"Aku harus bagaimana?" Paul berbisik di telinga Ally saat mereka meringkuk di sofa dalam posisi sponing malam itu.
"Kembali ke New York dan menikahlah dengan Jane."
"Aku mencintaimu Ally Wooden."
"Jalan takdir kita berbeda Paul."
"Dan kau akan menerima Gail begitu saja?" Protes Paul.
"Bukan urusanmu."
"Tapi saat ini kau berada di dalam pelukanku, kau sendiri yang mengatakan bahwa aku ada di dalam hatimu."
"Persetan dengan hatiku, itu perasaanku, itu juga hatiku, bukan urusan orang lain."
"Tapi itu menjadi urusanku, karena orang yang ada di dalam hatimu adalah aku." Paul mengetatkan pelukannya di pinggang Ally, membuat gadis itu menggeliat, menghela nafas. Rasanya udara semakin tipis di ruang tamu itu.
"Pulanglah sebelum Robin kemari dan mematahkan hidungmu untuk kedua kalinya." Ally berusaha membebaskan diri dari Paul tapi pria itu menolak melepaskannya.
"Jangan lagi berhubungan dengan brandalan itu, kau membuatku gila." Desis Paul kesal, entah mengapa mengetahui pria itu kesal karena kebohongannya soal Robin membuat Ally tersenyum. Paul tidak melihatnya karena posisi Ally membelakangi Paul meski pria itu memeluknya ketat dari belakang.
"Kau senang bisa membohongiku dan membuatku kesal, hah?!" Paul menarik kepalanya agar dia bisa melihat wajah Ally meski dari belakang, dan Ally tampak sekali lagi tersenyum.
"Kau memang menjengkelkan." Gerutu Paul, dan entah mengapa pria itu mencubit pinggang Ally lembut, membuat wanita itu terkikik geli, dan Paul justru menggelitik lagi dan lagi.
"Paul,...hentikan." Ally memegang pergelangan tangan Paul, meski pria itu sanggup melawan tapi, dia memilih mendengarkan Ally.
"Kau tahu ini salah." Ally menengadan menatap Paul, karena posisi mereka sudah berubah, saat ini Paul menindih tubuh Ally, menghimpitnya antara dirinya dan sofa.
Paul menghela nafas dalam. "Aku akan mengatakan semuanya pada Jane besok pagi." Paul menarik diri dan duduk di sofa, dia tampak duduk meremas wajahnya. Ally menarik diri dan duduk di sisi Paul.
"Jangan membuatku mengutuk diriku seumur hidup karena kesalahan yang kita perbuat Paul Walton." Ally berkata pelan.
"Kau berusaha membebaskan dirimu sendiri sementara membuatku tersiksa dalam pernikahanku dengan Jane, kau egois Ally Wooden." Protes Paul dengan tatapan kesal.
Ally terdiam beberapa saat, kemduian memutar tubuhnya menghadap Paul, menghadapi tatapan mata abu-abu yang terlihat frustasi itu.
"Paul Walton,..." Ally meraih tangan Paul dan meremasnya. "Jane adalah gadis yang baik, dia juga sangat cantik, cerdas dan periang. Kehidupan pernikahan kalian akan bahagia, Jane bisa menghidupkan suasana di manapun dia berada."
"Semua itu percuama saat aku tidak mencintainya." Paul menarik tangannya dengan kasar. Dia tampak sangat kekanakan saat ini.
Ally menelan ludah. "Kau mencintai ibumu bukan?" Tanya Ally.
"Jangan memojokkanku dengan membawa-bawa ibuku, Ally."
"Kau tahu kondisinya tidak akan cukup baik untuk mendengar berita buruk, jadi pertimbangkan itu dan pulanglah ke hotel tempatmu menginap." Ally mengambil blazer Paul lalu meletakannya tepat di sisi Paul duduk.
Paul memegangi kepalanya dengan satu tangan.
"Masa untuk kita sudah berlalu, dan sekarang saatnya kau memiliki kehidupanmu Paul, kau akan menikah dan punya banyak anak."
"Jangan mengkotbahiku soal pernikahan Ally Wooden, pikirkan dirimu sendiri!"
"Aku akan memikirkannya, setelah kau melakukan bagianmu."
"Kau ingin aku menikahi wanita yang tidak kucintai, dan mengatakan kau akan memikirkan hidupmu setelah itu, sementara kau tahu, satu-satunya wanita yang kucintai adalah dirimu?!" Tatapan Paul mengeras pada Ally.
"Aku tahu, kita bisa menyimpan perasan itu dalam-dalam, untuk diri kita sendiri. Terlalu banyak perasaan yang harus di jaga Paul, kau tidak bisa egois."
"Sementara kau mengatakan semua itu padaku, kau sedang egois, Ally."
