggung entah kenapa.
"Tapi gue udah pesen grab, jadi gak usah" bantah Anin lagi
Gibran menatap Anin bingung, sampai akhirnya dia mengangguk "Oke" jawabnya "yaudah lo hati-hati. Telfon gue kalau grabnya belum dateng juga. Oke?"
Anin mengangguk.
Melihat itu, Gibran segera berbalik kearah Amanda yang menatap mereka bingung. Sementara Anin, tangannya meremas jaket ia kenakan.
< • • • >
Suhu badannya tinggi, terasa lemas, dan kakinya masih terasa kram. Anin menidurkan dirinya selama dua jam namun tetap saja, suhu badannya tidak turun.
Ia pun mengambil ponselnya dan menelfon ibunya.
"Ibu" panggilnya serak
Terdengar suara grasak-grusuk "kenapa, Anin? Maaf ya berisik, ibu masih di kantor"
Anin menelan ludahnya "oh, yaudah ibu kerja aja. Gapapa kok aku" bohongnya
"Serius? Kamu kenapa? Ibu pulang 2 jam lagi kok, nanti ibu kesana ya"
"Enggak usah! Ibu pulang kerumah aja. Besok aja kesininya, Anin cuma mau dibeliin cheesecake kok"
Ibunya tertawa pelan "oh, yaudah. Besok ibu kesana ya?
"Iya, Bu. Yaudah, Anin tidur dulu ya"
"Iya, selamat tidur"
Anin mematikan ponselnya lalu menaruhnya di nakas, ia beranjak menuju kasurnya lagi. Kepalanya mendadak diserang rasa pusing yang amat sangat. Mendadak, semuanya terasa kabur dan dalam hitungan detik, pandangannya berubah menjadi gelap.
< • • • >
"Bran, Anin kemarin lo anter balik kan?" Tanya Syifa mendekat kearah Gibran yang sedang bersama kubu cowok.
KAMU SEDANG MEMBACA
Intruder
Roman pour Adolescents[ Untuk kenangan masa muda dan kata maaf yang tak sempat diucapkan ] Bagi Gibran, menikmati masa muda adalah bagaimana kita bisa menjadikan setiap momen yang ada terasa berharga. Juga sebagai cerita yang sempat mengisi kenangan hidupnya seperti tem...
