I Hope you enjoy this story (•ө•)♡
Happy reading:)
-
-
-
Setelah hampir 3 jam berada diruang diskusi, mereka --Devano, Gaza, Ardy, Saga, dan Andre-- keluar dari ruangan tersebut. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun mereka belum juga merasa ngantuk. Mereka masih sibuk memikirkan keselamatan Dara yang sepertinya kembali terancam. Kali ini mereka benar-benar harus melindungi Dara. Mereka tak ingin lengah lagi seperti sebelumnya.
Di kamar Dara, ia masih belum bisa memejamkan matanya. Ia masih memikirkan keadaan Ajil saat ini. Ia takut terjadi sesuatu pada Ajil. Sudah puluhan kali Dara menelpon Ajil namun nomornya tidak aktif.
Akhirnya ia memilih untuk keluar kamar. Ia berjalan menuruni tangga yang langsung terhubung ke ruang tamu. Saat tengah malam begini rumah Dara baru terasa luas nya. Suasana yang sunyi juga udara dingin yang disebabkan oleh pendingin ruangan. Dara jadi merinding sendiri, apalagi ini pertama kalinya ia keluar kamar di tengah malam dan duduk diruang tamu. Namun rasa khawatirnya pada Ajil mengalahkan rasa takutnya.
Dara duduk di sofa ruang tamu, memakai earphone nya dan menyetel musik agar tidak terlalu merasa sendirian. Dara duduk sambil memeluk lututnya. Matanya terfokus pada layar ponselnya. Berharap muncul nama Ajil yang menelponnya.
1 jam sudah Dara menunggu Ajil namun nihil. Ajil sama sekali tidak menghubunginya apalagi pulang ke rumah.
Karena mendengarkan musik dengan volume kencang membuat Dara tak menyadari kehadiran Andre di belakangnya. Lagi-lagi Dara dikejutkan oleh Andre. Andre menepuk bahu Dara, membuat Dara refleks berteriak karena kaget. Andre langsung membekap mulut Dara. Beruntung rumahnya ini sangat luas jadi tidak menggangu tidur yang lain.
"Sssttt, ini Abang, Andre," ucap Andre pelan
Saat Dara sudah mulai tenang, Andre melepaskan tangannya dari mulut Dara lalu duduk di samping Dara.
"Astagfirullah Abang!!! Kebiasaan banget sih bikin aku kaget! Untung aku gak punya riwayat penyakit jantung!!" omel Dara
Dara benar-benar kesal pada Andre. Tidak bisakah kakaknya itu untuk tidak mengejutkan dirinya. Ia jadi teringat malam dimana Andre masuk ke kamarnya tanpa permisi. Benar-benar menyebalkan.
"Makanya lepas earphone nya biar bisa denger abangnya manggil!" ucap Andre menarik earphone di telinga Dara
"Abang udah 5 kali manggil kamu, kamu yang gak nyaut-nyaut. Abang kira kamu kesambet!" lanjutnya malas
"Eh?" Dara nampak terkejut "jadi Abang udah manggil aku?" tanya Dara memastikan
Andre hanya mengangguk pelan. Ia menyelimuti tubuh Dara dengan selimut yang sudah ia bawa.
"Makasih bang," ucap Dara tersenyum
"Ngapain disini?" tanya Andre datar
"Aku khawatir sama bang Ajil. Dia gak ada kabar, aku takut dia kenapa-kenapa," jawab Dara menunduk
"Ck, nyusahin!" Ketus Andre
"Ayo ke kamar abang, kita lacak keberadaan nya si Ajil," ajak Andre
Andre langsung bangkit untuk kembali ke kamarnya. Dara hanya mengikuti saja dari belakang. Diam-diam Dara merasa senang karena akan melihat isi kamar Andre untuk pertama kalinya.
Keluar dari lift, mereka berdua langsung sampai di depan kamar Andre. Ternyata benar apa yang dibilang Ajil tentang sistem keamanan kamar Andre. Saat di depan pintu kamar, ada cahaya merah yang tiba-tiba muncul lalu seperti men-scan tubuh Andre. Tak sampai 3 detik, pintu kamar Andre bisa terbuka. Hal yang bisa dilakukan Dara saat ini hanyalah "menganga" tak percaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Special Girl
Ficção Adolescente[СοмρӀеτе...] Bagaimana rasanya tinggal satu rumah dengan banyak lelaki tampan yang menjadi idaman semua gadis? Pasti bahagia, bukan? Inilah kisah tentang seorang gadis Heterochromia yang tinggal bersama 16 kakak laki-lakinya. Menjadi satu-satunya a...
