19. Perjanjian dan Sekuntum Mawar Kecil

35 6 0
                                        

Anin bangkit sewaktu menyadari pintunya diketuk. Ia melirik kearah jam. Masih pukul tujuh pagi. Siapa yang bertamu sepagi ini? Tidak mungkin ibunya karena ibunya sibuk di hari kerja.

Ia tak sempat mencuci muka, masih dengan kaus oblong berwarna putih dan celana pendek selutut, ia berjalan keluar.

"Iya, bentar" sahutnya ketika ketukan di luar terdengar semakin kencang

"Ada apa ..." Pertanyaannya tergantung begitu melihat sosok di balik pintu.

"Pagi, Anindhita Lestari" ucap cowok itu dengan senyuman di bibir

"Gibran? Ngapain?"tanyanya heran. Sebab, sekolah sudah libur.

"Mau ajak lo jalan-jalan supaya gak sedih terus" ucap cowok itu sambil memperhatikan penampilan Anin "cantik" gumamnya pelan, namun masih terdengar di telinga Anin. Hal itu membuat pipinya memerah.

"Gue lagi mau me time, tau" ucapnya kesal

"Kenapa harus me time kalau bisa together time?" Gibran berucap sambil menarik turunkan alisnya membuat Anin mencebik

"Udah deh, sana pulang! Gue masih mau lanjut tidur" usirnya

Bukannya pergi, Gibran justru mendorong pelan Anin hingga ia ikut masuk ke dalam rumah.

"Udah sana, mandi! Gak terima penolakan" titahnya

Anin menatapnya kesal "gue rasa lo gak tuli deh, gue kan bilang gak mau!"

Gibran menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan Anin yang hanya sebahunya. Ia mengelus pelan rambut Anin. "Anindhita Lestari ... taurus yang keras kepala. Gini deh, anggap aja ini hadiah buat gue yang berhasil dapet rangking 1, gimana?" Ucapnya pelan sambil terus mengelus rambut Anin. "Kan kemarin udah janji"

Merasakan sentuhan Gibran di kepalanya tidak baik bagi kesehatan jantungnya, Anin segera menepis tangan cowok itu lalu bergerak mundur. Memberi jarak.

"Kan gue gak bilang setuju" desisnya

Gibran tertawa kecil "udah sana masuk. Gue tunggu"

Anin mencebikkan bibirnya kesal "Yaudah. Lo tunggu di luar aja tapi"

Gibran yang hendak duduk kembali berdiri, ia mengangguk "oke" setelahnya, ia beranjak keluar. Tetapi sebelum itu, ia kembali menengok "jangan lama-lama ya, nanti kasian kulit gue yang kayak bayi ini digigit nyamuk"

Anin tersenyum kecil lalu segera beranjak menuju kamar mandi.

< • • • >

"Lo mau bawa gue kemana sih?" Tanya Anin

Gibran menolehkan kepala "apaan? Lo ngomong gak kedengaran" teriaknya

"Lo mau bawa gue kemana?" Balas Anin dengan suara yang lebih kencang

"Ohh" cowok itu mengangguk "nanti juga lo tau. Dijamin gak akan kecewa deh"

Mereka tiba tiga puluh menit kemudian. Anin turun dan membaca tulisan yang tertera di plang yang terpajang disana "Taman Suropati"

"Helm, Nin" ucap Gibran membuat Anin menoleh dan mencoba melepaskan helm di kepalanya.

"Kok susah sih?" Ucapnya saat perakat di helm itu tak mau lepas. Gibran pun mengulurkan tangan dan membantunya hingga helm tersebut bisa lepas.

"Pelan-pelan makanya" ucap Gibran saat helm tersebut terlepas. Anin merasakan wajahnya merah.

Anin berdehem pelan untuk memecah kecanggungan situasi.

Ia pun berjalan masuk ke dalam taman. Lalu berlari kecil menghampiri sebuah air mancur yang ada di sana.

Intruder Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang