Ally Wooden - Part 35

751 89 8
                                        



______________________

Gail tampak frustasi saat mengetahui Ally tidak ada di kamarnya. Dia bahakan meminta Ivanca pulang karena harus mencari keberadaan Ally. Gadis malang itu tidak memiliki apapun dan siapapun di kota ini selain dirinya.

"Pulanglah, aku akan menyelesaikan semuanya di kantor besok." Ujar Gail panik.

"Sir, gadis itu sudah dewasa, dia pasti pergi karena pilihannya." Ivanca mencoba menenangkan Gail, sebenarnya dalam hati dia senang karna Ally cukup mudah dibodohi dan pergi begitu saja, sementara itu bagi Ally, kepergiannya bukan karena dia bodoh, tapi dia cukup pintar untuk membuat semuanya tidak menjadi semakin rumit.

Gail berusaha menghubungi kantor polisi tapi mereka hanya meminta data dan akan melakukan proses pencarian setelah duapuluh empat jam dan gadis itu belum kembali juga. Gail semakin frustasi, dia menghubungi beberapa orangnya untuk membantu mencari Ally dengan memberikan foto gadis itu melalui pesan singkat.

Sementara itu Ivanca bersikukuh untuk bersama Gail mencari Ally, dia justru sedang memastikan bahwa gadis itu tidak pernah ditemukan oleh Gail.

***

Paul membawa Ally ke 432. Park Avenue, pria ini tinggal di salah satu hunian termahal di pusat kota New York dengan harga mencapai 1,8T. Tentu saja semua fasilitas terbaik ada di apartmentnya itu. Ini merupakan salah satu tempat yang dia miliki selain beberapa aset berupa rumah mewah lainnya.


"Masuklah." Paul menggandeng tangan Ally masuk ke penthouse miliknya. Gadis itu melongo melihat segala perabot simple yang hangat, modern, dan berkelas itu. Tentu saja semuanya di design oleh designer interior kenamaan yang memiliki selera tinggi. Karpet tebal, sofa mewah dengan seater  yang jumlahnya cukup banyak.

"Duduklah." Ujar Paul, dia tampak berjalan ke sebuah mini bar dan mengambil dua gelas wine. Menyodorkan satu untuk Ally.

"Katakan padaku, bagaimana kau bisa berada di New York?" Paul menatap Ally. "Kau berubah pikiran dan mencariku?" Paul menatap Ally dengan saksama, berusaha mengukur ekspresi gadis itu.

Ally menghela nafas dalam, alih-alih menjawab dia hanya menggeleng.

"Lalu?" Alis Paul bertaut dalam melihat Ally menggeleng.

"Bisakah memberitahuku tempat tinggal dengan biaya murah di sekitar sini, juga pekerjaan yang mungkin cocok denganku?" Tanya Ally kemudian.

Paul tersenyum lebar.  "Kau bisa tinggal di tempat ini semaumu." Ujar Pria itu.

"Mr. Walton, aku sedang bersungguh-sungguh, tolong jawab dengan serius."

"Mss. Wooden, kau tampak kebingungan, dan itu juga membuatku bingung asal kau tahu." Paul menggoyangkan gelasnya, membuat wine di dalamnya bergerak mengelilingi gelas. "Sesaat tadi kau menangis di pelukanku, kemudian mendorongku menjauh, aku bahkan harus membujukmu susah payah untuk ikut denganku pada akhrinya. Dan sekarang saat aku ingin tahu alasanmu berada di tempat ini, kau justru ingin lari lagi. Apa masalahmu?" Tanya Paul dengan tatapan tajam pada Ally.

"Tidak ada." Geleng Ally.

"Ally Wooden, berhentilah berbohong padaku." Paul meletakkan gelasnya, kemduian meraih tangan Ally.

Gadis itu menelan ludah. "Bibiku menjadi korban penyerangan hingga meninggal, belum diketahui siapa pelakunya." Ujar Ally dengan suara bergetar, pada akhirnya dia harus jujur pada Paul, mungkin dia bisa jadi orang yang tepat untuk membagi semua rasa ketakutannya.

Alis Paul bertaut dalam. "Kapan kejadiannya?"

"Seminggu yang lalu."

"Shit!" Umpat Paul. "Bagaimana itu mungkin terjadi?"

"Seseorang masuk ke rumah  itu dengan cara mencongkel pintu dan membunuh bibiku." Air mata Ally berjatuhan mengenang wanita itu.

"Polisi sudah menyelidiki kasus ini?" Tanya Paul dan Ally mengangguk. Paul beringsut mendekat, sekali lagi dia mengijinkan Ally menangis di pelukannya.

__________________________

Pemanasan dulu yahhhhhh



Ally WoodenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang