"Kisah di balik kebencian Saga juga keraguan Ruby tentang adanya cinta yang tulus."
90 vote untuk fast up, oke👍🏻😏
I hope you enjoy this story (•ө•)♡
Happy reading:)
π√π√π√π
Masih ingat saat Chintia kedatangan tamu ketika dirinya sedang menikmati cokelat panas di balkon apartemen?
Mari kita kembali pada momen itu. Lebih tepatnya, seminggu sebelum pertemuan bisnis di selenggarakan. Chintia yang sudah bersiap untuk pergi tiba-tiba kedatangan tamu tak terduga.
"Oh, hai Ar! Kamu tau aku disini?" sapa Chintia ramah saat melihat Saga yang berdiri di depan pintu
Seperti biasa, tak ada senyum ramah atau tatapan hangat dari Saga. Chintia tak mengerti, mengapa Saga selalu memberikan tatapan dingin itu padanya. Bahkan sejak pertama kali mereka bertemu.
"Sebenernya apa yang lo mau dari keluarga gue, Ru?" tanya Saga langsung
Chintia mengernyit bingung. Tak mengerti kemana arah pembicaraan Saga saat ini.
"Apa maksudmu Ar? Aku tak mengerti,"
"Wow Ru! Wow! Kemampuan lo dalam mencuri informasi emang yang terbaik!" puji Saga dengan nada sinis
Chintia semakin memundurkan langkahnya saat Saga justru semakin memblok jalan nya. Chintia tidak panik, hanya saja berdekatan dengan Saga membuat kerja jantung nya bertambah dua kali lipat. Kau mengerti?
"Seniat ini lo mau ngancurin keluarga gue? Gila Ru! You are so crazy!" bentak Saga di akhir kalimat nya
Chintia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan Saga. Ia tersenyum miring, tatapan nya tetap tenang.
"So, what do you think about me, Ar?"
"Yeah, harus gue akui, you are a good spy, assassin!"
Chintia terkekeh mendengar panggilan itu. Rasanya sudah lama sekali Saga tidak memanggil nya dengan sebutan itu. Ia tak menyangka, ternyata sampai saat ini pun Saga masih tetap terjebak dalam masa lalu nya.
"Kau sungguh akan melabeli diriku dengan nama itu sampai aku mati? Ternyata waktu tak bisa menyembuhkan luka mu ya," kekeh Chintia
"A murderer will remain a murderer forever! And you know that, Ru!" tegas Saga
"So, what do you want? Do you want me to die like her? Huh? Do you want to kill me like I killed her? Do it now Ar! Do it now!!" tantang Chintia tepat di depan wajah Saga
Saga mengeraskan rahang nya menahan amarah. Sedangkan Chintia masih tetap terlihat tenang di posisinya. Ia sudah sangat muak dengan semua tudingan Saga terhadap dirinya. Bahkan ia mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tidak mau lagi di salah kan oleh Saga seperti ini. Keduanya sama-sama diam untuk beberapa saat.
"Kamu pikir hanya kamu yang merasa kehilangan Luby? Aku lebih merasa kehilangan di bandingkan kamu Ar! You never know how depressed I was when I remembered that incident. She is my twin! Tidak satu pun dari kita semua yang menginginkan Luby mati! Berhenti menganggap ku sebagai pembunuh. Aku tidak mungkin membunuh nya! And you know that so well, Ar!" ucap Chintia marah
KAMU SEDANG MEMBACA
A Special Girl
Teen Fiction[СοмρӀеτе...] Bagaimana rasanya tinggal satu rumah dengan banyak lelaki tampan yang menjadi idaman semua gadis? Pasti bahagia, bukan? Inilah kisah tentang seorang gadis Heterochromia yang tinggal bersama 16 kakak laki-lakinya. Menjadi satu-satunya a...
