Suara elektrokardiograf itu menambah sesak gadis yang kini meminum secangkir kopi hitam. Tidak, ia tidak menangis. Baginya sedari kecil, menangis itu hanya untuk manusia-manusia lemah -ibunya bilang begitu.
Anin kembali memandang kearah neneknya yang terbujur kaku. Anin menghela nafas berat. Sudah terhitung dua hari neneknya tidak sadarkan diri. Ia juga bolos sekolah, menonaktifkan handphone-nya. Ia tak perduli lagi. Toh, lagipula, lusa adalah pengambilan rapor. Sebentar lagi libur. Jadi, ia tak usah pusing memikirkan sekolahnya. Ia juga sedang menghindari dua orang. Gibran juga Raja.
"Anin" panggilan dari belakang membuatnya menoleh dan menemukan ibunya disana dengan pakaian kerjanya. Setelah ibunya masuk, diikuti oleh seorang pria yang Anin yakini adalah ayahnya.
"Gimana kabar nenek?"
"Kalau ibu punya mata, ibu bisa lihat sendiri" ketusnya
Anisa menghela nafas pelan, kemudian duduk disamping anak gadisnya itu. Ia mengelus pelan surai Anin.
"Kamu kenapa nggak sekolah?" Tanya Anisa, Anin balas menatapnya sengit
"Ibu masih peduli sama sekolahku?"
"Anin ... Gak ada satu pun orang tua yang gak peduli sama anaknya, sayang. Kalau kamu terus jagain nenek, sampai lupa makan, lupa mandi, bahkan kamu lupa shalat. Yang ada, Allah gak mau ngabulin doa kamu" mendengar ucapan lembut dari Anisa membuat Anin tersentak pelan. Shalat, kapan terakhir ia melakukannya? Sepertinya Dzuhur sebelum ia pergi bersama raja. Itu sudah 3 hari yang lalu.
Buru-buru ia bangkit dari kursi. Hal itu membuat Anisa ikut bangkit "yuk, shalat bareng ibu" ajaknya membuat Anin mengangguk.
< • • • >
"Bran, Anin gak masuk kenapa? Gue ditanyain nih sama Bu Mur, soalnya dia juga gak titip surat ataupun nelfon. Nomernya gak aktif" jelas Syifa
Gibran yang sedang bermain game di ponselnya menoleh "gue gak tahu" jawabnya lugas
"Yaudah, coba nanti pulang sekolah lo kerumah dia kek. Tanyain. Takutnya kenapa-kenapa lagi" ucap Syifa
Gibran menghentikan permainannya "suruh aja si Hafidz" tunjuknya pada Hafidz yang kini menatapnya bingung
Syifa mengerutkan kening "kok jadi Hafidz sih?"
Tanpa menjawab apa-apa, Gibran bangkit kemudian berjalan keluar kelas membawa tasnya. Sepertinya, ia akan bolos hari ini.
Sementara itu, Anin menangis menatap dokter yang sedang menangani Dian. Tadi, sewaktu mereka pergi shalat, kinerja jantung Dian menurun drastis. Hal itu membuat Fahri segera memanggil dokter untuk memeriksa mertuanya.
Anisa mendekap Anin erat-erat. Menyalirkan kekuatan bagi putrinya. Setelah beberapa kali mencoba, dokter itu menggeleng pasrah. Hal itu membuat Anin menjerit dan memeluk neneknya erat-erat.
"ENGGA! NENEK MASIH HIDUP! ENGGA! ANIN GAK MAU DITINGGAL SAMA NENEK" Jeritnya lalu menatap kearah dokter dan suster yang juga balas menatapnya prihatin
"Maaf ya dek" ucap dokter itu ia menatap prihatin kearah Anin yang masih saja berteriak histeris
"Dokter tolong dokter, selamatkan nenek saya" lirihnya
Anisa pun melangkah maju dan mendekap putrinya itu. "Udah sayang, udah. Ikhlas ya?"
< • • • >
Gibran menatap heran kearah Andi yang kini duduk dengan memakai baju hitam-hitam, disampingnya ada Aldi yang juga memakai kostum yang sama.
"Tumben lo pada pake baju item-item, mau nyelawat lo?" Tanyanya sambil melewati kedua abangnya itu
KAMU SEDANG MEMBACA
Intruder
Roman pour Adolescents[ Untuk kenangan masa muda dan kata maaf yang tak sempat diucapkan ] Bagi Gibran, menikmati masa muda adalah bagaimana kita bisa menjadikan setiap momen yang ada terasa berharga. Juga sebagai cerita yang sempat mengisi kenangan hidupnya seperti tem...