"Oh,..." Ally mengerang kesal. "Kita tidak akan pernah sepakat untuk ini, tapi kumohon jangan membuatku membenci diriku sendiri dengan merusak kebahagiaan Jane karena keegoisanku, aku juga tidak ingin melukai hati ibumu, atau bahkan memperburuk kondisinya." Omel Ally.
Rahang Paul mengeras, dia menoleh pada Ally. "Apakah ini yang benar-benar kau inginkan? Melihatku menikahi Jane?" Alis Paul bertaut dalam, menuntut jawaban jujur dari Ally.
Ally menelan ludah, dengan menahan seluruh perasaannya yang hancur, wanita itu melempar senyum palsu pada Paul. "Ya." Jawabnya lirih.
"Kau benar-benar kejam Ally, setelah dua tahun kau tetap adalah wanita yang kejam." Paul mengambil blazer miliknya dan meninggalkan rumah itu. Tampak Robin berdiri di sisi mobilnya, tapi Paul tidak menghiraukannya.
"Jangan menyentuh wanita itu, atau kau akan membusuk di penjara." Ancam Paul saat Robin berusaha menghalani jalannya.
"Apa yang kau lakukan pada Ally?!" Robin tampak tak bisa menerima kehadiran Paul di rumah Ally sementara Robin tahu betul bibi Esme sedang pergi bersama ibunya untuk menginap di rumah teman mereka.
"Minggir brengsek!" Paul yang terbawa amarah akibat percakapannya dengan Ally mendadak melemparkan bogem mentah ke wajah Robin, membuat pria itu terhuyung dan jatuh ke tanah dengan debam keras.
Tentu saja bukan Robin jika tidak suka mencari keributan, dia bangkit dan segera membalas pukulan Paul hingga pria itu terhuyung menabrak bamper mobil.
Ally yang tadinya memegangi kepala di dalam rumah, karena dia merasa kerumitan ini hampir membuat kepalanya pecah akhirnya berlari dan membuka pintu untuk melihat keributan apa yang terjadi.
Ternyata duel antara Paul Walton dan Robin Parker terulang kembali. Spontan Ally mengambil sapu dan berlari keluar, dia memukul Robin di punggungnya karena saat itu Robin menang telak dengan menunggangi Paul dan menghajarnya habis-habisan.
"Hentikan!" Teriak Ally, Robin tersadar jika Ally berdiri dibelakangnya. Dia bangkit dan segera meludah ke tanah, bibirnya robek terkena pukulan pertama dari Paul, sementara Paul memilih tetap diam di posisinya terkapar di tanah.
Wajahnya kembali babak belur karena ulah Robin, ini adalah kali kedua Paul Walton berkelahi di depan rumah Ally, dengan orang yang sama.
"Apa masalahmu, mengapa selalu membuat keributan?!" Teriak Ally pada Robin dengan nada kesal sementara dia berusaha menolong Paul untuk bangkit.
Robin tampak sangat kesal, tapi dia tidak menjawab, dia pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
"Dan kau, mengapa kau selalu meladeni brandalan itu kalau kau tahu kau akan terluka?!" Ujar Ally kesal, sambil menatap Paul.
"Kau kasihan padaku?" Tanya Paul, saat dia berhasil duduk sementara Ally masih memegangi lengannya.
"Hentikan omong kosongmu." Ally menghempaskan lengan Paul dengan kesal, dia tampak membuang muka.
"Luka ini belum seberapa Ally Wooden." Bisik Paul, "Bohong jika kau bisa melihatku tersiksa dalam pernikahanku dengan Jane." Paul tersenyum, tapi kemudian menyeringai kesakitan karena ujung bibirnya kembali robek karena pukulan Robin, dia meraih wajah Ally dan membuat wanita itu menatapnya.
"Paul, kumohon hentikan." Ally tertunduk.
"Aku bisa melawan dunia asal kau mau Ally, katakan ya dan aku akan membereskan semua masalah ini."
"Tidak, jawabannya tetap tidak." Ally bangkit dan menatap pria itu dari tempatnya berdiri dengan tangan terlipat di dada.
"Sekarang pergilah." Ujarnya sambil berbalik meninggalkan Paul sendiri, meski sepanjang langkahnya masuk kerumah air mata Ally berjatuhan, tapi dia tetap tidak ingin Paul menghancurkan banyak hati hanya karena keegoisan mereka berdua, Paul dan Ally.
___________________
Jangan Lupa Vote dan Komentarnya ya
KAMU SEDANG MEMBACA
Ally Wooden
RomanceKisah cinta seorang gadis biasa bernama Ally Wooden (tinggal di North Carolina) yang bahkan sejak kecil harus mengalami ketidakberuntungan karena ditinggalkan pergi untuk selamanya oleh sang ibu di usia delapan tahun dan ayahnya pergi untuk menikahi...
